MEDAN- RENTAKNEWS.COM: Deputi Bidang Klimatologi BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) Drs. Herizal, MSi mengatakan suhu bumi selama periode tahun 2014-2019 adalah yang terpanas dalam sejarah bumi yang berhasil dicatat WMO. “Selama tahun 2019 suhu rata-rata bumi sudah lebih dari 1,0 derajat Celcius. Ini sudah melebihi suhu tingkat pra industri dan pada tahun 2024 diprediksi akan melebihi 1,5 derajat Celcius,” kata Herizal kepada Rentaknews.com, Kamis (16/07/2020).

IKLAN
Drs, Herizal, MSi

Dijelaskan Herizal, WMO (Word Meteorological Organization) adalah organisasi meteorologi tingkat dunia yang memiliki Pusat Prediksi Iklim Tahunan (Lead Centre for Annual-to-Decadal Climate Prediction) yang melakukan pengumpulan dan menyediakan data analisis, prakiraan dan verifikasi dari sejumlah kontributor pusat-pusat prediksi iklim di seluruh dunia. Dari data yang dikumpulkan dari 17 Pusat Prediksi Iklim di dunia diantaranya sembilan di Eropa, tiga  di Asia, 4empat di Amerika dan satu di Australia WMO merilis laporan baru berjudul “WMO Global Annual to Decadal Climate Update for 2020–2024” pada tanggal 8 Juli 2020 lalu.

Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa kenaikan suhu global rata-rata tahunan dalam lima tahun mendatang akan cenderung naik setidaknya 1 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri di masing-masing tahun pada 2020 hingga 2024 dan ada kemungkinan 20 persen kenaikan itu akan melebihi 1,5 derajat Celcius dalam satu tahun. Laporan ini juga memberikan pandangan dan analisis iklim untuk lima tahun ke depan yang dapat ditindaklanjuti bagi para pembuat keputusan.

”Kondisi ini mengingatkan kita bersama agar memelihara bumi ini untuk kita wariskan kepada anak cucu kita kelak,” ungkapnya.

Mengutip Sekjen WMO Petteri Taalas, Herizal mengatakan bahwa kondisi itu akan menjadi tantangan besar ke depan dalam memenuhi target Perjanjian Perubahan Iklim Paris (Paris Aggrement) yaitu kesepakatan menjaga kenaikan suhu global abad ini di bawah 2 derajat Celcius  atau di atas tingkat pra-industri dan untuk menekan upaya membatasi kenaikan suhu global tidak lebih dari 1,5 derajat Celcius pada tahun 2030.

Lebih lanjut Herizal menjelaskan, dalam catatan iklim BMKG, Indonesia pada tahun 2019 merupakan tahun terpanas kedua setelah tahun 2016 dengan peningkatan suhu 0.84°C di atas rata-rata iklim pada tahun 1981-2000, Sedangakan emisi gas rumah kaca (GRK) yang terukur di Stasiun GAW BMKG Kototabang yang terletak di Kecamatan Palupuh, Sumatera Barat terus meningkat mencapai 408,2 ppm meskipun masih relatif lebih rendah dari GRK global. Sementara itu jumlah kejadian bencana hidrometeorologi terus bertambah mencapai 3362 kejadian.

“Penelitian petugas BMKG dengan menggunakan data suhu di Jakarta hasil pengamatan sejak zaman Belanda, selama 150 tahun menunjukkan peningkatan suhu rata-rata yang signifikan di Jakarta, yaitu 1,6 derajat Celcius dari tahun 1866 hingga tahun 2012 lalu. Laju peningkatan ini dapat dibandingkan dengan hasil analisis WMO yaitu kenaikan suhu global sebesar 1,1 derajat Celcius terhadap zaman pra-industri tahun 1850-1900 sebagai garis dasar periode acuan perubahan iklim global,” kata Herizal.

Herizal menjelaskan, suhu bumi yang terus memanas itu telah berdampak pada lingkungan. Salah satunya memicu perubahan pola hujan dan peningkatan cuaca ekstrem. Di Indonesia, secara umum perubahan pola hujan itu ditandai oleh peningkatan hujan di daerah di utara khatulistiwa yang menyebabkan iklimnya cenderung semakin basah sementara di selatan khatulistiwa cenderung kering. Namun di banyak tempat ditemukan bukti bahwa hujan dalam kategori ekstrem terus meningkat kejadiannya.

Ditambahkannya, data pengamatan yang dikumpulkan selama 130 tahun menunjukkan hal tersebut. Meskipun rata-rata curah hujan tahunan relatif sama bahkan menurun, namun frekuensi hujan ekstrem justru meningkat. Sekitar 10 persen intensitas hujan tertinggi di Jakarta di atas 100 mm per hari telah meningkat sebesar 14 persen akibat penambahan suhu per satu derajat Celcius. Trend cuaca ekstrem juga meningkat, ditandai dengan peningkatan frekuensi dan skala bencana hidrometeorologi.

Ketika ditanya pandangannya tentang bagaimana pengaruh perubahan iklim global ini terhadap kondisi Pandemi Covid-19, Herizal menjelaskan, meskipun Covid-19 berkontribusi pada penurunan emisi pada tingkat tertentu pada tahun ini, namun hal itu diperkirakan tidak akan signifikan pengaruhnya pada pengurangan konsentrasi atmosfer CO2 yang mendorong peningkatan suhu global, karena daur hidup CO2 yang sangat lama di atmosfer.

“Yang jelas Covid-19 telah menyebabkan krisis kesehatan dan membuat ekonomi global terpuruk pada tahun ini, kegagalan untuk mengatasi perubahan iklim dapat mengancam kesejahteraan manusia, ekosistem dan ekonomi selama berabad-abad. Setiap pemerintah di dunia harus menggunakan kesempatan untuk melakukan aksi iklim sebagai bagian dari program pemulihan dan memastikan bahwa kehidupan bumi tumbuh kembali dengan lebih baik.(*)

Reporter:

Abdul Aziz

Editor:

Harun AR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here