MEDAN-RENTAKNEWS.COM : Perhelatan konferensi pers oleh sejumlah pejabat pemerintahan dinilai rentan memicu penularan Covid-19 kepada para jurnalis karena biasanya perhelatan itu cenderung melanggar protokol kesehatan. Hal itu dikatakan Ketua AJI (Aliansi Jurnalis Indonesia) Surabaya Miftah Farid di Surabaya, menanggapi berita 50 orang pekerja media massa di Surabaya dinyatakan positif mengidap Covid-19.

“Konferensi pers tatap muka antara pejabat negara dan komunitas wartawan kerap melanggar protokol kesehatan,” kata Miftah sebagaimana dikutip BBC News Indonesia, Rabu (14/07/2020).

Miftah berpendapat, ketidakpatuhan pejabat pemerintahan saat mengumpulkan banyak orang dalam satu lokasi dan waktu yang sama, apalagi tanpa prinsip jaga jarak, merupakan ironi. Apalagi acara jumpa wartawan itu disiarkan ke masyarakat.

“Kami beberapa kali menyurati pemerintah Surabaya dan Jawa Timur soal ketidakpatuhan mereka pada protokol saat peliputan. Setiap hari banyak sekali acara seremonial yang dilakukan pejabat, mengundang banyak orang. Ini tidak adil. Mereka merazia orang-orang di warung, memberi hukuman untuk mempermalukan pelanggar di depan umum, tapi setiap hari mereka mempertontonkan hal memalukan, yaitu mengundang kerumunan, termasuk wartawan,” kata Miftah saat dihubungi via telepon.

Sebanyak 54 karyawan Radio Republik Indonesia (RRI) di Surabaya, menurut hasil tes usap yang keluar 11 Juli lalu, dinyatakan positif Covid-19. Sementara itu dua orang karyawan TVRI Surabaya dikabarkan meninggal dan dimakamkan dalam protokol Covid-19. Tiga karyawan Metro TV Surabaya juga dipastikan mengidap penyakit tersebut.

Sementara itu Humas Pemko Surabaya Febriaditya Prajatara menyebut aktivitas dengan keramaian seperti jumpa pers memang berisiko menjadi momen penyebaran virus corona. Kegiatan ituakan segera dikurangi. “Kami berusaha sebisa mungkin mengurangi konferensi pers dan hanya akan mengeluarkan rilis tertulis mengenai suatu informasi,” ujarnya.

“Kami juga sudah bekali wartawan yang meliput di kantor kami dengan hand sanitizer. Kami imbau mereka agar menjaga protokol kesehatan. Tapi sebagus apapun protokol yang ditetapkan pemerintah, tergantung ke masing-masing orang, seberapa disiplin mereka,” tuturnya. (*)

Sumber:

BBC News Indonesia

Editor:

Harun AR

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here