Balas Dendam yang Manusiawi

IKLAN

Oleh Darwin Sitompul

“Empat belas tahun  Edmond Dantes yang mengubah nama menjadi “Count of Monte Cristo” di penjara dan lalu berhasil melarikan diri dengan cara yang tak biasa. Namun dia tak membalas dendam kepada orang-orang yang menfitnahnya dengan cara yang brutal tapi dengan cara yang manusiawi. Sebuah novel yang mengajarkan kita tentang pengkhianatan, kecurangan, keserakahan, dan nafsu berkuasa.”

Sebuah lagi karya klasik dunia diterjemahkan dan diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, yakni novel “The Count of Monte Cristo”, karya Alexandre Dumas, 2019, 776 halaman. Novel ini pertama sekali diterbitkan tahun 1844 dan sudah difilemkan.

Ini adalah kisah tentang Edmond Dantes, seorang pelaut muda yang gagah dan sangat terampil, yang akan segera diangkat menjadi kapten. Namun, sebelum mulai bertugas, dia melangsungkan pertunanganan dengan seorang gadis cantik dari Catalunya, bernama Mercedes. Dan, ketika sedang pesta itulah dia ditangkap dengan tuduhan menjadi Bonapartis, pendukung Napoleon Bonaparte yang saat itu sedang menjalani pembuangan di pulau Elba.

Tuduhan itu hanya fitnah dari orang-orang yang hasad dan dengki, dan tanpa pengadilan dia dimasukkan ke penjara paling kejam di masa itu, penjara bawah tanah di Chateu d ‘If oleh wakil jaksa yang punya kepentingan yang harus dilindunginya. Di penjara itu, ia hampir putus asa, ingin bunuh diri karena beratnya penderitaan. Untunglah dia bertemu dengan seorang pendeta dari Italia yang juga dipenjarakan di tempat yang sama di lain sel. Sang pendeta berusaha melarikan diri dengan menggali terowongan dari selnya. Sayangnya setelah dua tahun menggali terowongan itu, ternyata hanya menghubungkan selnya dengan sel Edmond Dantes, bukan ke dinding penjara.

Sang pendeta menasihatinya, menyadarkannya bahwa “… kebencian manusialah, dan bukan hukuman Tuhan, yang menjebloskannya ke jurang gelap …” (hlm. 110). Pendeta mengajarkannya untuk berdoa, karena “… doa adalah bahasa halus kita saat berkomunikasi dengan Tuhan” (hlm.110). Lalu mereka mencoba melarikan diri bersama-sama dengan melanjutkan penggalian terowongan.

Empat belas tahun Edmond Dantes dalam penjara dengan penuh penderitaan, sampai dia berhasil melarikan diri dengan cara yang di luar rencana semula.

Setelah berhasil melarikan diri, dia mulai melakukan pembalasan dendam. Dengan perencanaan yang sangat matang dan rinci, satu per satu orang-orang yang bersekongkol memenjarakannya, yang pada saat itu telah nenjadi kaya raya bahkan memperoleh kedudukan tinggi dan gelar kebangsawanan, dikejarnya. Sang tunangan sudah dikawini oleh orang yang memfitnahnya. Ayahnya meninggal karena kelaparan, dan pemilik kapal yang akan mengangkatnya mengalami kebangkrutan.

Namun, Edmond Dantes, yang kemudian mengganti namanya menjadi Count of Monte Cristo, menggunakan nama pulau karang tempat dia menemukan harta karun yang diwariskan sang pendeta yang akhirnya meninggal di penjara, juga menolong orang-orang yang menjadi temannya. Menolong orang-orang baik yang jujur dan ikhlas.

Dengan kekayaannya, kecerdasan, dan kesabarannya, para musuhnya dihancurkannya. Bukan dengan cara yang brutal atau kasar, bahkan bukan dengan membunuh mereka, tetapi dengan cara yang sangat berkelas, namun telak.

Novel ini penuh dengan cerita tentang pengkhianatan, kecurangan, keserakahan, dan nafsu berkuasa. Buku ini juga bertutur tentang cinta, kasih sayang, kejujuran, kesetiakawanan, kegigihan, dan kekesatriaan. Semua diceritakan dengan bahasa yang enak, mudah dimengerti dengan alur cerita yang hampir-hampir kronologis. Buku ini juga penuh dengan kisah-kisah sejarah, tetutama Perancis, Spanyol, dan Yunani. Sebuah bacaan yang sangat kaya informasi dan nilai. Saya kutipkan satu, “Ada tradisi Arab yang menyentuh perasaan, Count,” kata Mercedes kemudian, memandang Monte Cristo dengan sorot memohon, “yang mengatakan bahwa orang-orang yang berbagi roti dan garam di bawah atap yang sama akan menjadi sahabat abadi.” (hlm. 479).

Apa yang terjadi di abad ke-19 itu, tetap berulang hingga masa kini. Banyak pelajaran yang bisa kita petik dengan membacanya.

Bagaimana Edmond bisa berhasil menumpas musuh-musuhnya itu? Resepnya sederhana, namun berat: “Tunggu dan berharaplah!” (hlm. 771-772).

Kita harus mengacungkan jempol bagi usaha kelompok Kompas Gramedia yang menerjemahkan dan menerbitkan karya-karya masterpiece klasik ini.

Medan, 30 Oktober 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here