9 Desember 2021

Kerisauan Seorang Istri Youtuber

“Bunda, nanti kita ke tempat ayah ya,” celoteh Aira kepada ibunya Fitra Aria yang sedang menceritakan kerisauan di hadapan sejumlah wartawan di sebuah cafe di Medan, Kamis, (24/09/2020). Naluri bocah perempuan berusia tiga tahun lebih itu mungkin konek dengan obrolan orang-orang yang sedang membicarakan ayahnya itu.  Tapi yang jelas bocah itu tidak tahu atau faham bahwa saat ini ayahnya sudah hampir 40 hari ditahan polisi gara-gara hobbinya membuat video tentang tingkah laku polisi dalam menjalani profesinya. Video-video itu lalu diunggahnya ke Youtube.  “Saya memang tidak memberitahu Aira tentang kondisi ayahnya. Saya bilang ayah lagi menjemput Angku,” kata Fitra Aria.

Fitra Aria adalah istri Benny Edward Hasibuan, seorang youtuber yang sering memvideokan tingkah laku polisi dalam menjalani profesinya. Sudah ada sekitar 250 video yang dibuat Benny. Naas baginya ketika dia membuat video tentang polisi yang menunggak pajak kenderaannya, padahal polisi itu bertugas di Samsat, Benny ditangkap polisi karena dianggap melanggar Undang-undang ITE.

Menurut Fitra Aria, suaminya Benny memang sejak tahun 2014 suka membuat video tentang polisi. Ceritanya berawal ketika pada saat itu mereka masih tinggal di Pekanbaru dan ingin mudik ke Medan. Dalam perjalanan mobil mereka distop polisi dan diminta KTP, SIM dan STNK. Karena curiga ini razia gelap Benny tak memenuhi permintaan oknum polisi tersebut. Beberapa saat Benny terlibat dialog agak sengit dengan oknum polisi tersebut. Dan secara spontan Fitra Aria memvideokan kejadian tersebut. Video itu lalu mereka unggah ke channel Youtube dan mendapat tanggapan yang banyak dari netizen. “Sejak saat itulah Bang Benny suka membuat video-video tentang polisi disela-sela pekerjaannya sebagai marketing produk-produk minuman ringan,” kata Fitra Aria lagi. Benny mendapat info tentang kegiatan-kegiatan polisi dari netizen yang menonton videonya.

Fitra Aria mengatakan sebenarnya niat suaminya bukanlah untuk menjelek-jelekan polisi tapi hanya sekadar mengingatkan agar polisi profesional menjalani tugasnya. Apalagi pimpinan Polri selalu mengimbau masyarakat untuk melaporkan bila ada oknum polisi yang menyimpang dari tugasnya mengayomi masyarakat. “Niatnya baiknya Bang, sesuai imbauan Kapolri, bahkan di Kalimantan ada supir truk yang memvideokan oknum polisi melakukan pungutan liar mendapatkan penghargaan dari Kapolda,” kata Firia Aria yang ketika berbicara dengan wartawan didampingi oleh kuasa hukumnya Dedek Kurniawan, SH.

Nah, kerisauan Fitra Aria terjadi karena sejak Benny ditahan, dia tidak diperbolehkan polisi bertemu dengan suaminya itu. Apalagi beberapa barang seperti mobil, laptop, kamera dan handpone disita polisi sebagai barang bukti. “Laptop, kamera dan handphone bisalah dianggap sebagai barang bukti, tapi mobil apa hubungannya. Lagi pula mobil itu masih dalam proses kredit, kami kan harus membayar cicilannya. Selama ini yang membayar cicilannya Bang Benny. Sekarang kan ngak bisa, kalau mobil itu tidak disita kan kami bisa over kredit,” kata Fitra Aria lagi.

Selain itu kata Fitra, setiap hari dia harus membayar sejumlah uang kepada seseorang untuk biaya Benny di tahanan. Kalau uang tidak ditransfer melalui ATM, Benny diancam akan disiksa dalam tahanan. “Inilah yang membuat saya risau, khawatir dengan kondisi suami saya di tahanan. Makanya saya minta tolong pada Bang Dedek Kurniawan ini untuk mendampingi dan menjembatani kami dengan pihak kepolisian karena saya juga buta tentang hal ini,” kata Fitra Aria lagi.

Sementara itu Dedek Kurniawan SH, mengatakan pihaknya sudah melayangkan surat ke Kanit Reskrim Polrestabes Kota Medan untuk kemudahan bertemu dengan Benny dalam upaya pembelaan dan surat permohonan penangguhan penahanan Benny. Juga surat permohonan mengeluarkan mobil dari barang bukti perkara.

“Saya yakin polisi bisa bertindak profesional dalam kasus ini,” kata Dedek lagi. (An Jambak)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

YouTube
Instagram