BALIKPAPAN—RENTAKNEWS.COM: Keluhan sakit pada tulang dan sendi terasa sangat mengganggu. Keluhan ini bisa terjadi karena mengalami Osteoporosis (OP) atau Osteoarhritis (OA). Istilah kesehatan Osteoporosis dan Osteoarhritis memang belum banyak diketahui khalayak umum. Terdengar cukup mirip, namun banyak publik yang tak paham artinya.

Mengupas apa itu Osteoporosis dan Osteoarhritis, Siloam Hospitals Balikpapan Spesialis Ortopedi dari Siloam Hospitals Balikpapan, dr Yuliana Rianto, Sp.OT. mengadakan Webinar kesehatan bertajuk “Terdengar Mirip, Apakah Osteoporosis dan Osteoarhritis itu? Bagaimana cara mencegah dan mengobatinya.”

Osteoporosis (OP) dan Osteoarhritis (OA) adalah keluhan pada tulang dan sendi manusia yang dirasakan atau terdeteksi pada saat bergerak ketika melakukan aktifitas. OP sendiri sering disebut patah (hancurnya) tulang yang tak lain sebagai akibat pembentukan tulang baru. Prosesnya jauh lebih lambat daripada pembuangan jaringan tulang lama. “Ada remodelling tulang pada tubuh manusia. Artinya terjadi proses pembentukan dan penghancuran (tumbuh, kembang) dengan seimbang,” tutur Yuliana melalui keterangannya Jumat (05/09/2020).

Yuliana melanjutkan, dalam tubuh manusia ada tiga lokasi tulang yang penting dalam menjaga kesimbangan tubuh, yaitu tulang belakang, tulang (leher) pinggul, tulang pergelangan (tangan, kaki).

Sementara OA adalah suatu jenis peradangan (arthritis) yang terjadi ketika jaringan pada ujung-ujung tulang (sendi) mengalami kehausan atau pengapuran. “Risiko pada OA dapat terjadi antara lain karena kegemukan hingga faktor penuaan,” kata Yuliana.

Menurut Yuliana, wanita lebih berisiko diakibatkan adanya faktor genetik, riwayat trauma tulang dan lainnya. “Merokok dan kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol turut memicu peningkatan sel-sel penghancur tulang,” katanya.

Yuliana menjelaskan, bagian sendi yang sangat berisiko terjadinya OA yaitu sendi lutut karena menopang berat badan. Lalu sendi tangan, karena sering melakukan aktivitas dan sendi pinggul karena kurang beraktivitas.

Cara mencegah dan mengobati OP dan OA dapat dilakukan melalui terapi tanpa obat, yaitu berolahraga rutin dengan melakukan gerakan seperti senam atau jalan santai sesuai jarak kemampuan.

“Asupan nutrisi yang cukup, konsumsi susu pada usia dini, phsyoterapi, aktivitas penguatan otot, termasuk cara awal guna awal tindakan pengobatan OP dan OA,” kata Yuliana.

Sementara, untuk mendapatkan terapi medis, Siloam Hospitals Balikpapan menyarankan untuk dilakukan Xray, MRI tulang dari terapi awal hingga pembedahan dan program pemulihan terhadap keluhan OP dan OA. (*)

Sumber:  

iNews.id 

Editor:

Pristi Hapsari Hasugian

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here