MEDAN—RENTAKNEWS.COM: Kaum milenial tak ketinggalan meramaikan ajang Pilkada Kota Medan yang akan dilangsungkan Bulan Desember 2020 mendatang. Sekelompok anak muda Medan mengadakan acara Ngobrol Bersama (Ngobam) Bang Salman dengan mengusung tema ‘Karya Milenial’ pada Sabtu (26/09/2020) di Taya-Tayo Coffe, Jl. Karya Darma, Medan Johor.

IKLAN

Acara ini menghadirkan H. Salman Al Farisi, Lc, MA sebagai keynote speaker, serta tiga orang milenial yang berprestasi di berbagai sektor, Fahmi Azhar Nasution selaku Pebisnis Syariah, Muhammad Syariful Muharrami Harahap selaku Petani Kota dan Khairul Angkat selaku pemain E-sport.

Ketika ngobrol Salaman mengatakan dirinya jadi anggota legislatif pada usia yang tergolong muda. “Saya menjadi anggota DPRD Kota Medan pada umur 36 tahun. Usia yang tergolong masih muda sebagai anggota dewan. Menurut saya, milenial mengalami masa di mana teknologi sudah canggih, semua tersedia, akibatnya kreativitas redup, padahal seharusnya dengan adanya seperti itu cita-citanya jangan rendah, harus tinggi. Milenial harus menjadi manusia yang produktif, jangan konsumtif. Milenial harus menguasai teknologi, bukan dikuasai teknologi,” ujar Salman.

Lebih lanjut Salman memotivasi agar milenial selalu bersyukur dengan kondisi saat ini dan tetap memiliki semangat juang yang tinggi.  “Jangan kita sesali posisi kita saat ini, kehidupan itu berputar, milenial harus memiliki semangat juang yang tinggi, kalau saat ini sedang di bawah jangan merasa akan selamanya begitu, itu namanya merendah, jika sedang berhasil jangan merasa terus di atas karena itu namanya sombong. Bersyukurlah dan terus berjuang,” lanjut Salman.

Dalam paparannya Fahmi yang merupakan pebisnis syariah bercerita tentang pengalamannya “Anak muda sering menganggap bahwa bisnis itu hanya untuk orang tua saja. Saya ingin mengubah mindset kalau bisnis itu juga bisa dilakukan kalangan milenial. Sejak tamat SMP saya mulai berbisnis, dimulai karena saya melihat ayah saya yang seorang pebisnis, dia memiliki Toko Salamah di Jalan Karya Jaya, ayah saya kesulitan mencari pembuat bordir, saya mencari tahu dan akhirnya menemukan ada mesin bordir portable, akhirnya saya menekuni bisnis itu, saya menemukan peluang.”

Lanjut Fahmi yang juga mahasiswa UMSU jurusan manajemen bisnis syariah tentang pemilihan konsep syariah dalam bisnisnya. ”Kenapa syariah?, karena bisnis syariah bukan hanya terkait muslim saja, syariah adalah sebuah konsep. Konsep itu bisa untuk siapa saja. Selaku kita umat muslim, kenapa kita tidak memakai konsep Islam?, bisnis syariah itu sama-sama senang, enak sama enak, juga berkah. Karena bisnis pada umumnya mencari untung sebanyak-banyaknya, hingga terkadang, pembeli jadi seperti korban,” pungkas Fahmi.

Syariful selaku pemilik usaha Indonesia Senang (INDIS), menjelaskan  INDIS adalah usaha yang berkecimpung dalam farm, art dan teknologi pertanian yang berfokus dalam penggunaan bahan organik. “INDIS adalah bentuk usaha yang saya buat bersama teman-teman untuk menjadi salah satu solusi sampah di Kota Medan, 60 persen dari sampah perkotaan adalah sampah rumah tangga. Jadi sampah rumah tangga inilah yang akan kita olah dengan treathmen tertentu supaya tidak bau dan dapat dimanfaatkan sebagai kompos untuk bibit. Kami juga menjual berbagai bibit secara online seperti melalui Tokopedia dan Shopee,” ujar Syariful yang juga merupakan alumni Fakultas Pertanian USU.

Khairul Angkat, yang merupakan pemain e-sport menceritakan awal mula ia menjadi gamers, “Saya menyukai game-game perang, awalnya saya bermain Point Blank (PB), sekarang game tersebut sudah tidak ada, saya lalu mencoba bermain PUBG, saya awalnya hanya bermain saja tidak ikut turnamen, hanya mengasah skill, namun lama kelamaan saya berpikir kalau gini saja gak ada gunanya, saya berpikir gimana bisa menghasilkan dari sini, akhirnya saya memberanikan diri ikut turnamen bersama teman-teman, awalnya kalah, namun akhirnya menang hingga lanjut ke turnamen tingkat nasional.”

Lebih lanjut Khairul juga menjelaskan kendala dalam menjadi gamers termasuk kesulitan e-sport di Kota Medan. “Kendala e-spsort di Medan itu kurang berani mengambil pemain-pemain daerah, padahal banyak gamer-gamer handal di Medan. Akhirnya kami di sponsori dari Jakarta,” kata Kahirul yang juga mahasiswa Universitas Harapan ini.

Menurut Khairul, kebanyakan anak muda yang suka main game tidak ingat waktu. Jangan membuat game jadi kebiasaan buruk, tapi kita harus menjadikan itu sebuah prestasi. “Pada awalnya orang tua saya memang marah, tapi kita tunjukin prestasi kita, ikut banyak turnamen, menang dan tunjukin hasilnya. Kalau sudah banyak prestasi. Setelah direkrut e-sport, orang tua juga melihat penghasilan e-sport yang besar, serta tetap harus menomorsatukan kuliah,” jelas Khairul.

Kepada Rentaknews.com penggagas acara Muhammad Liputra mengatakan acara hari ini dihadiri kalangan milienial dari berbagai lintas kampus dan organisasi. “Kami menghadirkan perwakilan milenial yang telah sukses dengan caranya masing-masing. Kami ingin menunjukkan berbagai cara milenial mencapai kesuksesan. Kami juga memilih mengundang Bang Salman sebagai keynote speaker Bang Salman itu, umurnya bukan anak muda, tapi semangatnya selalu muda. Dan abang itu selalu mendukung anak muda. Saya pribadi sudah mengenal Bang Salman sejak awal kuliah, beliau aktif sebagai ustadz di kalangan aktifis dakwah kampus,” ujar Liputra.

Muhammad Liputra yang juga mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Jurusan Ilmu Sejarah ini berharap kaum milenial harus menguasai perkembangan zaman. “Kita itu harus menghasilkan karya, setidaknya acara ini menunjukkan partisipasi kami kepada kaum milenial lain. Hari ini jangan hanya sekedar diskusi saja, tetapi bisa kita jadikan motivasi untuk kita berkarya menuju kesuksesan kaum milenial,” katanya.(*)

Reporter:

Arif P Putera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here