2 Desember 2021

Lockdown City

Cerita Pendek Harun Al Rasyid

Suasana kota berubah seratus delapan puluh derajat. Sunyi, sepi, kosong bagai tak berpenghuni. Tidak seperti biasanya, pagi-pagi sudah bising bunyi klakson kenderaan. Orang-orang seakan-akan berlomba mencapai tujuan. 

Kini, jalanan kosong melompong. Toko-toko tutup. Penjual sarapan yang selalu ramai di pagi hari juga tidak tampak batang hidungnya.

Hanya terlihat sepasang pemulung remaja tetap kukuh menyusuri gang demi gang di kota itu. Mereka memunguti botol-botol plastik bekas minuman yang dibuang orang sembarang beberapa hari sebelumnya. Sesekali pemulung yang pria menggesekkan bahunya ke bahu pemulung perempuan. Senyuman merekah di kedua bibir mereka. Pagi ini adalah pagi yang paling indah dalam hidup mereka. Matahari belum sepenggalan ketika kedua karung mereka sudah penuh botol plastik bekas minuman.

“Ayank Beb, kita ngaso dulu di bawah pohon besar itu,” kata pemulung perempuan.

“Oya Yank, ini matahari sudah garang, panas sekali hari ini,” kata pemulung lelaki.

Mereka pun menyatukan langkah menuju pohon besar yang rindang itu. Pohon besar itu tumbuh di pinggiran kota itu tidak jauh dari sungai yang mulai mengering. Sejak bangkai-bangkai babi mati dibuang di sungai itu, orang-orang mengacuhkan sungai itu. Menolehkan kepala saja mereka enggan. Apalagi harus menjejakkan kaki sekadar membasuh kaki. Mereka takut tercemar.

“Lumayan pengumpulan kita pagi ini. Semoga tiap hari seperti ini. Kita bisa menabung mengumpulkan uang untuk pesta pernikahan kita di kampung nanti,” kata pemulung lelaki sambil meneguk air mineral yang masih tersisa di salah satu botol plastik yang mereka kumpulkan. Setelah diteguknya, botol itu diserahkannya pada pemulung perempuan sambil berkata: “Masih ada  beberapa teguk lagi,” katanya.

“Alhamdulilah, tapi pada kemana orang-orang? Tidak biasanya seperti ini. Kota ini bagai mati. Tak berpenghuni. Apa yang terjadi,” tanyanya lirih sambil menyandarkan punggungnya ke punggung pemulung lelaki. Pemulung lelaki tak kalah gesitnya, segera dirangkulnya tubuh munggil pemulung perempuan dan diraihnya ke pelukannya. “Mumpung lagi sunyi, ini kesempatan,” katanya dalam hati.

Pemulung perempuan secara otomatis mengubah posisinya dari membelakangi pemulung lelaki menjadi saling berhadapan. Lalu sesuatu terjadi.

Tiba-tiba segerombolan orang, sekitar sembilan sampai sebelas orang berteriak-teriak dari ujung gang.

“Sudah ada yang mati, sudah ada yang mati. Dokter lagi. Wabah itu tidak pandang bulu. Menteri juga sudah kena. Presiden juga bisa kena. Jaga diri kalian. Jangan ada yang berkeliaran di luar rumah. Wabah itu sudah sampai di sini. Wabah itu menyerang kita,“ begitu terdengar teriakan mereka.

Kedua pemulung tetap tak mengerti tentang apa yang diteriakkan orang-orang. Tapi mereka segera bangkit, takut kalau-kalau mereka menjadi objek kesalahfahaman. Lalu mereka berusaha bersembunyi di balik pepohonan sampai gerombolan orang-orang itu lewat.

Di belakang gerombolan itu ada orang mengusung keranda jenazah yang tertutup plastik transfaran. Para pengusungnya memakai penutup mulut dan wajah mirip orang-orang planet. Pakaiannya mirip pakaian anstronot yang mau pergi ke luar angkasa.

“Ada apa sebenarnya yang terjadi dengan negeri ini? Kenapa mereka begitu panik? Seakan-akan dunia ini akan kiamat,” bisik pemulung lelaki ke telinga pemulung perempuan.

“Awak juga tidak tahu Ayank Beb. Bukankah kita selalu bersama ke mana-mana. Apa yang kita tahu pun selalu sama, hanya soal botol-botol plastik dan lokasi-lokasi strategis tempat kita bercinta,” kata pemulung perempuan sambil mencubit pinggang pemulung lelaki.

“Jangan kau pancing geloraku. Kutekan pula kau nanti. Kacoo. Bagaimana kalau kita ikuti mereka. Kita perlu tahu juga apa yang terjadi. Jika nanti ada regulasi kita bisa mengantisipasinya. Walaupun kita pemulung, keberadaan kita tetap menjadi aset penting negara ini dan selau jadi proyek para pembesar. Mana tahu juga para pemulung akan dapat kartu dari Presiden,” kata pemulung lelaki lagi.

“Jangan, jangan bermimpi, jangan berpolitik. Politik itu jahat. Lain di mulut lain di hati. Kita sudah jadi korban. Jangan lagi melibatkan diri. Biarlah mereka yang berpolitik. Kita jadi pemulung saja. Dengan begini kita kan sudah bahagia,” kata pemulung perempuan manja.

“Mainset perempuan memang begitu. Mau enaknya saja. Tapi sebagai lelaki aku harus tahu, apa yang terjadi. Supaya aku bisa melindungi kau. Kembalilah kau ke kolong jembatan tempat tinggal kita. Aku akan mengikuti mereka. Aku harus tahu apa yang terjadi. Menjelang sore, aku sudah kembali dan kita bisa melanjutkan percintaan kita,” kata pemulung lelaki itu. Dia lalu berdiri dan berjalan mengendap-endap dari balik pepohonan mengikut gerombolan pengusung jenazah itu. Pemulung perempuan tidak mampu mencegah, dia hanya menatap nanar kepergian pemulung lelaki. “Dia memang begitu, keras kepala, tapi dia tetap pahlawanku,” bathinnya sambil beranjak menyusuri pinggiran sungai menuju kolong jembatan, istana mereka.

Ternyata gerombolan itu berhenti di sebuah pemakaman umum. Di sana sudah banyak berkumpul orang-orang berpakaian rapi. Nampaknya para pejabat. Diantaranya mengenakan baju yang ditempeli lencana-lencana dari emas. Mereka mungkin para jenderal, mungkin juga lurah, camat, walikota, gubernur atau mungkin juga Presiden. Pemulung lelaki itu juga tidak tahu siapa mereka dan kenapa mereka ada di situ. Sepertinya bakal ada upacara penting. Tapi upacara kok di pemakaman. Apa yang akan dimakamkan seorang pahlawan.

Dari balik pagar pemakaman, pemulung lelaki itu berusaha mengintip. Sayup-sayup dia dengar seseorang berpidato berapi-api. “Kita sedang menghadapi perang besar, negara kita diserang, kita harus melawan, kita harus kerahkan semua kekuatan angkatan perang kita melawan musuh kita ini. Hari ini saya perintahkan seluruh personil intelijen untuk mencari para penyusup yang menyamar jadi wabah yang menakut-nakuti rakyat. Tangkap mereka, masukkan ke kamp-kamp konsentrasi, jika melawan hancurkan mereka, babakbelurkan mereka. Jangan ada yang tersisa,” begitu pidatonya sayup-sayup terdengar.   

Setelah usai berpidato, mereka membubarkan diri sama seperti yang sering disaksikannya ketika melihat para mahasiswa berunjukrasa. Mereka datang ke satu tempat biasanya Gedung Parlemen atau Istana Presiden. Pemimpin mereka berpidato, berorasi disaksikan aparat keamanan dan para wartawan yang mengambil foto. Setelah itu mereka bubar, menghilang entah ke mana. Para pemimpin kembali ke cafe-cafe melakukan tos dengan para petinggi yang tadi mereka caci maki.

Tiba-tiba pemulung lelaki dikejutkan dengan kedatangan segerombolan orang berseragam. Mereka bersenjata lengkap berlaras panjang. Beberapa orang diantaranya langsung meringkus pemulung lelaki.

“Tangkap, tangkap, ini dia penyusupnya. Dialah yang menyebarkan rasa ketakutan itu.  Angkat dia ke tank, interograsi segera, kalau tak mau bicara, hancurkan, hilangkan jejaknya,” perintah seseorang diantara mereka. Pemulung lelaki pasrah, tak berdaya, dia tak tahu apa-apa. Beberapa kali popor senjata menghantam rahangnya. Sakit? Ya tentu sakit sekali. Tapi dia tahankan saja. Dia hanya pemulung. Wajar mendapat perlakuan tak adil. Apa pun yang ditanya, dia tak tahu menjawabnya. Lebih baik diam. Karena kalau menjawab malah nanti jadi masalah. Setiap kali ditanya, dia tak menjawab, popor senjata lalu menghantam rahangnya. Dia tahankan. Bahkan dinikmatinya.

Inilah bukti kepahlawanannya sebagai orang tertindas. Lobang hidung dan telinganya mulai mengeluarkan cairan kental berwarna merah. Merah seperti merah bendera negaranya. Bendera yang dia saksikan dikibarkan setiap tanggal 17 Agustus. Dia memang tidak berada diantara orang-orang yang memberi hormat saat bendera itu dikibarkan. Dia hanya berdiri tegap dan menundukkan kepala dari pinggir sungai. Diresapinya dengan syahdu lagu kebangsaannya yang dinyanyikan bersamaan dengan pengibaran bendera itu.

Tiba di satu tempat yang dia tidak tahu di mana dan tempat apa. Yang dia rasakan, tempat itu terlalu dingin tapi penuh cahaya sehingga matanya jadi silau. Dia tak berani membuka kelopak matanya. Suasana sunyi senyap. Lalu ada langkah berat dan teratur mendekat.

“Namamu?” suara berat menyapa. Dia diam. Dia lupa siapa namanya. Sejak bertemu pemulung perempuan itu, dia lupa namanya. Pemulung perempuan memanggilnya “Ayank Beb”. Tapi tak mungkin nama itu disebutkannya. Nanti malah dituduh meleceh.

“Ngaku saja, kau Corona kan? Kau terregistrasi sebagai Covid-19, pasukan penghancur massal dari negara asing itu kan, ngaku saja. Kalau kau mengaku kau akan direhabilitasi dan akan menjadi warga negara kehormatan dengan fasilitas istimewa bebas berkeliaran di seluruh wilayah negara ini,” kata suara itu lagi. Dia diam saja. Kepahlawanannya terusik. Kalau dia mengiyakan, dia akan jadi pengkhianat. Dia tidak mau. Sebagai pemulung dia punya harga diri. Lebih baik mati daripada jadi pengkhianat. Aku akan diam.

“Baiklah, waktumu tinggal beberapa detik lagi. Jika kau tidak mengaku kau akan selesai. Selamat jalan,” kata suara itu lagi. Dia tetap diam untuk selamanya.

Di markas besar, seseorang melapor pada tuannya.

“Lapor, Corona dengan registrasi Covid-19 telah kita amankan, jejeknya sudah kita hilangkan tanpa bekas. Laporan selesai.”

Kwala Bekala, 18 Maret 2020

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

YouTube
Instagram