• Ekonomi Anjlok Kok Disyukuri, Kerja Pemerintah Apa?

Jakarta – RENTAKNEWS : Anggota Fraksi PKS DPR RI Hidayatullah mengatakan pemerintah tak perlu mengajari rakyat soal bersyukur karena sudah menjadi kewajiban untuk bersyukur setiap saat. Hal  itu dikatakan Hidayatullah ketika diminta tanggapannya atas pernyataan Presiden RI Joko Widodo yang meminta rakyat mensyukuri pertumbuhan ekonomi tahun 2019 yang terus anjlok hingga 4,97 persen pada kwartal IV Tahun 2019.

“Soal bersyukur, pemerintah tak perlu ajari rakyat lagi karena sudah menjadi kewajiban untuk bersyukur setiap saat. Masalahnya pertumbuhan ekonomi anjlok kok rakyat disuruh mensyukurinya? Jadi kerja pemerintah apa saja?” kata Hidayatullah kepada Reporter Rentaknews Abdul Aziz melelui telepon seluler, Selasa (12/02/2020).

Anggota Fraksi PKS DPR RI Hidatullah

Sebelumnya, Rabu (07/02/2020) di Istana Negara, Presiden RI Joko Widodo mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada pada angka 5,02 persen sepanjang tahun 2019 patut disyukuri. “Alhamdulillah ini juga patut kita syukuri bahwa pertumbuhan ekonomi masih di atas 5 persen, 5,02 persen. Patut kita syukuri. Yang lain-lain bukan turun, anjlok. Kalau enggak kita syukuri artinya kufur nikmat,” katanya.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2019 adalah 5,02 persen. Rinciannya, pertumbuhan pada kuartal I sebesar 5,07 persen, kuartal II sebesar 5,05 persen, kuartal III sebesar 5,02 persen, dan kuartal IV sebesar 4,97 persen.

Menurut Hidayatullah, kalau melihat rincian laporan BPS tersebut, sebenarnya pertumbuhan ekonomi Indonesia terus menurun, meski angka rata-rata masih 5,02 persen. “Ini artinya tidak mencapai target yang dicanangkan pemerintah. Target pemerintah gagal, kok rakyat disuruh bersyukur?” kata Hidayatullah.

Menurut anggota Komisi XI DPR RI ini, tugas pemerintah adalah melaksanakan upaya-upaya  menumbuhkan ekonomi untuk menyejahterakan rakyat. Target pertumbuhan ekonomi, target penurunan angka kemiskinan dan tingkat pengangguran terbuka belum tercapai dan belum memenuhi target yang dicanang di Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

“Jika banyak target itu yang tidak tercapai tentulah wajar kalau rakyat mempertanyakan kinerja pemerintah. Pemerintah harus bangkitkan ekonomi  yang stagnan ini. Dengan situasi ekonomi global yang kurang kondusif saat ini, pemerintah seharusnya bekerja lebih keras dan fokus pada hal-hal yang urgent dan berorientasi pada kepentingan rakyat,” kata Hidayatullah lagi.

Hidayatullah menyarankan agar pemerintah kreatif menghadapi situasi ekonomi global ini, jangan menjadikan situasi ekonomi global ini menjadi alasan kegagalan mencapai target. Sejak dulu kita sudah biasa menghadapi kondisi ekonomi global ini.

Hidayatullah juga mengkritisi pernyataan Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Suharso Monoarfa yang memproyeksikan angka pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5,7 persen dalam RPJMN 2020-2024.

“Saya meragukan angka itu, Presiden mengatakan pertumbuhan ekonomi meroket ternyata stagnan di angka 5 persen, bukti pemerintah tidak serius,” ujar Hidayatulah.(*)

Reporter:

Abdul Aziz

Editor:

Harun AR

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here