MEDAN – RENTAKNEWS : Sekretaris DPW Persatuan Islam (Persis) Sumatera Utara, Abdul Aziz, ST berharap Lafran Institute harus tetap berada di jalur komunitas kajian pemikiran ke-Islam-an dan ke-Indonesia-an dan jangan melibatkan diri dalam percaturan politik praktis. Hal itu diungkapkan pengurus DPD PKS Sumut ini usai menghadiri Diskusi Terbatas Lafran Institute dengan topik “Islam, Demokrasi dan Okhlokrasi” di Hotel Grand Kanaya Medan, Jumat (13/03/2020) malam.

IKLAN

Aziz menilai, Lafran Institute adalah satu-satunya lembaga kajian di Sumatera Utara yang rutin menggelar diskusi tentang ke-Islam-an dan ke-Indonesia-an. Ini penting untuk pencerahan umat Islam ke depan. Dengan kajian-kajian dan diskusi seperti ini, para elit dan aktifis politik di daerah ini akan terfahami dengan pemikira-pemikiran yang positif. Dengan ini kita berharap akan terbentuk peradaban yang adiluhung dan kehidupan yang adil dan makmur.

“Saya berharap Lafran Institute tidak melibatkan diri dalam praktek-praktek politik praktis. Tidak membuat diskusi dan survey-survei pesanan. Tetaplah di jalur kajian intelektual,” kata Aziz lagi.  

Diskusi malam itu menghadirkan ulama Malaysia Umar Azmon Amir Hasan dan intelektual muda Irawan Santoso SH yang dimoderatori jurnalis senior Harun Al Rasyid. Seyogyanya juga akan tampil sebagai pembicara ulama asal Inggris yang juga Director Dallas College Asia Zulfiqar Awan, namun karena gagl dapat visa masuk Indoneisa, Zulfiqar hanya mengirimkan makalah berjudul “Manusia di Dalam Negara Modern”. Diskusi dihadiri tokoh-tokoh intelektual, akademisi, praktisi hukum, tokoh partai politik diantaranya Prof. Pujiati, Ir. Hasrul Hasan, MM, Drs. Ansari Adnant Tarigan, MSi, Ir. Mislaini Suci Rahayu dan lain-lain.

Lafran Institute didirikan para intelektual alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI atau KAHMI) yang konsen pada pengajian pemikiran dan peradapan. Dalam sambutannya Ketua Lafran Institute Dr. Delyuzar Haris mengatakan pihaknya sudah menyusun silabus diskusi rutin selama setahun, di luar diskusi temporal yang membahas hal-hal aktual dan atau membedah buku terbitan baru. “Di akhir tahun kami akan membukukan hasil-hasil diskusi ini,” kata Delyuzar ini.

Sementara intelektual muda Irawan Santoso, SH merasa bangga bisa hadir dalam diskusi Laftran Institute ini. “Ini saya hadir untuk yang kedua kalinya, di Eropa nama Lafran Institute ini sudah sering disebut karena mereka pikir ada kaitannya dengan Le Franc yang terkenal itu,” kata Irawan Santoso berseloroh.

Diakhir diskusi Irawan Santoso menghadiahkan bukunya berjudul “Kembainya Hukum Islam” kepada tokoh yang hadir diantara kepada Sekretaris DPW Persis Sumut Abdul Aziz, ST dan praktisi hukum OK Dedek Kurniawan, SH. (*)

Reporter:

An Jambak

Editor:

Harun AR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here