7 Desember 2021

FORKAPI Peringati Hari Santri Nasional Tahun 2020

MEDAN—RENTAKNEWS.COM : Forum Komunikasi  Alumni  Pesantren Indonesia (FORKAPI) memperingati Hari Santri Nasional Tahun 2020 DENGAN MENGADAKAN Focus group Discusion (FGD) bertempat di Saga Creative Jalan Setia Budi Medan, Kamis, (22/10/2020). FGD ini  mengangkat tema: “Resolusi  Jihad  Hadratusyaikh  KH. M. Hasyim  Asy’ari.

Ketua Umum Forkapi  H.  Muhammad Nuh, MSP didampingi Sekretaris Jendral Joko Imawan,  SPd.I mengatakan, Pemerintah Republik Indonesia telah mencanangkan   tanggal  22 Oktober  sebagai Hari  Santri  Nasional. “Tepat lima tahun  yang  lalu, Presiden  menetapkan  tanggal  22 Oktober  sebagai  Hari Santri  Nasional berdasarkan Keputusan  Presiden  Nomor 22 tahun 2015. Jadi bagi pondok pesantren di seluruh  Indonesia  tanggal  22 Oktober  adalah hari istimewa di mana para santri dapat merenung untuk apa keberadaan  mereka di pesantren, kata Muhammad Nuh yang adalah juga Anggota DPD RI asal Sumatera Utara ini.

Hadir dalam FGD ini alumni berbagai pesantren diantaranya Pesantren Bangil dan Pesantren Gontor (Jawa  Timur), Pesantren Darunnajah dan Pesantren  Kramat  Asem (Jakarta), Pesantren  Persis Benda (Tasikmalaya), Pesantren Persis Tarogong (Garut), Pesantren  Ath-Thoyibah  Pinang  Lombang (Labuhanbatu),  Pesantren Ar-Risalah (Padang), Pesantren Darul  Arafah (Deliserdang), Pesantren Al Uswah (Langkat), Pesantren Wali  Ngabar (Ponorogo), Pesantren  Al Ghazaly (Bogor) serta Pesantren Darul Ulum  (Kisaran).

Sebagai pemateri pada FGD ini adalah H. Salman Alfarisi, Lc, MA,  alumni Pesantren  Darunnajah  Jakarta yang adalah juga  Calon  Wakil Wali Kota Medan yang akan bertarung  di Pilkada Medan tanggal  9 Desember 2020 mendatanh dan H. Ikhsan  Satria,  MA.

Di akhir  pertemuan FORKAPI merekomendasikan beberapa hal diantaranya Resolusi Jihad KH. Hasyim Asy’ari lahir atas keprihatinan terhadap kondisi bangsa yang terancam akibat langkah Belanda ingin berkuasa lagi di Indonesia. Niat jahat Belanda itu tidak luput dari perhatian para ulama yang bergabung dalam Nahdlatul Ulama (NU) yang lalu terpanggil untuk melakukan sesuatu yang diperlukan dalam upaya membela Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka para ulama NU itu bermusyawarah di kantor PBNU di Bubutan Surabaya dipimpin Rais Akbar PBNU KH. M. Hasyim Asy’ari. Musyawarah mengeluarkan sebuah fatwa yang dinamakan “Resolusi Jihad” pada 22 Oktober 1945.

Resolusi itu memberi fatwa untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Kepada seluruh laki-laki Islam yang sudah dewasa dan bertempat tinggal dalam radius 90 KM dari Surabaya untuk berjihad membantu TNI bertempur melawan Belanda. Mereka yang gugur dalam pertempuran itu akan menjadi syuhada (mati syahid) yang ganjarannya adalah surga.

Dengan semangat berjihad, ribuan muslimin tanpa kenal takut bertempur melawan tentara Belanda dan Inggris di Surabaya pada 10 November 1945. Tanggal itu lalu ditetapkan sebagai Hari Pahlawan. Pertempuran melawan Belanda dan Inggris itulah satu-satunya jihad fisik (berperang) yang pernah difatwakan oleh jumhur ulama Indonesia. (*)

Reporter:

Abdul Aziz

Eitor:

Dewani N Dalimunhe

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

YouTube
Instagram