2 Desember 2021

Pandemi Jadi Momentum Penguatan Trasportasi Berbasis Rel

JAKARTA–RENTAKNEWS.COM: Pemerintah dan berbagai pihak terkait diingatkan untuk berkomitmen kuat menjadikan transportasi massal berbasis rel sebagai primadona infrastruktur pengangkutan penumpang, kargo, dan barang yang strategis.

Komitmen ini mendesak di tengah tuntutan penyediaan transportasi pengangkutan penumpang yang cepat dan tinggi, efisiensi biaya logistik yang kompetitif, dan penghematan anggaran negara untuk biaya pemeliharaan maupun perawatan infrastruktur transportasi lainnya. “Kita tidak bisa membiarkan PT. KAI berpikir sendirian melakukan pemeliharaan infrastruktur PT. KAI yang relatif tua, restorasi stasiun dan aset yang luar biasa besar menjadi baik dan menarik, serta  mengadakan investasi baru untuk angkutan massal berbasis rel yang modern. Pemerintah harus mengambil momentum di era pandemi saat ini guna  perbaikan menyeluruh PT. KAI,” kata Wakil Ketua DPR Koordinator Bidang Industri dan Pembangunan (Korinbang) Dr. (H.C) Rachmat Gobel,  di atas KA Parahyangan Jakarta-Bandung, Sabtu (19/09/2020), dalam rangka kunjungan kerja ke Kantor Pusat PT. Kereta Api Indonesia (KAI), di Bandung Jawa Barat.

Menurut Rachmat, kunjungan kerja ke PT. KAI dengan transportasi kereta untuk merasakan dan mendengarkan secara  langsung keunggulan dan permasalahan transportasi berbasis rel. Perjalanan ini selain mengetahui fakta secara langsung, sekaligus sebagai mekanisme kontrol DPR. Pihaknya juga  ingin mengetahui efektivitas rencana pemerintah untuk memberikan tambahan  penanaman modal negara (PMN) sebesar Rp 3,6 triliun membantu PT. KAI menghadapi beban krisis ekonomi akibat dihantam pandemi Covid-19. Sebelumnya pada  2015,  BUMN strategis ini mendapat PMN sebesar dua triliun rupiah dan tahun 2017 mendapat tambahan PNM dua triliun rupiah, sehingga totalnya akan  menjadi 7,6 triliun rupiah.

Menurut Legislator Partai Nasdem, meski sudah ada komitmen bersama, namun keberadaan dan penguatan transportasi berbasis rel harus terus dihadirkan kembali sebagai infrastruktur vital. Sebab kemajuan transportasi berbasis rel merupakan indikator  kemajuan pembangunan suatu negara. Di berbagai negara maju dan industri di dunia, selalu bertumpu pada kemajuan angkutan massal dan barang berbasis rel, seperti Jepang, China, dan Eropa.

Manfaat strategis dari angkutan berbasis rel banyak sekali karena daya tariknya  yang luar biasa besar dan ekonomis dibandingkan moda angkutan lain. Pada sisi daya angkut misalnya, angkutan kereta penumpang setara dengan 300 truk dengan beban 10 ton. Pembiayaan perawatan murah dan lebih panjang sehingga lebih efisien dan hemat biaya negara. Kereta juga mampu menyediakan layanan transportasi prima dan berorientasi pada pengguna. Layanan jasa kereta fleksibel sehingga mampu melakukan pelayanan untuk golongan kelas ekonomi bawah, menengah hingga atas di Indonesia. Melihat signifikasi vital dan strategis tersebut maka jasa transportasi berbasis rel harus menjadi agenda prioritas Presiden Jokowi dalam lima tahun ke depan.

Pihaknya yakin, hal itu sangat mungkin dilakukan jika melihat selama ini program kerja Presiden Jokowi yang menugaskan Kementerian Perhubungan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, serta Kementerian BUMN dalam pembangunan infrastruktur transportasi berbasis rel yang masif dalam lima tahun terakhir.  Di sisi lain, tambah Rachmat, PT. KAI sendiri harus bisa menjalankan bisnis dengan konsep menunjang efisiensi dan peningkatan ekonomi, serta pembangunan negara maupun pertumbuhan ekonomi yang tinggi. PT. KAI juga harus berperan sebagai perusahaan negara dengan program-program penyelamatan ekonomi dan berkomitmen menjadi ladang lapangan kerja yang  produktif  bagi sumber daya manusia Indonesia. Membuka peluang bisnis kemitraan bagi ekonomi skala kecil dan menengah dalam sektor jasa dan barang tertentu. Direktur Utama PT. KAI Didiek Hartantyo dalam pertemuan itu merespon positif, sekaligus mengapresiasi DPR mendukung pencairan dana PNM serta menjadikan transportasi berbasis rel sebagai prioritas.

Pihaknya meminta dukungan berbagai pihak termasuk DPR meningkatkan dan mengoptimalkan konektivitas nasional untuk mencapai keseimbangan pembangunan dan membangun transportasi massal perkotaan. Transportasi berbasis rel yang maju akan menjadikan Indonesia menjadi negara kompetitif dalam lingkup perkembangan ekonomi global.

Pihaknya juga  akan fokus menyelesaikan rencana pembangunan MRT fase kedua, pembangunan proyek kereta cepat, dan keberlangsungan pembangunan LRT yang terintegrasi di Jabodetabek sesuai rencana pemerintah dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNAS 2010- 2030). Namun program utama saat ini adalah membangun  jaringan perkeretaapian nasional pada tahun 2030 sepanjang 12.100 km (Pulau Jawa-Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua), termasuk jaringan kereta api perkotaan sepanjang 3.800 km. (*)

Sumber:

mediaindonesia.com

Editor: Arif P Putera

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

YouTube
Instagram