2 Desember 2021

Ancaman Fenomena La Nina dan El Nino Pada Desember 2020 Sampai Januari 2021

Oleh: Abdul Aziz, ST

Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Belawan tahun 2015-2018.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika telah mengeluarkan peringatan potensi ancaman bencana yang bakal terjadi akibat fenomena  La Nina pada bulan Desember 2020 sampai bulan Januari 2021. Fenomena anomali iklim La Nina biasanya mencapai puncak pada bulan Desember sampai Januari bersamaan dengan puncak musim hujan.

Menurut BMKG, curah hujan yang tinggi memungkinkan akan memunculkan bencana hidrologis berupa banjir  atau banjir bandang, longsor, angin kencang dan puting beliung.

Abdul Aziz, ST

Dalam Undang-undang No. 31 tahun 2009 tentang Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika dikatakan bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan dengan kawasan kontinen maritim yang terletak di antara dua benua dan dua samudera serta berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik dalam wilayah khatulistiwa menyebabkan wilayah Indonesia sangat strategis dengan kekayaan dan keunikan kondisi Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika.

Di antara gejala perubahan iklim bumi adalah La Nina dan El Nino. El Nino adalah kejadian di mana suhu air laut yang ada di Samudera Pasifik memanas di atas rata-rata suhu normal. Sedangkan La Nina adalah peristiwa turunnya suhu air laut di Samudera Pasifik di bawah suhu rata-rata.

Apa itu La Nina? La Nina berasal dari bahasa Spanyol yang berarti anak perempuan. Jika dilihat dari catatan historis La Nina dapat menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi jumlah curah hujan. La Nina akan sangat terasa dampaknya bagi kota dan daerah yang tidak mempunyai resapan air yang baik. Hujan yang terjadi selama beberapa jam sudah cukup membuat suatu kota atau daerah tergenang banjir.

Sedangkan dampak La Nina terhadap nelayan adalah berkurangnya tangkapan ikan. Hal ini karena kurangnya kandungan klorofil-a yang merupakan makanan ikan di lautan.

Dari berbagai kemungkinan dampak yang ditimbulkannya diharapkan para pemangku kepentingan (stakeholder)  dapat mengambil langkah-langkah strategis, penyiapan kapasitas sungai dan kanal untuk mengantisipasi berlebihnya debit air akibat hujan lebat. Juga harus dilakukan optimalisasi tata kelola air terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Salah satu alternatif pengelolaan berlebihnya debit air akibat hujan lebat bisa dilakukan dengan pembuatan sumur resapan di beberapa lokasi strategis yang rawan banjir. Untuk itu perlu dilakukan sosialisasi dan pencanangan program pembangunan sumur-sumur resapan di kawasan pemukiman, sekolah dan pasar-pasar tradisional. (*)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

YouTube
Instagram