“Palu Tumpul” Salman Alfarisi

IKLAN

Catatan Bang Harun

Hari Sabtu, (12/09/2020) kemaren saya diundang menghadiri acara Silaturrahim dengan H. Salman Alfarisi, LC, MA di Gedung Dakwah Balerong Ikatan Keluarg Bayur (IKB) Jalan Utama No. 135 Medan. Sebenarnya saya jarang menghadiri acara-acara seperti ini bukan karena saya tidak mau bersilaturrahim  tapi karena biasanya acara seperti ini hanya sekadar pertemuan biasa saja. Biasanya juga karena suatu niat yang akan disampaikan kepada masyarakat. Apalagi saya tahu dari pemberitaan media massa Salman Alfarisi akan maju sebagai Calon Wakil Walikota Medan berpasangan dengan Akhyar Nasution. Kalau pun ada dialog atau penyampaian aspirasi biasanya juga sangat verbal saja. Dan biasanya juga tidak berdampak apa-apa setelah itu. Ya berlalu saja seperti angin.

Tapi kali ini karena tokoh yang akan bersilaturrahim adalah Wakil Ketua DPRD Sumut dan sama-sama berkampung halaman di Sumatera Barat, saya menyempatkan hadir. Lagi pula Salman Alfarisi adalah juga anggota Badan Musyawarah Masyarakat Minang (BM3) Medan Johor yang kebetulan saya juga ikut jadi pengurus.

Lalu apa yang menarik diungkapkan Salman Alfarisi dalam pertemuan itu? Ya, Salman bercerita sebagai anggota legislatif seharusnya dia bisa berbuat banyak karena fungsi budgeting dan pengawasan yang mereka milik.

“Palu itu ada ditangan saya, sebagai Wakil Ketua DPRD Sumatera Utara saya sering memegang palu itu. Tapi apa daya jumlah kita sangat sedikit di parlemen baik di daerah maupun di tingkat nasional. Saya memang memegang palu tapi mereka yang menjalankan apa yang kita putuskan. Masalahnya apa yang kita putuskan ternyata tidak utuh dilaksanakan eksekutif. Inilah kendala kita, ini sistem demokrasi kita,” kata Salman ngelangsa.

Ya, itulah kenyataannya. Palu yang sering dipegang Salman yang seharusnya menentukan arah kebijaksanaan ternyata hanya palu tumpul, yang kemudian juga tidak ada artinya. Dan itu mungkin bukan keluhan Salman seorang. Kita sebagai warga melihat secara transfaran apa yang dilakukan kekuasaan saat ini. Kita melihat panggung politik Indonesia yang sangat kacau. Tidak ada lagi etika. Selalu memaksakan kehendak dengan alasan suara terbanyak. Sebagai warga negara kita maklum kekecewaan atau juga ketidakberdayaan seorang Salman Alfarisi menghadapi oligarki kekuasaan.

Saat ini Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tempat Salman selama ini bernaung telah menetapkannya  sebagai calon Wali Kota Medan berpasangan dengan Walikota petahana Akhyar Nasution. Ibarat main catur, ini mungkin langkah yang harus dimainkan PKS untuk memenangkan pertarungan di masa yang akan datang.

Menurut saya, Salman memang star rising, dia mungkin belum akan bersinar saat ini. Tapi mungkin lima tahun lagi. Sekarang cukup menjadi orang kedua dulu. Salman Alfarisi lahir di Medan tanggal 6 Juni 1973. Dia menjalani pendidikan menengah di SMA Madrasah Aliyah Darunnajah Jakarta 1991 lalu melanjutkan pendidikan tinggi ke Universitas Islam Madinah Al Munawaroh S1) dan

Universitas Kebangsaan Malaysia (S2).

Mengawali karir sebagai dosen Ma’had Abu Ubaidah 2004-2009 lalu menjadi anggota DPRD Medan 2009-2019 dan terakhir Wakil Ketua DPRD Sumut hasil Pileg tahun 2019.

Kita tentu saja berharap Salman sukses dalam Pilkada Kota Medan tanggal 9 Desember 2020 yang akan datang. Masyarakat memang berharap figur tawadduk seperti inilah pemimpin yang diinginkan rakyat. Semoga dengan terpilihnya Salman, kita bisa mengobati kekecewaan kita terhadap pemimpin selama ini. Aamiin.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here