Kisah 17 Aktifis Perempuan “Terombang-ambing” di Lautan Perairan Belawan

(Sebagaimana diceritakan Elvi Hadriani kepada Harun AR dari Rentaknews.com)

Hari itu Kamis, tanggal 28 November 2019, kami berencana mau melakukan survei lokasi untuk Wisata Religi ke Pantai Camar yang terletak di Dusun Kurandak, Desa Karang Gading, Kecamatan Labuhan Deli, Kabupaten Deli Serdang. Menurut info dari seorang anggota pengajian kami, Pantai Camar adalah sebuah lokasi yang mempunyai potensi dikembangkan menjadi objek wisata bahari. Mereka menyebutnya “Sebagai Surga Yang Terabaikan”. Tertarik dengan secuil info itu,  kami merencanakan akan mengadakan pengajian di Pantai Camar itu.

Begitulah, pagi itu sekitar pukul 10.00 WIB kami meluncur menuju Pelabuhan Belawan karena kami memilih jalur laut untuk sampai ke lokasi tersebut. Memang ada jalur darat yang bisa ditempuh melalui Lubukpakam, tapi rutenya terlalu jauh dan akan memakan waktu terlalu lama. Makanya kami memilih jalan laut yang menurut info bisa ditempuh dalam waktu hanya 45 menit jika naik boat nelayan tradisional.

Sekitar pukul 11.00 WIB kami sudah standby di Pelabuhan Satpol Air Belawan, karena rombongan kami berjumlah 17 orang (terdiri dari 14 perempuan dan 3 laki-laki), kami tidak bisa menumpang kapal boat nelayan yang kapasitasnya hanya tujuh orang. Kami lalu memutuskan menyewa kapal penumpang yang berkapasitas 20 orang. Kapal penumpang ini adalah kapal kayu yang biasa melayani transportasi laut dari Belawan ke Dusun Kurandak.

Tepat pukul 11.20 Wib kami meninggalkan Pelabuhan Satpol Air Belawan dengan kapal kayu penumpang tanpa nama yang dikemudian tiga orang awak kapal. Ternyata dengan kapal ini waktu tempuh menjadi lama karena rutenya tidak sama dengan rute boat nelayan yang ukurannya lebih kecil. Dengan menggunakan kapal yang lebih besar itu waktu tempuh menjadi tiga jam perjalanan, karena kapal harus berlayar agak ke tengah laut yang lebih dalam. Jika tetap menyusuri pantai takut kapal akan kandas karena mungkin banyak daerah dangkal. Akibatnya kami baru tiba di Kurandak sekitar pukul 14.30 WIB.

Mengingat waktu yang sudah menjelang sore kami batal mengunjungi Dusun Kurandak, kami hanya mampir ke Pantai Camar. Untuk menuju Pantai Camar kami harus menyusuri Hutan Mangrove melalui jembatan (sebenarnya titian yang dibuat dari kayu bakau). Ternyata Pantai Camar memang cukup indah, pantainya berpasir putih dan ditumbuhi pohon-pohon pinus yang hijau. Sangat alami sekali sehingga layaklah disebut sebagai “Surga Yang Terabaikan”.

Sholat di atas kapal yang kandas.

Kami tidak lama di Pantai Camar, hanya sekitar 45 menit saja, hanya sholat Zuhur dan selfi-selfi. Karena awak kapal minta kami segera kembali, khawatir air akan surut dan menjadi dangkal sehingga sulit dilayari. Kalau sudah surut kapal tidak akan bisa berlayar. Sekira pukul 15.20 WIB kami kembali ke kapal.

Rute pulang ternyata tidak sama dengan rute pergi karena diperkirakan pasang akan surut sehingga kapal akan terjebak perairan yang dangkal. Sesuai petunjuk masyarakat, awak kapal menempuh jalur laut lepas. Tapi awak kapal pun ternyata salah jalur dan kapal terpapar dan kandas di tengah laut. Kapal tidak bisa jalan dan mesin kapal mati, karena baling-baling mesin kapal terjebak pasir. Awak kapal dan rombongan kami yang laki-laki berusaha mendorong kapal tapi tidak berhasil karena pasang terus surut dan kapal terpapar kandas di tengah laut. Saat itu air sebatas dada rombongan laki-laki yang turun dari kapal untuk mendorong kapal. Saat itu kalau tidak salah waktu menunjukkan pukul 16.30 WIB.

Pada saat itu datang sebuah boat nelayan menawarkan bantuan agar kami pindah. Tapi boat itu hanya muat tujuh orang. Kami sepakat yang tujuh orang diselamatkan dulu oleh boat nelayan itu, jadi tinggallah kami 10 orang tujuh perempuan tiga laki-laki. Kami bertahan di kapal yang kandas itu. Kami pasrah menunggu sambil berdo’a dan berzikir agar mendapatkan pertolongan dari Allah Yang Maha Kuasa. Awak kapal memperkirakan air akan pasang kembali sekitar pukul 21.00 WIB malam.

Sekitar pukul 20.00 WIB kami lihat sekitar kami sudah jadi daratan. Kondisi itu memancing kami untuk turun dari kapal hanya untuk sekadar pipis saja. Dalam kondisi itu nelayan yang menolong sebagian rombongan tadi datang dengan berjalan kaki. Beliau menawarkan agar kami kembali naik boat beliau yang menurutnya berada sekitar satu kilometer jika berjalan kaki. Tapi kami menolak dengan halus karena kami tinggal 10 orang sementara boat beliau hanya muat tujuh orang. Kami memutuskan untuk menunggu air pasang saja sehingga kapal bisa lagi jalan. Yang kami pikirkan adalah karena jarak tempuh yang satu kilometer itu cukup jauh, kami takut di tengah perjalanan air pasang maka tentu akan menjadi masalah pula.

Atas dasar pikiran itulah kami bertahan di kapal dengan harapan jika air pasang kapal bisa jalan kembali.

Betul juga perkiraan awak kapal, sekitar pukul 21.00 WIB, air kembali datang dan sekitar pukul 22.40 WIB kapal sudah mulai terapung kembali. Namun mesin kapal tidak bisa hidup dengan sempurna, ngadat-ngadat, mungkin karena kemasukan pasir. Awak kapal berusaha memperbaiki mesin kapal dan Alhamdulillah berhasil, mesin kapal bisa hidup dengan normal. Sekitar pukul 23.30 WIB mesin kapal bisa hidup kembali dengan normal, tapi kapal tidak bisa jalan maju tapi mundur.

Sekitar satu jam perjalanan mundur atau sekitar pukul 01.30 WIB tiba-tiba turun hujan lebat dan angin bertiup dengan kencang sehingga ombak cukup tinggi. Kapal terombang-ambing di tengah hujan lebat, angin kencang dan hantaman ombak yang cukup tinggi sekitar dua sampai tiga meter. Sekurangnya ada tiga kali kapal terlempar diterjang ombak dan kami sangat ketakutan. Kami hanya bisa memohon do’a kepada Allah SWT agar kami diselamatkan dari mara bahaya ini.

Dalam kondisi yang mencekam itu tiba-tiba awak kapal memberi tahu kapal bocor sehingga air masuk dari bawah dan dari atas karena hujan. Awak kapal dan anggota rombongan yang laki-laki lalu berusaha menguras air, untuk mencegah kapal jangan tenggelam. Kami semua diminta untuk segera memakai pelampung. Celakanya lagi ternyata pelampung terbatas, tidak semua kami dapat pelampung. Ketika itu ayat-ayat Al Quran bergema dari mulut kami disertai do’a: “Ya Allah kami pasrah dalam kuasaMu, namun jika kami masih diberi kesempatan untuk hidup, kami akan selalu taat dan berbuat baik untuk agamaMu. Ampunilah dosa kami Ya Allah, selamatkan kami”.

Pasrah menunggu pertolongan Allah SWT.

Sekitar pukul 02.30 WIB tiba-tiba mesin kapal mati. Awak kapal meminta kami menghidupkan senter di HP masing-masing untuk meminta bantuan kapal lain yang nampaknya dekat. Kami pun berteriak-teriak minta tolong. Tapi sia-sia, jarak kapal-kapal itu terlalu jauh. Beberapa orang diantara kami mencoba menelepon kawan-kawan agar mencari bantuan atau menelpon Satpol Air Belawan.

Alhamdulillah, ternyata do’a kami diijabah Allah SWT. Sekitar pukul 03.30 WIB, dalam keremangan malam, kami melihat ada kapal yang mendekat. Ternyata itu adalah kapal patroli Satpol Air Belawan yang datang menyelamatkan kami. “Terimakasih ya Allah, Engkau telah menyelamatkan kami”.

Tepat pukul 04.00 WIB kami selamat tiba di Pos Satpol Air Belawan. Serentak kami sujud syukur atas anugerah Allah SWT tersebut. (*)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here