7 Desember 2021

Diskusi Kepahlawanan Penggerak Bahasa Persatuan Indonesia

Gelar Pahlawan Nasional untuk Sanusi Pane, Mungkinkah?

Catatan: Banghar AR

Apakah Sanusi Pane, Sang Pelopor Angkatan Pujangga Baru itu layak mendapatkan gelar Pahlawan Nasional? Pertanyaan itu tentu sangat subjektif sekali. Tapi tak perlu kita perdebatkan karena pemerintah sudah membuat acuannya, yaitu Undang-undang No. 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan.

Pada pasal 1 angka 4 UU tersebut dijelaskan bahwa pahlawan nasional adalah gelar yang diberikan kepada warga negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia.

Sanusi Pane

Sebenarnya pengertian kata pahlawan yang berasal dari Bahasa Sansekerta itu berarti orang yang dari dirinya menghasilkan sebuah “phala” untuk bangsa dan negaranya. Dengan pengertian itu, mungkin kita semua sepakat Sanusi Pane yang dalam polemiknya dengan Sutan Takdir Alisyahbana ini merupakan “phala” yang menjadikannya layak menjadi pahlawan nasional.

Orang Indonesia tentu sangat mengenal siapa sebenarnya Sanusi Pane. Dalam buku-buku pelajaran di sekolah kita sudah diberitahu siapa Sanusi Pane. Tulisan atau kajian yang lebih mendalam tentang Sanusi Pane dilakukan J. U. Nasution. Dalam kajiannya tersebut Nasution menulis, Sanusi adalah penulis terbesar pada masa sebelum perang atau masa Angkatan Pujangga Baru. Dia adalah seorang tokoh pendiri Angkatan Pujangga Baru yang menulis banyak puisi dan naskah drama yang mencerminkan pandangannya tentang kebudayaan Indonesia.

Sanusi Pane lahir dari keluarga pejuang. Ayahnya, Sutan Pengurabaan Pane adalah seorang guru dan seniman Mandailing yang telah melahirkan tokoh-tokoh besar yaitu Armijn Pane dan Lafran Pane. Armijn terkenal sebagai penulis novel Belenggu yang terkenal itu dan Lafran adalah tokoh pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Sanusi Pane dilahirkan di Muara Sipongi, 14 November 1905 dan meninggal di Jakarta pada 5 Januari 1968.

Pendidikan Sanoesi Pane diawali dengan bersekolah Hollands Inlandse School (HIS) di Padang Sidempuan kemudian pindah ke Tanjung Balai lalu masuk Europeesche Lager School (ELS) di Sibolga, Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Padang, dan diselesaikan di Jakarta tahun 1922. Selanjutnya ia masuk Kweekschool di Jakarta dan lulus 1925 serta melanjutkan ke Sekolah Hakim Tinggi juga di Jakarta tapi hanya setahun karena Sanusi Pane kemudian memperdalam pengetahuannya tentang  kebudayaan Hindu di India pada tahun 1929—1930.

Selain penulis drama, Sanusi Pane juga dikenal sebagai penulis puisi. Nama Sanusi Pane tetap terukir dalam sejarah Sastra Indonesia, khususnya pada masa sebelum Perang Dunia II, baik sebagai penulis puisi maupun penulis drama. Di samping itu, dia termasuk salah seorang tokoh pendiri Angkatan Pujangga Baru. Pujangga Baru adalah satu angkatan yang membawa perubahan yang cukup mencolok dalam sejarah kesusastraan di Indonesia dibandingkan dengan angkatan sebelumnya. Pandangan Angkatan Pujangga Baru terhadap kebudayaan Indonesia menimbulkan polemik yang cukup seru antara Sanusi Pane dan Sutan Takdir Alisjahbana.

Sebenarnya pada tahun 1969, pemerintah telah menganugerahi Hadiah Sastra kepada Sanusi Pane bersama beberapa sastrawan lainnya yang sama-sama telah meninggal dunia, yaitu Marah Rusli, Abdul Muis, Amir Hamzah, Armijn Pane, dan Chairil Anwar. Sebelumnya Presiden Soekarno pernah akan memberi Sanusi Pane Satya Lencana Kebudayaan, tapi ditolak oleh Sanusi Pane.

 “Saya bukan apa-apa… … saya bukan apa-apa… Indonesia telah memberikan segala-galanya bagiku. Akan tetapi, aku merasa belum pernah menyumbangkan sesuatu yang berharga baginya. Aku tidak berhak menerima tanda jasa apa pun untuk apa-apa yang sudah kukerjakan. Karena itu, adalah semata-mata kewajibanku sebagai putera bangsa,” kata istri Sanusi Pane menirukan penolakannya sebagaimana dikutip J.U. Nasution.

Hari ini, tepat tanggal 10 November 2020 Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara mengadakan Diskusi Kepahlawanan Penggerak Bahasa Persatuan: Menimang Jasa Tokoh Sanusia Pane yang menurut saya diskusi ini pasti akan berkembang  membahas kemungkinan Sanusi Pane menjadi Pahlawan Nasional. Semoga. (*)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

YouTube
Instagram