9 Desember 2021

Arogansi

sumber Google.

Arogansi, sebuah kata yang mengartikan kesobongan atau keangkungan. Banyak sebab orang menjadi angkuh, sebagaimana tak sedikit jalan bagi manusia menganggap diri berbeda dari orang lain. Semua bermula dari bagaimana kita mengenal diri, bagaimana posisi kita ditengah hubungan pergaulan dalam pekerjaan, hubungan pergaulan bermasyarakat atau dalam hubungan vertikal dengan sang maha Kuasa. Karena, keangkuhan adalah ekspresi perasaan lebih atas orang lain. Perasaan yang kemudian menuntut perlakuan istimewa. Perasaan yang membuat kita enggan beretika. Perasaan lebih tahu misalnya, bisa berujung pada hati yang mati, karena kelebihan pengetahuan, justru menjadi angkuh. Merasa lebih pintar, lebih tahu dari orang lain, sehingga tak merasa perlu merujuk pada referensi lain, terlebih jika dianggapnya tak memiliki referensi ilmiah. 

Dalam sebuah dialog antara Piere-Simon Laplace, matematikawan Perancis, dengan Napoleon Bonaparte. Simon menyerahkan satu karya besarnya “Mécanique Céleste”. Napoleon bertanya, “kau telah menulis buku tentang alam semesta setebal ini, tapi aku tidak melihat sama sekali kau menyebut Tuhan didalam tuliasanmu?”, Dengan angkuhnya Simon menjawab, “Aku tidak membutuhkannya dalam hipotesisku, karena aku tak bergantung padaNya”. Sungguh tragis bagaimana sebuah hipotesa besar tentang alam semesta ditulis tanpa menyebutkan kata Tuhan sebagai pemiliknya. Manusia terlalu angkuh untuk mau mengakui kelemahannya. Padahal semangkin kita tahu semangkin banyak kita tidak tahu, perkembangan pengetahuan sendiri menjelaskan kenyataan itu. Apa yang kita temukan hari ini, akan ketinggalan dikemudian hari.

Manusia boleh saja terbang mencapai langit tertinggi atau menembus laut terdalam, tetapi bagaimana dirinya tercipta dari kekuasaan Ilahi tak pernah dapat dianalisa secara logika. Begitu kompleksnya struktur sosok manusia Allah SWT ciptakan. Bahkan seorang psikolog yang mendalami kejiwaan manusia itu tak pernah mengerti kondisi jiwanya sendiri. Kecerdasan, kelimpahan harta, ketokohan ditengah masyarakat, banyak pengikut, memiliki kekuasaan besar dalam organisasi menjadi jalan munculnya sifat arogan. Merasa lebih dari yang lain, merasa memiliki segalanya, merasa dapat membeli semua, merasa abadi segalanya.

Sebuah kisah Qarun sang jutawan, staff khusus Nabi Musa penguasa Bani Israel, memiliki kelebihan harta berlimpah. Suatu saat Qarun gagal memaknai hakikat rezeki, dengan mengatakan, ”Sesungguhnya aku dapatkan harta ini karena ilmuku”. Merasa punya, itulah masalahnya. Karena merasa punya, orang berpikir bisa melakukan apa saja, kapan saja bahkan dimana saja. Padahal punya dan menikmati tak selalu berbanding lurus. Betapa banyak orang punya duit, tapi tak bisa menikmatinya, karena alasan sakit atau yang lainnya. Orang bisa membeli ranjang semewah apapun, tetapi belum tentu dia bisa menikmati tidur. Orang bisa membeli makanan semahal apapun, tetapi belum tentu bisa menikmatinya. Jadilah hamba yang tahu diri, hamba yang tahu berasal dari setetes air hina yang memancar, hamba yang tunduk dan patuh kepada-Nya.

Penulis : TI MIshaq

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

YouTube
Instagram