MEDAN – RENTAKNEWS : Lafran Institute, sebuah lembaga kajian tentang ke-Islam-an dan ke-Indoneia-an kembali mengawali serial diskusi politik tahun ini. Serial pertama tahun ini bertema “Umat Islam dan Pilkada Serentak 2020” menghadirkan pakar dan pengamat politik dari FISIP USU Dr. Warjio, MA. “Serial Diskusi Lafran Institute tahun ini akan membahas tema-tema yang konteksnya Pilkada Serentak dan hasilnya kita rencanakan untuk dibukukan,” kata Ketua Yayasan Lafran Institute Dr. dr. Delyuzar Haris, SpPA (K) mengawali diskusi yang digelar di Seruput Kopi Jalan Perjuangan No. 88 Medan, Rabu, 19/02/2020 malam.

IKLAN
Dr. Warjio ndan Arwin Harahap

Dalam pemaparannya Warjio mengatakan ada benang merah realitas politik Islam secara nasional (nasional) dan Medan (lokal) yang sebenarnya adalah luka politik yang bagaikan mendorong mobil mogok.  Mengacu Pilpres 2019 yang lalu, kekuatan politik Umat Islam terbelah dua, yang masing-masing mendukung calon presiden Prabowo Subianto dan Joko Widodo. Di Kota Medan Prabowo menang 54,34 persen dan ini dianggap karena keinginan yang begitu kuat Umat Islam untuk berubah. Namun secara nasional realitas politiknya berbeda, secara nasional Joko Widodo dinyatakan menang oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang akhirnya membuat kubu Prabowo bergabung dengan kubu Joko Widodo.

“Ini seperti sebuah jalinan yang saling kait dan mempengaruhi. Ada benang merahnya, ternyata Islam Politik mewujudkan dirinya dalam berbagai wajah dan kepentingan. Pemilu 2019 adalah luka lara umat Islam dalam berpolitik. Luka itu disebabkan mendorong mobil yang mogok. Sudah jalan mobilnya asapnya ternyata bukan saja menghitam tapi juga berakibat luka. Larankeya, ia mengidap hampaan,” kata doktor lulusan USM Penang ini.

Menanggapi Pilkada Kota Medan yang menurut isu bakal diikuti menantu Joko Widodo, Warjio berpendapat, hal itu akan melahirkan luka baru lagi. Umat Islam di Kota Meedan akan dihadapkan pada realitas politik adanya benteng penguasa yang berupa tembok tebal  dan moralitas elit yang yang tergadai. Jadilah ia kenyataan yang dianggap pahit.

“Namun di atas luka lara itu, mungkin akan ada cahaya dari kekuatan Umat Islam yang saat ini berupaya mendorong calon independen. Kalau ditanya, siapa yang bisa mengalahkan tembok tebal itu, ya jawabnya hanyalah rasa malu,” kata Warjio lagi.

Pada akhir diskusi Warjio sangat mengapresiasi kegiatan Serial Diskusi yang dilakukan Lafran Institute sebagai sarana pendidikan politik bagi Umat Islam. “Ini bukan sembarang diskusi. Meski dihadiri kalangan terbatas tapi ada semangat diskursus Islam politik dan masa depannya. Ukurannya sederhana, respon dari peserta berupa pertanyaan dan pernyataan bukan saja meriah tapi juga kritis dan menggugah. Malah berbagi pengalaman dan kasus menjadi penghibur di tengah rasa hampa itu. Lafran Institute telah memulainya. Ia bukan langkah kecil tapi tindakan besar yang akan membuka minda dan kesadaran,” kata Warjio lagi.

Diskusi kali ini dipandu aktivis Lafran Institute Arwin Harahap dan dihadiri aktivis HMI seperti Rudi Dogar, Robert Situmorang, Pera Sagala, Mislaini, Elvi Hadriani, Yudhi Siregar dan lain-lain (*)

Reporter:

An Jambak

Editor:

Harun AR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here