Ilustrasi. Foto Samuel Silitonga
Ilustrasi. Foto Samuel Silitonga

Hembusan udara pantai lewat jendela kaca mobil terasa menyejukan, semilir terasa dingin mengaliri pori-pori wajahku. Kubuka lembaran data dari tas jinjingku, memeriksa kembali berkas yang telah selesai diserahterimakan. Teman-teman relawan sosial sebagian telah tertidur keletihan dijok belakang. Bang Syahril anggota team sebagai supir disampingku sedang konsentrasi menyetir, aku tak berani mengajaknya bicara, khawatir dengan jalanan yang tidak terlalu mulus, beberapa kilometer masih pengerasan. Teman mengobrol sepanjang perjalananku ini luas keilmuannya. Senang pula beliau diajak berdiskusi.

IKLAN

Dua hari satu malam aku bersama teman-teman relawan ditugaskan menyampaikan santunan kepada keluarga dhuafa dipesisir pantai kota Tanjung Tiram. Kegiatan sosial yang telah diprogramkan organisasi tempat aku berkiprah setiap tahun. Beberapa CSR dari BUMN dan BUMD harus tersalurkan sebelum berakhir tahun 2012. Bekerja dalam kegiatan sosial ini memang melelahkan, menghabiskan waktu dan tenaga, dari survei & pemetaan, menyusun program, buat proposal, hingga menyalurkan kemasyarakat. Namun ada semacam kepuasan tersendiri bila bisa berbagi kepada sesama yang membutuhkan. 

Sesaat kupalingkan wajah kearah kiriku, aku melihat seorang pedagang keliling mengendarai sepeda motor dengan gerobak disampingnya. Kendaraannya semula berjalan cepat, namun ada pengerasan jalan kendaraan diperlambat +/-20 km/jam, sesaat kendaraan kami berjalan berbarengan. Sepeda motor gerobaknya semakin diperlambat. Beban gerobak tidak terlalu berat dengan barang-barang dagangannya, sebagian sudah habis terjual, terlihat dari pelastik pembungkus yang masih menempel digerobaknya. Berbagai jenis mainan anak-anak dan asesories perempuan masih tergantung disisi belakang gerobaknya. Tertempel dibadan gerobak slogan, “optimis bro, hari ini harus lebih baik dari kemarin.!”, Eh, kata-kata motivator pembangkit semangat, gumanku dalam hati.“ hebat juga orang ini” pikirku lagi. Kupikir Ia sedang berjalan menuju rumah, untuk kembali kekeluarganya.

Awalnya, aku tidak memperhatikan sikap duduknya diatas kendaraan, sampai aku melihat sesuatu yang menurutku sedikit agak ganjil dari kebiasaan orang membawa sepeda motor. Masya Allah, ternyata kakinya tidak menapak pada pedal sepeda motor. Sepasang kakinya hanya menggantung, kira-kira hanya berjarak dua jengkal dari pangkal pahanya. Diujung kakinya, dikenakan sepasang sepatu karet hitam bertali, bagus dan bersih, arah sepatu itu yang membuatku sedikit kaget, terbalik. Ujung jari yang lazimnya ke depan, namun justru kearah belakang. Sejenak aku merasa miris, melihat kondisi fisiknya, tidak normal. Namun aku kagum dengan semangat bapak tua itu. Walau keadaannya seperti itu, dia kelihatan percaya diri, optimis dan bersemangat. Masih disempatkannya melempar senyum padaku “ assalamualaikum” ujarnya menyapaku “ waalaikumsalam” jawabku terperangah.

Kendaraan kami menepi dipojokan kedai kopi, istirahat sejenak sebelum kembali ke Medan. Kujabat tangannya “apa kabar pak” kataku seolah sudah mengenalnya,“ alhamdulillah baik, wah, mau balik ke Medan ini Pak” jawabnya “ya” jawabku, sambil memperhatikannya. “gimana, apa sudah selesai pembagiannya“, katanya “ Insya Allah sudah pak” jawabku. “ada beberapa desa yang belum pernah disurvei lho pak, tahun depan tolong disertakan” katanya lagi, aku tersentak kaget, ternyata beliau telah mengenaliku dan team yang kukomandoi. Beliau begitu akrab menyapa, hangat membangun persahabatan, lemah lembut bertutur kata, menyampaikan data lapangan dengan benar, bahkan beberapa permasalahan yang luput dari pengamatan kami selama ini disampaikannya dan diberikan solusi, sorot matanya begitu tajam ketika berbicara, menguasai pembicaraan, tak kelihatan perasaan rendah diri karena cacat fisiknya.

Sosok tak sempurna ini ternyata laki-laki kuat, berani, berilmu, bertanggung jawab dan penuh percaya diri. Mampu menjadikan dirinya bermanfaat untuk orang lain dan lingkungannya. Dia tidak meminta-minta, tidak menghibah-hibah agar orang lain memandangnya kasihan. Dia tidak berpakaian kusut supaya dianggap papa tak punya apa-apa, tapi justru berpakaian rapi dan bersih. Dan dia tidak mau mengemis, bahkan mampu menjadikan dirinya bermanfaat buat orang lain dan lingkungannya, tidak menyia-nyiakan waktu bahkan masih bekerja untuk keluarganya sampai selarut malam itu.

Akhirnya rombongan kami berpisah dengan beliau malam itu usai minum kopi hangat dan sepiring ubi goreng di warung kopi Abah Dollah, kontak person kami dilapangan. Aku masih terus menatap bapak itu sampai hilang dari pandanganku. Sejenak aku merenung. Adakah kita lebih bersemangat dari bapak itu? Padahal kita lebih sempurna secara fisik. Lebih banyak hal semestinya yang bisa kita lakukan. Tapi sampai seberapa mampu kita mengolah segala yang kita miliki. Berangkali sering kali kita memoles diri supaya terlihat hebat, namun menempatkan diri sebagai sosok yang rendah diri, berbicara lantang padahal takut dengan tantangan, berbicara berbelit- belit padahal ingin berkelit.

Tapi, seorang bapak yang tidak kukenal malam itu telah mengajarkan kepada kita, bahwa siapapun kita, siapapun keturunan kita, apapun keadaan diri kita, apapun nasab dan nasib kita jangan mudah berprasangka, tidak perlu merasa rendah diri, tidak mudah tersinggung, tidak pendendam, tidak mudah merendah-rendahkan diri agar dikasihani. Tampilah apa adanya, idealis sebagai orang yang pantas dihargai, bukan dikasihani.(TI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here