MEDAN—RENTAKNEWS.COM: Forum Komunikasi Antar Lembaga Adat (Forkala) Kota Medan meminta agar kedua pasangan calon Wali Kota Medan yang bertarung pada Pilkada Kota Medan untuk saling menjaga semangat kebhinekaan masyarakat yang sudah terjalin selama ini. Jangan sampai kebhinekaan itu rusak gara-gara persaingan tak sehat antar pasangan calon.

IKLAN

“Siapa pun yang terpilih nanti, masyarakat Kota Medan harus lebh rukun dan damai,” kata Ketua Forkala Kota Medan Datuq Adil Freddy Haberham, SE saat menggelar rapat harian Forkala Kota Medan di Medan Club, Senin (26/10/2020).

Forkala Medan mengadakan rapat harian yang dihadiri tokoh-tokoh perwakilan adat yang terhimpun dalam Forkala Kota Medan diantaranya Arwin Harahap (Angkola), H. Rolly Piay (Minahasa), Dr. dr.  Delyuzar Harris, SpPA(K) dan Admar Djas (Minangkabau), Robby Lesbatta (Maluku), Jarusdin Saragih (Simalungun), Datuq Adil Haberham, SE dan Cici (Melayu).

Lebih lanjut Datuq Adil mengatakan, Forkala Medan merasa perlu menyampaikan sikap kepada kedua paslon Wali Kota Medan agar komitmen menjaga kebhinekaan, kerukunan dan kedamaian yang selama ini sudah terjaga dengan baik. “Jangan sampai akibat berbeda pilihan masyarakat Medan lalu terpecah belah. Masalah kita saat ini bukan perbedaan, suku, adat, ras dan agama, jadi jangan mau terpecah belah hanya karena berbeda pilihan. Medan harus tetap guyub, damai dan bhineka,” kata Datuq Adil.

Sekretaris Forkala Medan Arwin Harahap, mengatakan tokoh adat di Medan siap bergerak dalam mensukseskan pilkada dengan mengajak seluruh lapisan masyarakat dari beragam adat untuk menggunakan hak suaranya di Pilkada Medan tanggal  9 Desember 2020 mendatang.

“Di momen sumpah pemuda nanti kami akan sampaikan ke masyarakat adat masing-masing untuk menggunakan hak suaranya, agar partisilasi pemilih meningkat,” kata Arwin.

Sementara itu, Dewan Pertimbangan Forkala Medan, Dr. dr. Delyuzar Haris, SpPA(K) mengkritik cara pemerintah mengedukasi masyarakat masalah penyebaran Covid-19 yang terkesan sia-sia.

Menurutnya, edukasi tentang Covid-19 harus sudah masuk pada klaster-klaster spesifik agar informasi yang diterima langsung sampai dan mudah dipahami. “Jika edukasinya umum begitu saja, maka kecenderungannya menjadi angin lalu begitu saja,” katanya.

Oleh karena itu menurut Delyuzar, pelibatkan masyarakat adat dalam penanganan Covid-19 khususnya pada klaster kelembagaan adat sangat efektif dilakukan dan lebih terukur. (*)

Sumber:

Persrelease Forkala Medan

Editor:

Harun AR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here