Selamat Pagi Medan, Selamat Memilih Dengan Akal Sehat

IKLAN

Catatan: Banghar AR

Pagi ini, Rabu tanggal 9 Desember 2020 merupakan hari yang bersejarah bagi sebahagian warga Indonesia, termasuk warga Kota Medan. Pagi ini udara cukup sejuk diawali kumandang azan Subuh yang lembut mengajak umatnya melaksanakan kewajibannya kepada Sang Maha Pencipta Allah Subhana wa ta’ala. Sebentar lagi, sejak pukul 07.00 WIB, kita akan melaksanakan kewajiban sekaligus hak kita sebagai warga untuk memilih pemimpin di daerah masing-masing.

Pemerintah telah memaksakan keinginannya menyelenggarakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak di beberapa daerah di Indonesia termasuk Kota Medan dalam kondisi negara tengah dilanda pandemi Covid-19. Imbauan dan saran berbagai elemen masyarakat, ormas, cendekiawan yang meminta Pilkada Serentak ini diabaikan begitu saja oleh pemerintah. Lalu berbagai tanggapan bermunculan, pemaksaan kehendak pemerintah ini dilatar belakangi berbagai kepentingan diantaranya oligarki kekuasaan, politik dinasti, politik uang, politik kecurangan dan lain-lain.

Catatan singkat ini memang tidak akan membahas masalah-masalah tersebut karena sudah banyak dibahas oleh para pakar politik dan para politikus. Karena sebenarnya kepentingan utama politik adalah merebut kekuasaan dan hal itu hanya bisa diraih jika suatu kelompok merasa punya peluang menang pada situasi tertentu. Mungkin mereka yang berkuasa saat ini merasa punya peluang besar untuk memenangkan kontestasi ini dalam situasi seperti ini.

Pilkada Serentak tahun 2020 ini tentu saja akan menjadi sebuah momentum peristiwa politik yang akan tercatat dalam sejarah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pilkada ini dinilai sangat fenomenal dan ditenggarai akan menghasilkan kejutan-kejutan politik tersendiri.

Untuk Pilkada Kota Medan, tentu ada catatan tersendiri. Pilkada Kota Medan tahun 2020 ini menjadi sangat heboh karena dipaksakannya “jagoan kecik” istana, sang menantu presiden untuk ikut merebut kekuasaan itu. Sebenarnya hal ini wajar saja dalam politik karena setiap warga negara mempunyai hak memilih dan dipilih meskipun dengan pemaksaan ini, partai pengusung harus mengorbankan kader militannya sendiri.  

Dalam politik semua hal bisa terjadi karena yang menentukan adalah kompromi. Ir. Akhyar Nasution, politikus kawakan, seorang nasionalis religius, pernah menjadi Wakil Wali Kota lalu menjadi Plt. Wali Kota, kader militan partai harus disingkirkan untuk memuluskan jalan Sang Menantu. Wajar juga akhirnya Akhyar berlabuh di partai lain yang selama ini menjadi rival partai sebelumnya. Wajar juga dan sangat politis sifatnya ketika Akhyar bergandengan tangan dengan politikus religius senior juga, seorang da’i kawakan, bertahun-tahun menjadi wakil rakyat ustad Salman Alfarisi.

Rasanya pasangan ini akan sulit dikalahkan, tapi kata orang politik itu kotor, maka apapun bisa terjadi.  Kita hanya bisa berharap agar Pilkada Kota Medan kali ini betul-betul mencerminkan praktek demokrasi yang sehat. Tidak diwarnai ketidaknetralan penyelenggara dan aparat apalagi jika terjadi praktek kecurangan yang masif, terstruktur dan terencana.

Kepada warga yang akan melaksanakan hak pilihnya disarankan agar memilih calon pemimpin yang menurut hati nuraninya memang layak dipilih karena faktor track recordnya yang sudah teruji, jangan karena iming-iming lain yang tidak masuk akal. Gunakanlah akal sehat untuk menentukan nasib Kota Medan ini. Salah memilih pemimpin akan berakibat fatal bagi kehidupan demokrasi ke depan.

Oke, segeralah datanglah ke TPS, gunakan hak pilih Anda, jangan lupa mematuhi protokol kesehatan 3M, mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak. Gunakan akal sehat, pilih pasangan yang sudah teruji dan berpengalaman. Selamat memilih, selamat menggunakan akal sehat. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here