7 Desember 2021

Syukur Kami PadaMU Tiada Bertepi

Syukur Kami PadaMU Tiada Bertepi

Oleh Mislaini Suci Rahayu

  • Aktifis Perempuan

Kami semua bersahabat seperti bersaudara. Visi kami sama. Keinginan kami untuk perjuangan juga

sama, kami sering berjumpa dan berdiskusi, mencoba berbuat untuk hal-hal yang bermanfaat, meski yang kami lakukan masih sangat jauh dan belum ada apa-apa, dibanding orang yang telah berbuat banyak. Namun semangat dan keinginan kami tidak pernah surut, meski tantangan, terkadang ada cibiran sinis juga mewarnai apa yang kami jalani.

Atas keinginan bersama kami berniat mengunjungi satu lokasi wisata yang sangat tertinggal dan mungkin juga terabaikan. Meski memiliki keindahan yang cukup menarik, tapi kehidupan masyarakat di sekitarnya sangat jauh dari kata sejahtera. Hal inilah yang mendorong kami untuk bisa berbuat bagi masyarakat sekitar. Kami berniat membantu agar lokasi wisata tersebut bisa ditata dengan baik, sehingga bisa menjadi salah satu objek wisata bahari yang menarik minat wisatawan, baik domestik maupan mancanegara.

Tepatnya, pada hari Kamis, tanggal  27 November 2019, saya mengajak sahabat terbaik saya,  adinda Ridho yang selama ini telah mengabdikan dirinya untuk kemajuan masyarakat di manapun dia berkiprah, sahabat saya Tengku Nazariah yang sudah tak diragukan lagi sepak terjangnya dalam kegiatan-kegiatan membantu masayarakat, adinda Elvi Hadriany pengurus MD KAHMI Medan, sahabat sejak SMA Rina Aora Nasution, dan kakak kelas di SMAN 7 Medan, kak Mina Cee yang juga aktivis perempuan itu, selebihnya adalah sahabat yang diajak adinda Tengku Nazariah, yaitu Ade Nasti, Viri, Farida Ginting, mereka semua ini adalah aktivis perempuan yang sudah banyak berbuat untuk masyarakat.

Total jumlah kami sebanyak 17 orang. Kami ingin mengunjungi dan melihat kondisi Pantai Camar di Dusun Kurandak, Desa Karang Gading, Kecamatan Labuhan Deli, Kabupaten Deli Serdang. Kami menyewa kapal motor yang saya tidak ingat namanya.

Berkumpul di Kedai Kongshi Belawan, kami lalu menuju Pelabuhan Satpol Air Belawan karena kapal motor yang akan kami tumpangi sudah menunggu di sana. Sekitar pukul 11.00 WIB dengan membaca Bismillah dan berdoa kami berangkat, dengan harapan semoga perjalanan kami lancar dan mendapat Ridho Allah.

Awal yang menyenangkan.

Perjalanan cukup menyenangkan saat keberangkatan, laut begitu bersahabat, juga kondisi kapal yang cukup nyaman. Kami sengaja menyewa kapal besar agar kami merasa nyaman selama perjalanan.

Ternyata perjalanan dengan kapal motor besar memakan waktu cukup lama sekitar empat jam bila dibandingan dengan menyewa boat nelayan yang hanya sekitar 45 menit saja. Hal itu disebabkan karena kalau menggunakan kapal motor besar jalurnya agak ke tengah laut, karena kalau di pinggir takut kandas. Keputusan kami menggunakan kapal motor adalah dengan alasan keamanan dan kapasitas kapal. Kapal boat nelayan hanya mampu menampung tujuh orang penumpang sementara kami ada 17 orang. Lagi pula di Kapal Motor tersedia pelampung.

Satu jam perjalanan tidak terasa, kami enjoy saja. Barulah sekitar pukul 13.30 WIB kami mulai merasa lapar. Kami memutuskan untuk makan siang di kapal walaupun awalnya kami berencana akan makan bersama penduduk di Dusun Kurandak. Untuk itu kami sudah mempersiapkan bekal yang cukup yang kami bawa dari rumah.

Masih tersenyum…..

Kami baru tiba di dermaga yang sangat darurat sekitar pukul 14.30 WIB tapi untuk menuju Pantai Camar, kami  harus melintasi hutan bakau, Dalam perjalanan melintasi lokasi hutan bakau, kami bertemu Pak Jeni, seorang nelayan penduduk Dusun Kurandak.  Beliau menanyakan maksud kami datang ke tempat itu. Setelah kami jelaskan, beliau langsung menemani kami sekaligus menjadi penunjuk jalan menuju Pantai Camar.

Perjalanan dari dermaga sampai Pantai Camar betul-betul perjalanan uji nyali. Dermaga yang dibangun seadanya dengan menggunakan kayu bakau itu sebenarnya tak layak disebut dermaga. Kayunya sangat jarang-jarang dan terlihat seperti tidak kokoh. Jika salah melangkah, bisa jadi terperosok dan jatuh ke laut. Bagi orang yang tak biasa dengan kondisi ini, hal itu tentu sangat mengerikan. Dengan hati-hati sekali kami turun ke dermaga itu dan berjalan menuju jalan setapak di tengah hutan bakau.

Untuk mencapai Pantai Pinus kami harus melawati dua jembatan yang lebih sulit lagi dilalui. Jembatan seadanya dan sangat rentan patah, serta sangat sulit dilewati karena jembatannya hanya terbuat dari kayu-kayu bakau seadanya. Jujur hal ini tidak pernah saya bayangkan untuk melintasi jembatan seperti itu. Herannya kondisi seperti ini kok masih ada di dekat Kota Medan setelah 74 tahun kita merdeka. Rasanya persis seperti memasuki daerah pedalaman yang tidak tersentuh.

Menyusuri jalan setapak.

Ketika melintasi jembatan, beberapa orang dari kami ada yang tergelincir, meski tidak luka berat yang pasti ada lebam karena terbentur kayu dan terperosok ke paritnya. Setelah melintasi dua jembatan itu, sampailah kami hutan pinus yang cukup indah, tapi hanya hutan saja, masih asri dan alami, belum ada fasilitas apapun.

Melewati hutan pinus kami tiba di Pantai Camar, yang Subhanallah, sangat indah. Meski sangat indah, tapi pantai ini belum tertata dan terawat dengan baik. Namun keindahan pantai ini dapat menghilangkan kepenatan selama perjalanan. Jika sekiranya pantai ini ditata dan dirawat dengan baik tak akan terbayangkan keindahannya. Pasti para wisatawan akan beramai-ramai datang mengunjunginya.

Di Pantai Camar ini kami melaksanakan sholat Zhuhur dijamak dengan sholat Ashar. Usai sholat, kami menyempatkan diri berjalan-jalan mengamati sekitar lokasi Pantai Camar. Di sepanjang bibir pantai, banyak sekali berserakan kulit-kulit kerang berbagai bentuk dengan warna-warni yang menarik. Dari Pak Jeni yang menemani kami, dapat info bahwa pada musim-musim tertentu akan datang kerang-kerang terbaik ke pantai ini.

Sebahagian teman-teman anggota rombongan mengambil kulit-kulit kerang yang berbentuk unik dan berwarna menarik, barangkali juga bisa dijadikan hiasan.

Sekitar satu jam kami berada di lokasi Pantai Camar ini, selain mendokumentasikan foto-foto kami juga mengamati lokasi-lokasi strategis yang mungkin bisa dijadikan bahan kajian untuk pengembangan potensi Pantai Camar ini.

Tanpa terasa jam tangan sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB. Kami memutuskan untuk membatalkan kunjngan ke Dusun Kurandak mengingat waktu sudah menjelang sore dan informasi dari Pak Jeni sekitar pukul 14.00 pasang akan mulai surut sehingga kapal tidak akan bisa jalan.

Kami pun semua menaiki kapal untuk segera kembali, bahkan ikan dan kepiting yang disediakan masyarakat tak sempat kami nikmati, terpaksa kami bawa saja ke kapal. Setelah kami semua di atas kapal, Pak Jeni menyarankan agar kami menempuh jalur nelayan yang waktu tempuhnya lebih singkat. Saran Pak Jeni ini disetujui awak kapal. Maka berlayarlah kami melalui jalur itu dengan dipandu Pak Jeni.

Semula tidak ada kendala, kapal meluncur normal, tapi tiba-tiba saat memasuki jalur nelayan, kapal kandas karena air sudah dangkal. Ternyata jalur itu tidak bisa dilewati kapal besar. Mesin kapal mati, kapal terjebak pasir dan lumpur. Awak kapal berusaha keras agar kapal bisa jalan, tapi sia-sia, air pun terus surut.

Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 16.30 WIB, kami dipastikan terjebak di laut dangkal yang terus surut. Sebagian anggota rombongan mulai gelisah karena menurut info, biasanya air baru mulai pasang kembali sekitar pukul 22.00 WIB dan kemungkinan baru bisa jalan sekitar pukul 23.00 WIB.

Membayangkan hal itu, kegelisahan mulai menggayuti kami. Kami berusaha keras berpikir mencari alternatif lain. Akhirnya kami putuskan untuk meminta Pak Jeni mencari boat nelayan yang bisa membawa kami ke Belawan. Tahap awal, tujuh orang anggota rombongan pindah ke boat Pak Jeni sehingga masih tersisa 10 orang lagi ditambah dua orang awak kapal motor. Kami sangat berharap Pak Jeni bisa kembali dengan membawa boat nelayan yang lain.

Satu, dua jam berlalu, Pak Jeni tak kunjung kembali. Sementara air sudah betul-betul surut. Laut tiba-tiba berubah jadi daratan. Jujur, inilah pertama kali saya mengalami laut menjadi kering dan berubah jadi daratan. Kami sempat turun dari kapal dan merasakan kami betul-betul berada di daratan.

Hari berangsur gelap, Pak Jeni yang kami tunggu tak kunjung tiba, hpnya tak bisa dihubungi. Meskipun pasrah tapi kami tetap tenang. Ternyata kapal itupun tidak dilengkapi alat penerangan. Kami menunggu, menunggu, dan terus menunggu yang tak pasti.

Sholat di atas dek kapal.

Tiba waktu sholat Maghrib kami sholat sekalian dijamak dengan sholat Isya. Ada yang sholat di dalam kapal, ada yang sholat di atas dek kapal. Usai sholat kami melantunkan zikir dan membaca ayat Al Quran yang kami hapal. Tiba-tiba dari kejauhan terlihat sinar senter dan seseorang berjalan menghampiri kami. Ternyata Pak Jeni, beliau harus berjalan sejauh satu setengah kilometer untuk mencapai posisi kami. Bisa dibayangkan berapa luas laut yang tiba-tiba jadi daratan. Inilah kekuasaan Allah, dengan sekejap Allah bisa mengubah laut jadi dataran lalu mengubahnya kembali jadi lautan. Subhnallah.

Pak Jeni menawarkan kami naik boatnya tap kapasitasnya hanya tujuh orang. Ini jadi masalah. Kami bingung, memilih tawaran Pak Jeni atau menunggu air pasang kembali sehingga kapal bisa jalan lagi.  Kami bingung. Naik boat Pak Jeni, mungkin kami bisa jalan segera tapi resikonya jika hujan, boat itu tak ada penutupnya. Dan apakah dengan penumpang yang over kapasitas boat itu bisa menghadapi ombak yang besar? Apakah boat itu tidak oleh jika dilanda ombak besar yang mungkin saja terjadi karena cuaca pun mulai tak bersahabat.

Bertahan di kapal.

Akhirnya kami memutuskan untuk tetap di kapal motor, dengan alasan lebih safety. Kami yakin kapal motor lebih aman meskipun tengah malam, meskipun tidak ada lampu penerangan di kapal. Saat ditanyakan kepada awak kapal, kenapa tidak ada penerangan di kapal ini, mereka menjawab karena tidak ada rencana mau berlayar malam.

Menjelang pukul 00.00 WIB, air pasang sudah maksimal dan kapal mulai bergerak secara perlahan. Sekitar setengah jam perjalanan, hujan mulai turun rintik-rintik dan tak lama kemudian turun dengan derasnya. Semula kami tidak merasa apa-apa, biasa saja namun tiba-tiba kami melihat gelombang laut mulai bergejolak. Ketinggian ombak mencapai setinggi atap rumah. Angin mulai berhembus kencang dan ombak pun bergulung-gulung menghantam dinding kapal.

Menyadari kondisi ini, saya minta semua memakai pelampung. Saat itu semua mulai merasa gelisah dan terus berdoa kepada Allah agar diberikan perlindungan dari semua kemungkinan terburuk. Suasana semakin mencekam saat kapal mulai terombang-ambing dihempas gelombang dan membasahi kami. Kami pun berpengang erat mana yang bisa dipegang karena takut terlempar ke laut. Satu persatu anggota mulai mual dan menangis, namun dzikir dan doa tak lepas dari bibir kami masing-masing.

Saya coba tetap di depan meskipun air gelombang besar membasahi seluruh badan. Sambil tetap berdoa kepada Allah agar menyelamatkan kami dari bencana ini. Saya merasa ini beban saya, karena mereka semua ikut karena ajakan saya. Ya Allah terbayang seluruh keluarga mereka jika sampai terjadi hal-hal yamg tidak diinginkan.

Tiba-tiba awak kapal memberitahu kapal bocor di bagian depan dan air mulai masuk ke kapal. Hal ini terjadi karena hantaman badai. Kami berusaha menguras air secara terus menerus agar air di dalam kapal tidak bertambah banyak.

Mulai pasrah dan pakai pelampung.

Doa terus kami panjatkan,  surah Al-Fatihah dan doa-doa yang lain terus berkurang bergema dari bibir kami. Kebocoran kapal merembet ke bagian tengah kapal. Air semakin banyak masuk ke kapal. Awak kapal berdo’a, “Ya Allah tolonglah kami”. Mereka meminta kami untuk bisa menghubungi siapa saja yang bisa dihubungi meminta bantuan.

Kami semakin panik ketika mesin kapal mati, sementara semua hp sudah mati karena lowbatt. Hanya Hp saya yang hidup. Saya mencoba terus menelpon semua teman-teman  agar bisa menghubungi polisi air. Kebetulan dua teman yang menumpang boat Pak Pak Jeni sudah tiba di Belawan dan menunggu di Pos Satpol Air Belawan.   Hanya saja kami tak bisa menghubungi mereka karena nomor hp mereka tersimpan  di hp kawan yang sudah lowbatt.

Saya tetap berusaha menghubungi teman-teman yang masih aktif hpnya malam itu. Mereka saya minta menghubungi Satpol Air menginfokan kondisi kami saat itu. Tidak lama kemudian pihak Satpol Air Belawan berhasil menghubungi kami dan meminta posisi kami berada. Selain tim Satpol Air Belawan, juga bergerak tim Satpol Air Langkat, Bsarnas dan PMI. Mereka semua meminta info lokasi kami. Namun kami juga tidak tahu di mana posisi kami sebenarnya dan suasana sangat gelap sekali. Kami hanya berteriak-teriak minta tolong sambil melambai-lambaikan senter hp.

Sementara air semakin banyak masuk ke kapal dan mereka yang menguras air pun sudah sangat kelelahan. Kami hanya berdo’a meminta pertolongan Allah. Saat itulah kami merasakan betapa tidak berdayanya manusia ketika Allah menunjukkan kuasaNya. Ternyata kita tidak ada apa-apanya di hadapan Allah SWT. Kita terlalu kecil dan tak berdaya. Kita pasrah, hanya Allah yang mampu membantu.

Suasana saat ini betul-betul mencekam. Terombang-ambing di lautan lepas tanpa penerangan dan kapal bocor, msin mati serta gelombang terus menghantam. Kami terseret mengikuti gelombang. Hal ini yang sangat sulit kami lupakan.

Alhamdulilah do’a dan penantian kami tidak sia-sia. Allah mendengar doa kami. Sekitar pukul 03.00 dini hari kami melihat ada kapal mendekat. Ternyata kapal patroli Satpol Air Belawan. Mereka mencoba untuk mendekat, tapi gelombang yang besar tak mudah bagi mereka mendekati kapal kami. Ketika sudah dekat tiba gelombang menghantam dan kapal patroli menghantam kapal kami. Ternyata tak mudah juga menyelamatkan kami. Tak semudah yang dibayangkan.

Akhirnya regu penyelamat berhasil melempar tali kepada awak kapal kami dan kapal bisa dirapatkan. Namun tak mudah juga mengevakuasi kami dari kapal motor ke kapal patroli. Satu persatu Komandan Tim Satpol Air Belawan Brigadir Berry Chaniago mengangkat tubuh kami kami yang sudah lemas dan basah kuyup. Rasa salut dan terima kasih tak terhingga harus kita sampaikan kepada tim Satpol Air Belawan ini.

Tiba di Posko Satpol Air Belawan.

Alhamdulilah, sekitar pukul 03.30 WIB kami semua sudah berada di atas kapal patroli dan pukul 04.00 WIB sudah tiba di Pos Satpol Air Belawan. Sesampainya di Pos Satpol Air Belawan, kami semua melakukan sujud syukur atas pertolongan dan anugerah Allah SWT yang masih memberi kesempatan kepada kami untuk meneruskan hidup ini. Perjalanan ini tidak akan pernah terlupakan dalam hidup kami selanjutnya. Dan semangat kami untuk membantu masyarakat Dusun Kurandak dan niat mengembangkan objek wisata Pantai Camar untuk menjadi lokasi wisata yang mampu membangkitkan perekonomian Kurandak dapat tercapai.

“Ya Allah mudahkan semua usaha kami dan angkatlah kehidupan masyarakat Kurandak menjadi lebih baik. Semua ini tidak terlepas dari kuasa-MU. Ampunkan semua salah dan dosa kami karena kami hanya manusia biasa yang tidak pernah luput dari dosa. Aamiin”. (*)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

YouTube
Instagram