9 Desember 2021

Masyarakat Minang Kota Medan Pajang Spanduk Kecam Puan Maharani

MEDAN-RENTAKNEWS.COM: Tersinggung oleh ucapan Ketua Bidang Politik dan Keamanan DPP PDIP, Puan Maharani, masyarakat Minang di Kota Medan, Jum’at (11/09/2020) menggelar aksi solidaritas di depan Masjid Raya Al Mashun. Aksi ini terdiri dari penggalangan petisi tanda tangan dukungan agar Puan Maharani meminta maaf dan dilanjutkan pernyataan sikap.

Aksi ini diinisiatori oleh tokoh-tokoh masyarakat yang terdiri dari, Buya Rafdinal, Ir. Khairi Amri, Hendry Piliang, Adek NasChan, Alwi Jambak dan Erlinda Mandai.

Tokoh Masyarakat Minang Ustad Azwir Ibnu Azis ikut membubuhkan tanda tangan pada sanduk mengecam Puan Maharani. (Foto APP)

Perwakilan Masyarakat Minang Perantauan Alwi Jambak mengatakan aksi ini merupakan wujud gerakan spontanitas masyarakat dan perantauan Minang di Kota Medan. “Ini merupakan gerakan spontanitas masyarakat perantau Minang yang berada di Medan yang merasa tersakiti dan terdzholimi dengan ucapan Puan Maharani waktu penyerahan surat dukungan dari PDIP kepada Calon Gubernur Sumatera Barat,” katanya

Inti pernyataan Puan itu seakan-akan masyarakat Sumbar belum berpancasila, padahal seperti diketahui inisiator-inisiator Pancasila itu kebanyak orang Minang. Aksi ini juga menunjukkan respon perantau Minang yang tetap memperhatikan apapun yang terjadi di Sumbar.

Kepada Rentaknews.com Alwi juga mengatakan ini merupakan hari terakhir dilakukannya aksi. “Ini merupakan hari terakhir setelah sebelumnya kami mengadakan di daerah Bromo, Pusat Pasar, serta Amaliun, dan terakhir di Masjid Raya ini,” katanya.

Tampak hadir dalam aksi itu,  Ustad. H. Azwir Ibnu Azis dan Tokoh Tetua Masyaraat Minang Drs. H. Jufri Ragani, M.BA. “Kami ingin mempertegas bahwa perkataan Pun Maharani terhadap orang Minang itu tidak benar, justru orang Minang ini paling nasionalis. Puan Maharani itu salah, berapa banyak putra-putra Minang yang andil dalam kemerdekaan? Saya harap dia jika tidak tahu jangan berkata jadi, karena resikonya sangat berat. Firaun itu kerjanya mengadu domba rakyatnya, itu yang saya lihat hari ini, berhentilah kalian hari ini untuk melakukan penistaan terhadap daerah-daerah, kalau tidak sumbangan dari daerah kapan negara ini mau bersatu? Saya apresiasi aksi hari ini, agar ia sadar jangan memecah belah masyarakat,” ujar Azwir.

Tokoh Tetua Masyarakat Minang Drs. H. Jufri Ragani, M.BA bercerita tentang peran orang Minang bagi Indonesia. “Anda kalau baca sejarah pada 28 Mei 1945 Muhammd Yamin sudah pidato mengenai peri ketuhanan, peri kemanusiaan, peri keadilan sudah ada, baru Supomo tanggal 30, lalu tangal 1 Juni itu rapat bersama meumuskan Piagam Jakarta disitu ada tiga orang Minang lagi, ada Agus Salim, ada M.Yamin, ada Hatta, apalagi yang disangsikan dengan kita Pancasila? Kalau kita baca buku Nurcholis Madjid, itu 60% pendiri republik ini adalah orang dari tanah Minang, apalagi yang diragukan? Kalau Puan salah bicara begitu tidak tahu sejarah, mari kita gali sejarah, seharusnya dia belajar ke Minangkabau, baca falsafah hidup orang Minangkabau adat bersandi sarak, sarak bersandi kitabullah, itu yang kami pegang. Jangan diragukan lagi dengan republik ini, Pancasila bagi orang Minagkabau, kita dididik toleran, kalian lihat saya besar di Medan ini, semuanya kita hidup dengan tenang, kita punya prinsip di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung, apalagi? Kami tidak pernah mengganggu orang lain, adaptasi orang Minang dengan penduduk sekeliling itu paling bagus, maka untuk Puan saya kasih pepatah satu lagi, yang namanya sago merah, yang namanya kuriak kundi, yang baik adalah budi, yang indah adalah bahasa. Puan juga jika ditarik dia ada keturunan Minangnya,” jelas Jufri yang juga Wakil Ketua Badan Musyawarah Masyarakat Minang (BM3).

Rencananya spanduk berisi tandatangan yang berjumlah sekitar 5.000 tandatangan ini akan diserahkan kepada perwakilan DPRD Sumut untuk disampaikan ke DPR RI dan minggu depan direncanakan akan dilakukan pelaporan terhadap Puan Maharani ke Polda Sumut.

Langkah melaporkan Puan ke polisi, juga mendapat respons positif dari masyarakat, tidak hanya suku Minang. Bahkan, dia mengaku  masyarakat juga meminta mereka untuk menyampaikan aspirasi tersebut. Mereka juga protes keras atas ujaran yang disampaikan Puan itu.

“Ini sangat mengganggu kami. Kita akan menyerahkan bukti serta petisi tandatangan ini, juga konsolidasi dengan tim kuasa hukum. Dalam minggu depan kami akan melaporkan ke Polda Sumut. Yang jelas, ujaran Puan itu sudah menimbulkan kegaduhan,” tutup Alwi.(*)

Reporter :

Arif Perdana

Editor:

Dewani N Dalimunthe

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

YouTube
Instagram