7 Desember 2021

Debat Perdana Pilkada Kota Medan, Pengamat: “Akhyar Menguasai Substansi, Bobby Masih Wacana”

MEDAN–RENTAKNEWS.COM: Debat kandidat pertama calon wali kota dan wakil wali kota Medan telah berlangsung, Sabtu (07/11/2020) yang disiarkan langsung INews TV dan situs Youtube Hupmas KPU Kota Medan.

Sejumlah pengamat menilai debat tersebut menjadi milik pasangan nomor urut 1 Akhyar-Salman. Sementara pasangan nomor urut 2 Bobby–Aulia dinilai terlihat kelabakan sejak awal.

Pengamat komunikasi politik Universitas Sumatera Utara (USU) Dr. H. Syakhyan Asmara, MSP menilai debat itu masih bersifat pemanasan.

Hanya saja, menurutnya pasangan nomor urut 1 Akhyar-Salman lebih menguasai substansi sehingga mampu menawarkan gagasan yang konkrit dan solutif.

Sementara untuk pasangan nomor urut 2 Bobby-Aulia lebih banyak mengulas hal-hal yang sifatnya makro tanpa didukung data yang kuat.

“Mungkin kalau debat ke depan, Bobby dan Aulia perlu menguasai data yang lengkap. Kalau hanya sekedar wacana, mereka akan kalah dengan Akhyar Nasution yang lebih menguasai lapangan,” kata Syakhyan.

Saat debat sesi pertama, Akhyar dan Salman begitu lugas menyampaikan visi misi selama tiga menit.

Namun, ketika Bobby dan Aulia yang diberi kesempatan, mereka terlihat kebingungan menyampaikan visi misinya. Alhasil, keduanya menyerang soal jalan raya dan program Pemerintah Kota Medan.

Bobby lantas menuding Medan adalah kota metropolitan semu.
“Medan menjadi kota metropolitan semu,” kata Bobby dalam debat publik perdana Pilkada Kota Medan yang digelar KPU Kota Medan di Hotel Grand Mercure.

Pernyataan Bobby itu membuat banyak warga yang menonton bingung melihat sikap mereka.
“Diminta menyampaikan visi misi, tapi kok dia menyampaikan hal lain yang tidak relevan dengan pertanyaan. Jadi visi misinya tidak jelas,” kata Amiruddin yang mengomentari acara tersebut melalui livestream.

Bobby juga terlihat begitu bersemangat menyampaikan kritik soal minimnya UMKM di Medan yang menerapkan digitalisasi dalam sistem marketingnya.

Menurut Bobby, di era pandemi ini, banyak UKM dan UMKM yang tiarap sehingga sistem marketing digital sangat dibutuhkan.
“Di Kota Medan hari ini, terutama sektor UMKM, belum ada digitalisasi,” ujar Bobby.

Akhyar langsung menampik tuduhan itu.
“Saya sudah melakukan pengecekan di lapangan, bertemu sejumlah UMKM yang membuat masker contohnya. Saya ingin membeli masker buatan mereka, tapi mereka tidak bisa menjualnya kepada saya karena semua produk mereka sudah laku. Pembelinya ada dari luar Sumut. Lalu saya tanya, bagaimana menjualnya kok sampai dibeli orang dari luar Sumut? Mereka bilang kalau penjualannya sudah menggunakan sistem online,” kata Akhyar.

Fakta-fakta itu, kata Akhyar membuktikan kalau sektor UMKM di Medan sudah melek dengan digital. Bahkan sekarang ini sudah ada jasa menyediakan kebutuhan rumah tangga, seperti bahan-bahan masakan secara online, seperti start-up ‘Raja Sayur’.

“Makanya kalau UMKM di Medan dikatakan belum menerapkan sistem digital, itu salah besar,” tegas Akhyar. Akhyar yakin, ke depan usaha berbasis digital di Medan akan semakin berkembang.

Mendapat kesempatan bertanya, Akhyar dan Salman menanyakan tentang pandangan Bobby-Aulia mengenai Undang-Undang Cipta Kerja atau Omnibus Law yang mengancam kewenangan pemerintah daerah karena diambil oleh pusat. Pertanyaan itu tidak mau dijawab Bobby dan Aulia dengan tegas.

Menantu Presiden Jokowi itu menyebut bahwa Medan merupakan bagian dari NKRI.
“Oleh karena itu, Pemkot Medan pun perlu sejalan dengan pemerintah pusat,” ujar Bobby.

Untuk selanjutnya KPU Kota Medan akan menggelar debat tahap kedua berlangsung 21 November 2020 mendatang, sedangkan debat ketiga pada 5 Desember 2020. (*)

Reporter:
Dewani N Dalimunthe
Editor:
Arif P Putera

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

YouTube
Instagram