1 Desember 2021

Pfizer Disebut Bikin Wanita Mandul, Jadi Pertentangan Para Ahli

MEDAN–RENTAKNEWS.COM: Pfizer menjadi salah satu yang paling menjanjikan karena sudah disetujui penggunaan daruratnya di beberapa negara termasuk Amerika Serikat. Namun, banyak kabar beredar terkait vaksin Covid-19 di media sosial.
Salah satunya vaksin Covid-19 Pfizer disebut-sebut bisa menyebabkan mandul. Kabar ini muncul di sebuah artikel yang dimuat pada blog bernama Health and Money News.

Dalam artikel tersebut, vaksin Covid-19 diklaim mengandung bahan-bahan yang mampu membuat tubuh wanita menyerang protein penting dalam perkembangan plasenta. Klaim tak berdasar ini ditulis bersama Dr Michael Yodon, pensiunan dokter Inggris dan mantan karyawan Pfizer yang dikritik terkait pandangan menyesatkan soal Covid-19.

Bahkan Dr Yeadon juga meremehkan tingkat keparahan pandemi Covid-19 di Inggris dan secara terbuka menyuarakan keluhannya tentang kesia-siaan berinvestasi dalam vaksin.

“Itu mitos, tidak akurat, tidak ada bukti yang mendukung persepsi mereka,” kata Saad Omer, pakar vaksin di Universitas Yale.

Badan ahli yang mengawasi izin vaksin untuk digunakan pada manusia, menambahkan, uji coba vaksin Covid-19 memiliki proses yang ketat untuk mencegah segala risiko yang terjadi pasca disuntik.

“Dan ketika sesuatu terjadi, tindakan diambil,” kata Dr Omer.

Minggu ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menegaskan kembali kepercayaannya pada data yang menunjukkan bahwa vaksin dapat melindungi seseorang dari Covid-19 tanpa menyebabkan efek samping yang serius. Vaksin Covid-19 Pfizer telah disetujui di beberapa negara termasuk Inggris, Amerika Serikat dan menyusul beberapa negara lainnya.

Bahan utama dalam vaksin Pfizer adalah materi genetik yang menginstruksikan sel manusia untuk membuat protein virus Corona yang disebut spike. Produksi protein ini mengajarkan tubuh untuk melawan virus Corona.

“Tidak ada protein plasenta, atau materi genetik yang menginstruksikan pembuatan protein plasenta, dalam vaksin Pfizer,” kata juru bicara perusahaan Pfizer, Jerica Pitts.

Artikel blog yang menyesatkan itu menggambarkan perbandingan antara spike virus Corona dan sejenis protein plasenta. Kemiripannya diklaim cukup kuat bahwa vaksin dapat menipu sistem kekebalan sehingga membingungkan kedua protein tersebut dan menyerang plasenta.

Tetapi Stephanie Langel, ahli imunologi dan ahli imunitas ibu dan bayi di Duke University, menunjukkan bahwa spike virus Corona dan protein plasenta yang dipertanyakan hampir tidak memiliki kesamaan, membuat vaksin sangat tidak mungkin memicu reaksi terhadap jaringan halus ini.

Dr Langel juga menunjukkan bahwa tubuh manusia telah berevolusi untuk menghentikan reaksi kekebalan yang dapat merusak jaringannya sendiri.

“Jika kita tidak memilikinya, kita bahkan tidak akan berhasil melewati hari 1 kehidupan,” katanya.

Pfizer menunjuk sebuah studi baru-baru ini yang menemukan bahwa virus Corona tampaknya tidak meningkatkan risiko masalah terkait kehamilan.

“Tidak ada data yang menunjukkan bahwa kandidat vaksin PfizerBioNTech menyebabkan kemandulan,” kata perusahaan itu dalam pernyataan melalui email. (*)

Sumber:
detik.com
Editor:
Pristi H Hasugian

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

YouTube
Instagram