MEDAN-RENTAKNEWS : Peristiwa hujan es di beberapa desa di Kecamatan Laguboti Kabupaten Toba Samosir disebabkan tinggi intensitas pertumbuhan awan Comulonimbus disertai terjadinya belokan angin kencang yang menyebabkan terjadi tumbukan angin di atas daerah tersebut. Hal itu dikatakan Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah I, Edison Kurniawan SSi, MSi tentang fenomena alam yang terjadi pada Ahad (1204/2020).

Sebagaimana diketahui pada hari Ahad tanggal 12 April 2020 telah terjadi hujan es disertai angin kencang melanda sembilan desa di Kecamatan Laguboti, Kabupaten Tobasa. Ada sembilan desa yang terkena dampak hujan es dan angin kencang yaitu Desa Oppu Raja Hutapea, Desa Oppu Raja Hutapea Timur, Desa Sitanggang, Desa Simatibung, Desa Pardinggaran, Desa Sibuea, Desa Oppu Raja Hatulian, Desa Sibarani dan Desa Tinggi Nipasir. Akibat hujan es dan angin kencang itu tercatat sedikitnya 34 unit rumah rusak.

Menurut Edi kurniawan, berdasarkan analisa pola angin gradien pada tanggal 12 April 2020 pukul 07.00 wib dan 19.00 wib menunjukkan adanya sirkulasi angin di wilayah  perairan barat  Sumatera Utara. Hal ini mengakibatkan munculnya pertemuan dan belokan angin di wilayah Sumatera Utara, sehingga memicu munculnya daerah pertumbuhan awan hujan  dengan intensitas sedang  hingga lebat yang disertai angin kencang  berpotensi terjadi di wilayah tersebut.

Fenomena hujan es dan angin kencang di wilayah laguboti dan sekitarnya  disebabkan oleh beberapa faktor (kondisi dinamis atmosfer) yakni adanya pertemuan dan belokan angin di wilayah Sumatera Utara. Faktor yang mempengaruhi diantaranya adalah kondisi suhu muka laut di wilayah pantai barat dan timur Sumatera cukup hangat sehingga memberikan asupan massa udara basah  yang cukup banyak serta  adanya pertumbuhan  awan Cumulonimbus (CB)  penyebab terjadinya hujan es dan angin kencang.

BMKG mengamati empat pos hujan di Toba yang menunjukkan curah hujan di Kecamatan Tempahan tercatat 5 milimeter, di Laguboti tercatat 14 milimeter, di Borbor tercatat 14 mm dan Lumban Julu tak tercatat.

Sementara itu di tempat terpisah, Mantan Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Belawan, Abdul Aziz, ST mengatakan berdasarkan klasifikasi hujan dapat dibagi dalam empat jenis. Pertama, hujan gerimis atau drizzle merupakan presipitasi hujan dengan jumlah sedikit atau ringan umumnya butiran hujan memiliki diameter kurang 0.5 milimeter. Kedua, hujan batu es merupakan batu es yang turun dari awan yang memiliki temperatur dibawah 0 derjad celsius yang terjadi pada cuaca panas. Terakhir hujan deras atau rain, merupakan curah hujan yang memiliki  butiran kurang dari 7 milimeter.

“Jadi yang terjadi di Laguboti itu adalah jenis kedua yaitu hujan es,” kata Aziz lagi.

 Kepala BMKG Wilayah I Sumut Edison Kurniawan mengimbau agar masyarakat dapat mengakses cuaca dan peringatan dini di http: www.bmkg.go.id. (*)

Reporter:

Abdul Aziz

Editor:

Harun AR

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here