1 Desember 2021

Sipirok Mulai Menggeliat

Sipirok Mulai Menggeliat

Catatan Bang Harun

Pada  tahun 1998, di akhir masa jabatannya sebagai Gubernur Sumatera Utara, Pak Raja Inal Siregar mengajak saja mengunjungi Sipirok. Ini memang bukan kunjungan resmi makanya tanpa protokoler.  Kami hanya berempat, Pak Raja, Pak Zega (asisten pribadi beliau), Supir Pak Raja (saya lupa namanya) dan saya. Kami mengeendarai Jeep Mercedes yang menjadi kebanggaan Pak Raja. Sedangkan Yuri (anak Pak Raja) menyusul dengan mobil lain.

“Kita akan meresmikan persulukan,” kata Pak Raja sebelum berangkat. “Kalau sempat kita akan melihat Danau Marsabut,” katanya lagi. Tanpa banyak cakap kami ikut saja. Saya duduk di samping Pak Raja di bangku tengah. Di depan Pak Zega dan supir. Selama perjalanan Pak Raja menceritakan obsesi-obsesi tentang Sipirok, salah satunya tentang bagaimana menjadi Sipirok sebagai sebuah kota yang maju dan menjadikan Danau Marsabut sebagai sebuah objek wisata potensial Sumatera Utara.

Di Sipirok kami tidak menginap Hotel Tor Sibohi, tapi di rumah asal Pak Raja di desa Bunga Bondar. Setelah meresmikan persulukan kami ke Danau Marsabut. Pak Raja mengatakan di Danau Marsabut inilah beliau mendapatkan inspirasi marsipature huta na be, gerakan membangun kampung halaman yang kemudian menjadi obsesi utama Pak Raja. Perjalanan kami ke Sipirok itu saya tuangkan dalam tulisan “Marsipature huta na be, Ispirasi Dari Danau Marsabut”.  Program Marsipature huta na be inilah yang kemudian menjadikan Pak Raja mendapat Gelar Doktor Honoris Causa (Dr. HC) dari Universitas Sumatera Utara.

Selain Raja Inal Siregar, Sipirok memang banyak melahirkan tokoh-tokoh terkenal, diantaranya Prof. Lafran Pane, pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang sudah ditetapkan pemerintah RI sebagai pahlawan nasional. Tokoh pergerakan mahasiswa Hariman Siregar juga dilahirkan di Sipirok. Banyak lagi tokoh-tokoh yang lahir di Sipirok, diantaranya tokoh pengarang Balai Pustaka Merari Siregar, Walikota Medan diawal kemerdekaan Luat Siregar dan lain-lain.

Sipirok terkenal dengan hawanya yang sejuk. Terletak di lembah Gunung Sibual-buali (Pegunungan Bukit Barisan) cuaca di Sipirok cukup dingin dan selalu diselimuti kabut. Disekitar Sipirok juga banyak terdapat sumber-sumber air panas yang mengandung belerang seperti Parandolok, Sosopan, Parau Sorat dan Situmba. Sumber-sumber air panas ini sangat potensial dikembangkan sebagai objek wisata lokal.

 Kemaren, tanggal 9-10 Desember 2019, saya kembali mengunjungi Sipirok, tapi Sipirok sekarang sudah berbeda dengan Sipirok saat ini. Dulu Sipirok hanyalah sebuah kecamatan dari Kabupaten Tapanuli Selatan. Sekarang dengan statusnya sebagai ibukota Kabupaten Tapanuli Selatan, Sipirok mulai bersolek. Gedung-gedung pemerintah dan swasta mulai dibangun di sepanjang Jalan Lintas Sumatera yang melintasi Sipirok. Gedung-gedung perkantoran pemerintah, kantor Bupati dan lain-lain sudah rampung dan sudah mulai beroperasi. Dan ini membuat Sipirok mulai menggeliat.

Hal ini tentu membuat kehidupan masyarakat mulai bergairah. Kunjungan orang ke Sipirok tentu saja meningkat, perekonomian mulai bergerak naik. Yang paling signifikan adalah melonjaknya harga tanah. “Kalau di pinggir jalan lintas ini harganya sekarang sudah mencapai Rp. 400 ribu hingga Rp. 500. ribu per meter. Kalau agak ke dalam masih murah Pak,” kata Said, supir mobil rental yang mengantarkan saya berkeliling selama di Sipirok.

Dalam kunjungan saya ke Sipirok kali ini, saya sempatkan bertemu dengan Sekretaris Daerah Tapanuli Selatan Parulian Nasution. Beliau adalah juga tokoh alumni HMI yang juga adalah Ketua Majelis Daerah KAHMI Tapsel. Saya diterima beliau di ruang kerjanya. Beliau didampingi tokoh-tokoh alumni HMI Drg. Firdaus Batubara, Ongku Muda Sormin dan Turmiji Harahap.

Menyerahkan buku Forum Pelestarian Budaya Pemprovsu.

Sebagai salah seorang anggota Forum Pelestarian Budaya Pemprovsu saya menyampaikan Implikasi dari UU No. 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang bisa dilakukan Pemkab Tapsel. Selain itu kami lebih banyak bercerita tentang kegaiatan KAHMI di Tapsel diantaranya telah didirikannya Perpustakaan Daerah Prof. Lafran Pane di Sipirok. Saya pun menyempatkan diri mengunjungi perpustakaan tersebut karena dalam waktu dekat kami ingin menyerahkan buku-buku sumbangan alumni HMI di Medan ke perpustakaan tersebut.

Sebelum kembali ke Medan, saya mengunjungi Pondok Pesantren Syech Ahmad Basyir yang berada Batangtoru. Pesantren ini kini diwarisi dan dipimpin Mustanir Nasution, senior saya waktu kuliah di Fakultas Sastra USU. Menurut saya, pesantren ini seharusnya menjadi perhatian Pemkab Tapsel karena merupakan wadah pembentukan karakter generasi penerus Tapsel. Untuk itu kami akan menggagas sebuah Program Revitalisasi Pengembangan Pondok Pesantren Syech Ahmad Basyir ini. (*)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

YouTube
Instagram