MEDAN–RENTAKNEWS.COM: Gerbang utama eks Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU) tampak tidak biasa. Tepat di tepi jalan terdapat spanduk dan beberapa patung yang menggunakan masker.

IKLAN

Spanduk tersebut bertuliskan #SaveTamanBudaya Jadikan eks Taman Budaya Sumatera Utara Sebagai Gedung Kesenian. Kotak yang berisikan koin donasi dari masyarakat pun tampak terletak di tepi jalan.

Koordinator Forum Seniman Peduli Gedung Kesenian Afrion mengatakan bahwa aksi ini dilakukan bukan karena eks TBSU telah dipindahkan. Namun untuk menyampaikan aspirasi agar lokasi eks TBSU ini dijadikan Gedung Kesenian.

“Aksi ini dibuat bukan karena eks TBSU ini dipindahkan, namun karena kami menginginkan eks TBSU ini dijadikan gedung kesenian,” ujar Afrion Rabu (07/10/2020).

Diketahui, pada 18 Agustus 2020 lalu Pemerintah Provinsi Sumatera Utara memindahkan eks TBSU ke Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) yang terletak di Jalan Gatot Subroto Medan.

Namun, Afrion menuturkan belum ada fasilitas yang cukup seperti gedung yang memadai untuk dilakukan aktivitas kesenian seperti yang biasa dilakukan di TBSU.

“Sampai saat ini belum ada seniman yang pindah ke sana. Karena menurut kami itu tidak layak untuk dijadikan tempat berkesenian. Tidak ada fasilitas nya di sana. Maka dari itu kami buat aksi begini supaya banyak orang-orang itu tergugah,” tuturnya.

Afrion juga mengatakan, wacana alih fungsi eks TBSU sudah lama digaungkan. Namun belum bisa benar-benar terealisasi hingga kini.

Ratusan seniman berkontribusi dalam aksi pengumpulan koin 1.000 untuk mendukung lahan eks TBSU menjadi Gedung Kesenian, yang dilakukan dengan pertunjukan secara bergantian setiap harinya.

Dikatakannya, permintaan untuk menjadikan eks TBSU merupakan perjuangan yang ditujukan untuk anak cucu kelak.

“Karena TBSU ini kan tempat belajar, baik seni maupun budaya. Semua belajar di sini, mulai dari anak TK, SD sampai mahasiswa belajar nya di sini. Jadi aksi ini sebenarnya juga untuk anak cucu kelak, supaya pusat berkesenian di Sumut ini nantinya tidak hanya tinggal cerita,” ungkapnya.

Penggalangan koin 1.000 untuk Gedung Kesenian ini, kata Afrion akan terus berlangsung hingga Pilkada selesai. Jika walikota yang terpilih tidak juga memberikan kepastian penggunaan lahan eks TBSU pihaknya akan melanjutkan aksi hingga tahun depan.

“Kita tidak ingin tinggal diam, artinya ketika para seniman tak lagi punya tempat untuk berkesenian ya masa kita diam saja. Melalui aksi ini juga kami ingin Pemerintah melihat bahwa jika tak ada tempat maka para seniman ini akan berkesenian di jalanan,” katanya.

Sementara untuk jumlah pengumpulan koin 1.000, Afrion mengatakan sejak dilakukan pada 18 September 2020 lalu belum pernah dilakukan penghitungan.

“Koin itu sebagai simbol kepedulian dan dukungan masyarakat. Jadi kita tidak begitu soroti jumlah nya, tapi itulah gambaran bahwa masyarakat Kota Medan masih butuh lokasi kesenian,” jelasnya.

Terpisah, Ketua Dewan Kesenian Sumatera Utara (DKSU) Baharuddin Saputra, SH mengatakan pihaknya mengapresiasi aksi pengumpulan koin 1.000 yang dilakukan. Ia mengatakan penggunaan lahan eks TBSU menjadi Gedung Kesenian merupakan keinginan dan aspirasi bersama para seniman.

“Kita apresiasi aksi tersebut karena memang itu aspirasi bersama. Harapannya dengan menampilkan berbagai atraksi kesenian seperti itu bisa mendapat dukungan dari berbagai kalangan,” katanya.

Baharuddin mengatakan, pihaknya menunggu hasil Pilkada pada Desember mendatang untuk mengetahui kebijakan apa yang akan dilakukan terhadap lahan eks TBSU.

“Tapi kita juga mengingatkan untuk bersabar. Karena ini kan diserahkan ke Pemko Medan sebagai pengelolanya. Jadi kita tunggu hasil Pilkada, semoga akan membuat kebijakan sesuai aspirasi para seniman. Mudah-mudahan TBSU tetap menjadi gedung kesenian seperti yang diharapkan,” tutupnya. (*)

Sumber :

tribunnews.com

Editor :

Dewani N Dalimunthe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here