1 Desember 2021

Kenapa Ada Anak yang Suka Menyendiri?

Rubrik Psikologi Rentaknews

Diasuh oleh Erlinda Mandai, SPsi

Kalau kita sering memperhatikan aktifitas anak-anak, pasti Anda penah menyaksikan dalam suatu kelompok anak-anak yang sedang bermain ternyata ada anak yang lalu tiba-tiba memisahkan diri dari kelompoknya. Dia lalu asyik bermain sendiri sementara teman-temannya adik bercerita dan bergurau. Tentu akan muncul dalam pikiran kita, ada apa dengan anak ini? Apakah dia memang suka menyendiri atau karena kesepian dan tidak mau bergaul dengan teman-temannya?

Psikolog Dr. Jens Asendorpf berpendapat memang ada tiga tipe karakter anak-anak yaitu: tipe senang bermain sendiri dan percaya diri, tipe pemalu terhadap orang lain atau lingkungan baru dan tipe tak percaya diri.

Tipe Senang Bermain Sendiri

Anak tipe ini sebenarnya sangat mandiri dan dewasa untuk ukuran anak seusianya. Sehingga anak ini sangat disegani teman-temannya. Orang tua tidak perlu khawatir dengan tipe anak seperti ini karena perilaku tersebut tidak menimbulkan pengaruh negatif dalam perkembangan mentalnya. Anak tipe penyendiri seperti ini memiliki imajinasi yang tinggi dan rasa percaya diri yang tinggi pula.

Tipe Pemalu Terhadap Orang atau Lingkungan Baru

Anak tipe ini ada dua jenis yaitu pertama, anak yang mempunyai rasa malu yang selalu meningkat dan dia merasa semakin sendiri dalam dunianya. Kedua, anak yang kesulitan beradaptasi dengan lingkungannya dan rasa malunya tidak bertambah bila ia dapat menyesuaikan diri.

Tipe Tidak Percaya Diri

Anak tipe ini tidak ingin terlibat dengan dunia luar. Dia akan membuat hukum sendiri dan penilaian sendiri terhadap dunia luar. Tipe ini suka memendam perasaan, tidak pernah yakin dirinya sanggup melakukan sesuatu. Orang tua perlu khawatir dengan anak tipe ini karena anak tipe ini selalu memandang negatif terhadap diri dan lingkungannya.

Lalu apa yang perlu dilakukan oleh orang tua yang memiliki anak penyendiri ini. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orang tua, antara lain:

1. Perlakukan anak sesuai tipenya.

2. Cegah sedini mungkin.

3. Tumbuhkan rasa percaya diri anak.

4. Biarkan anak mandiri.

Pada dasarnya kemampuan anak bersosialisasi sangat ditentukan oleh penanaman sikap yang dilakukan sejak bayi. Juga penerapan norma-norma yang berlaku dalam lingkungan.

Orangt  tua bisa melibatkan anak dalam kegiatan yang mengharuskannya bekerjasama dengan orang lain. Contohnya, bermain basket atau main bowling. Diawali dari kegiatan yang melibatkan satu-dua orang teman terdekatnya, seperti main video games bersama. Secara perlahan, interaksi sosial yang dibangun akan semakin meluas dengan bertambahnya orang yang terlibat. (*)

Catatan:

Pembaca dapat mengajukan pertanyaan seputar masalah Psikologi ke Rubrik Psikologi Rentaknews ini yang akan dijawab Tim Pakar Psikologi Rentaknews. (Redaksi)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

YouTube
Instagram