• Pemerintahan Jokowi – Makruf, Masya Allah tak Perlu Ditanggapi Lagi, Percuma, Tak Ada Gunanya

Alhamdulillah, akhirnya kami, jurnalis Mitranews (Harun Al Rasyid) dan jurnalis Rentaknews (Abdul Aziz) diberi kesempatan melakukan wawancara eksklusif dengan Anggota DPR RI H. Hidayatullah, SE. Disela-sela kunjungan kerjanya ke Sumatera Utara, 14-16 Februari 2020 diantaranya mengunjungi korban banjir di Kampung Aur Medan, beliau menyediakan waktu sekitar satu jam untuk kami berbincang tentang berbagai hal termasuk tentang pemerintahan Jokowi – Makruf. Mengambil tempat di Amora Coffe Kompleks J City sehabis sholat Ashar, Sabtu (15/02/2020) Hidayatullah menjawab pertanyaan-pertanyaan kami dengan akrab dan kadang-kadang dipenuhi kelakar yang cerdas.

IKLAN
Anggota DPR RI H. Hidayatullah, SE

Ternyata beliau sudah menjadi anggota legislatif sejak usia muda ketika masih kuliah di Fakultas Ekonomi USU. Akibatnya Hidayatullah harus menyelesaikan kuliah S1-nya selama delapan tahun dari tahun 1981 sampai 1989. “Saya sempat cuti kuliah ketika terpilih menjadi anggota DPRD Deliserdang pada periode 1987 – 1992 dan periode 1992 – 1997. Jadi saya baru sempat ujian sarjana itu ketika saya sedang menjadi anggota DPRD Deliserdang tahun 1989, waktu itu salah seorang dosen pengujinya adalah almarhum John Tafbu Ritongga,” katanya mengenang masa kuliahnya dulu. 

“Ketika ujian sarjana, para dosen penguji tidak ada yang bertanya tentang skripsi saya, mereka semua malah menanyai saya tentang politik. Setelah satu setengah jam berdialog di ruang sidang, mereka menyuruh saya keluar ruangan dulu. Kami mau memutuskan apakah kau lulus atau tidak, kata mereka. Saya jadi was-was juga, ngak ada pertanyaan tentang skripsi. Tapi Alhamdulillah mereka memutuskan saya lulus,” kata Hidayatullah tertawa.

Ketika kuliah di FE USU itu, Hidayatullah memang sudah aktif berpolitik. Waktu itu beliau sudah menjadi pengurus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Deliserdang. Artinya karier politik Hidayatullah memang dibangun dari bawah. Sepuluh tahun (dua periode) menjadi anggota DPRD Deliserdang dan sepuluh tahun (dua periode) menjadi anggota DPRD Sumut. Dan kini beliau mewakili rakyat Sumatera Utara sebagai angggota DPR RI periode 2019-2024.

“Apakah ingin dua periode juga?” tanya Rentaknews.

“Ini bukan persoalan ingin atau tidak. Bagi saya ini amanah yang harus dilaksanakan. Jika Allah mentakdirkan saya lanjut saya akan lanjut. Tapi sebagai kader partai saya punya tanggungjawab. Saat ini kursi PKS di Dapil I Sumut ini ada dua, saya dan Pak Tifatul Sembiring. Periode lalu hanya Pak Tifatul, ini kan artinya kursi PKS bertambah. Nah, itu kan hasil kerja Pak Tifatul juga. Jadi periode depan kami mentargetkan tiga kursi. Ini menjadi tanggungjawab saya. Oleh karena itu saya harus kerja keras, tidak masalah siapa yang akan duduk di periode depan,” kata Hidayatullah lagi.

Hidayatullah memang mempunyai akar rumput yang kuat. Sebagai orang yang dididik di Al Washliyah sejak kecil, Hidayatullah mempunyai “talenta dakwah” yang diwarisi dari ayahnya yang adalah guru di sekolah Al Washliyah di Jalan SM Raja Medan.

Pri yang lahir di Malaysia tanggal 24 Oktober 1961 itu sejak kecil memang bersekolah di lingkungan Al Washliyah. Pendidikan SD tahun tahun 1968 – 1973, SMP tahun 1973 – 1976, SMA UNIVA jurusan IPA tahun tahun 1976 – 1980. Sedangkan gelar S1 Sarjana Ekonomi jurusan Studi Pembangunan diperolehnya dari Universitas Sumatera Utara (USU) tahun 1981 – 1989.

Perjalanan karier dan perjuangan Hidayatullah, menjadi wakil rakyat (Anggota DPR RI) layak disimak dan diteladani. Sempat terjadi suasana tegang ketika perhitungan suara untuk menentukan anggota legislatif kelima terpilih dari Dapil I Sumut. Ketika itu Tengku Ery Nuradi sudah mengklaim terpilih, tapi ternyata KPU Sumut menetapkan Hidayatullah, yang harus ke Senayan.

Setelah duduk di Senayan, Hidayatullah cukup baik melakoni perannya sebagai Wakil Rakyat. Hal itu terlihat dari pemberitaan-pemberitaan Mitranews dan Rentaknews yang selalu memberitakan kegiatan, pernyataan dan tanggapan Hidayatullah sebagai wakil rakyat atas masalah-masalah nasional dan daerah yang muncul ke permukaan. Ketika reses pun Hidayatullah konsisten dan rajin menemui kembali konstituen yang dulu memilihnya pada Pileg 2019.

Jurnalis Mitranews Harun Al Rasyid dan jurnalis Rentaknews Abdul aziz bersama anggota DPR RI H. Hidayatullah, SE,

Beberapa organisasi pernah digeluti Hidayatullah diantaranya MUI Sumut sebagai anggota Komisi Pemberdayaan tahun 2016 – 2020, Ketua Umum Kerukunan Bubuhan Bunjar (KBB) sejak tahun: 2013 sampai sekarang, bidang Pemberdayaan Ekonomi Umat pada organisasi Paduan Masyarakat Kulawarga Kalimantan (PMKK) sejak tahun 2006  sampai sekarang. Yang tak kalah pentingnya adalah anggota Al Washliyah dari tahun 1985 sampai sekarang.

Berikut kutipan wawancara kami:

Jurnalis (J): Assalamu’alaikum, apa kabar Ustad? Bagaimana rasanya berkantor di Senayan?

Hidayatullah (H): Alhamdulillah, sehat. Bersyukur kita masih diberi rahmat dan hidayah oleh Allah SWT sehingga kita bisa menjalankan kewajiban sebagai khalifah di muka bumi ini.

J : Kalau boleh tahu, bagaimana perasaan ustad pada saat-saat terakhir penentuan anggota legislatif terpilih dari Dapil I Sumut ketika Pileg tahun 2019 lalu? Kami simak di media waktu itu Tengku Ery Nuradi sudah mengklaim dirinya yang maju ke Senayan. Tapi kenyataannya, Ustadlah yang ditetapkan KPU Sumut untuk maju ke Senayan? Bagaimana ceritanya waktu itu?

H : Biasa saja, ketika itu saya dan tim sudah merasa, PKS yang akan mendapatkan kursi kelima dari Dapil I bukan Nasdem. Perhitungannya jumlah suara PKS dari partai dan calon lain kita lebih banyak dari Nasdem. Dan saya adalah caleg suara terbanyak kedua setelah Pak Tifatul, jadi saya itu sangat terbantu kelebihan suara Pak Tifatul, suara partai dan suara caleg lain. Saya harus berterima kasih kepada mereka.

J: Setelah menjadi anggota DPR RI adakah yang berubah dalam kehidupan Ustad?

H: In Syaa Allah tidak, ya seperti biasanya. Mungkin yang berubah ya kesibukkan, makin sibuk saja.

J : Kami dengar setiap Sabtu dan Minggu ustad balik ke Medan, kenapa? Apa ngak nyaman tinggal di Jakarta?

H : Bukan ngak nyaman, rumah saya masih di Medan, di Jakarta saya masih ngontrak. Kami anggota DPR RI periode ini belum tinggal di Kompleks DPR RI karena masih renovasi. Sabtu dan Minggu kan ngak ada sidang, jadi saya pulang saja ke Medan, kami bagi tugas sama Pak Tifatul, beliau “mengurus” maslah-masalah pusat di Jakarta, saya “mengurus” masalah-masalah di daerah.

J : Bisa cerita sedikit tentang perjalanan hidup ustad dari masa kanak-kanak sampai dewasa?

H : Tidak ada yang istimewa, ya kalau pagi belajar di sekolah umum, sorenya ngaji. Kalau sekolah umumnya masuk siang, ya ngajinya pagi. Ayah saya itu seorang guru di Al Washliyah. Jadi sekolah dan ngaji adalah kewajiban utama. Dan itu saya jalani di Al Washilyah, karena ayah saya guru, jadi saya sekolahnya gratis.

J : Sejak kapan mulai bergabung dengan PKS dan apa motivasinya waktu itu?

H : Ketika sudah menyelesaikan amanah sebagai anggota DPRD Deliserdang, saya vakum berpolitik, saya hanya aktif mengelola Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Al Washliyah sebagai Komisaris Utama. Disela-sela kesibukkan saya ikut ngaji-ngaji dengan ustad Muhammad Nuh. Ketika beliau terpilih jadi Ketua DPW PKS, saya diminta beliau ikut Pemilu Legislatif 2004 dari PKS di Dapil Serdangbedagai.  Alhamdulillah saya terpilih, nah waktu itu rival saya juga Tengku Eri Nuradi.

J : Maaf ini pertanyaan agak sensitif, bagaimana Ustad menilai pemerintahan Presiden Joko Widodo – Makruf Amin setelah empat bulan ini?

H : Sebenarnya, saya tak mau lagi menanggapi hal itu, percuma, tak ada gunanya. Semuanya penuh kebohongan. Saya baru melihat dan mendengar secara langsung pidato Pak Jokowi ketika ketika dia dilantik untuk periode kedua dalam Sidang Paripurna MPR RI bulan Oktober 2019 itu. Waktu itu dia mengatakan pada tahun 2024 nanti Indonesia akan mencapai pertumbuhan ekonomi yang spektakuler. Dia tidak berani jujur mengatakan bahwe ekonomi kita saat ini sedang anjlok, merosot berbaning terbalik seperti yang dia katakan ekonomi kita sedang meroket. Jadi saya tak mau lagi mengomentari soal dia, ya sudahlah. Dikritik pun tak mempan. Mungkin kita lebih baik saya bicara dengan para pembantunya, para menteri.  

J : Apa rencana Ustad lima tahun mendatang? Apakah akan maju lagi untuk periode kedua?

H : Saya tidak berpikir hal itu, yang sedang kita usahakan adalah bagaimana menambah kursi PKS di DPR RI dari Dapil I Sumut ini. Tentang siapa orangnya, silahkan bagaimana partai mengaturnya.

J :Setelah menyelesaikan tugas sebagai anggota DPR RI (baik satu periode maupun dua periode) apa yang akan Ustad lakukan untuk rakyat?

H : Saya ini kan pendakwah, saya cita-cita saya memang masuk syurga. Jadi saya ini bekerja keras untuk masuk syurga. Bukan untuk apa-apa.

J : Di waktu senggang apa yang Ustad lakukan? Hobbi?

H : Membaca, ya selain buku-buku ekonomi, saya kan harus mempelajari dokumen-dokumen tentang ekonomi kita, agar saya bisa memberikan masukan yang berarti dalam pembangunan ekonomi kita. Memang selama meenjadi wakil rakyat saya memang selalu berada di Komisi Ekonomi, saat ini di Komisi XI, ya mengurusi masalah ekonomi. Sebenrnya saya juga hobbi main bola, saya sempat memperkuat PS Tirtanadi berkompetisi di Divisi Utama PSMS.

J : Kalau main bola posisi ustad sebagai apa?

H : Saya tak pernah memilih posisi, semua tergantung pelatih dan kebutuhan tim. Jika pelatih meminta saya jadi libero, atau gelandang, atau back, atau striker, akan saya lakukan dengan baik. Tapi yang paling saya suka adalah posisi sebagai striker. Tapi In Syaa Allah apapun posisi saya, saya selalu berusaha mencatak gol.

J : Terimakasih ustad, sudah menerima kami, pertanyaan terakhir apa pesan utk rakyat Sumatera Utara.

H : Tahun ini ada 23 daerah di Sumatera Utara yang melaksanakan Pilkada, saya berpesan agar rakyat Sumut betul-betul serius memilih pemimpin yang amanah. Jangan pilih pemimpin itu karena faktor lain-lain.

Ouwner Amora Coffe Yenny Rambe bersama anggota DPR RI H. Hidayatullah, SE.

Di akhir wawancara ouwner Amora Coffie, Yenny Rambe dan suaminya menggabungkan diri dan kami sempat berfoto bersama. Yenny Rambe adalah mantan Ketua KPU Kota Medan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here