2 Desember 2021

Resensi Buku Kisah Aktifis HMI

Menyusuri Suasana Riuhnya Kisah Aktifis HMI Cabang Medan

Oleh : Isfan D. Nasution

Judul Buku      : Di Bawah Rindang Pohon Seri – Kisah Para Aktivis HMI Cabang Medan

Penulis             : 60 Alumni HMI

Penerbit           : Lingkaran – Yogyakarta

Editor              : M. Zahrin Piliang, Isfan D. Nasution, Ahmad Arifin

Desain             : Hadhy Priyono

Cetakan           : Pertama, Januari 2021

Tebal               : 484 halaman

ISBN               : 978-623-6624-40-1

Adalah sesuatu yang cukup luar biasa ketika mantan aktifis sebuah organisasi mahasiswa mampu menerbitkan sebuah buku setebal 484 halaman. Itulah yang terjadi dengan buku yang berjudul “Di Bawah Rindang Pohon Seri – Kisah Para Aktivis HMI Cabang Medan” yang ditulis 60 orang mantan aktifis HMI Cabang Medan.

Mengambil setting sekretariat Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Medan atau Gedung Insan Cita yang terletak di Jalan Adinegoro No. 15 Medan ini yang sering disebut mereka sebagai Alimbas (Adinegoro Lima Belas) ini yang dihalamannya tumbuh sebatang pohon seri. Dulu—sebelum pohon itu tumbang— di bawah pohon seri itulah para aktifis HMI Cabang Medan dan Badko Sumbagut dulu bercengkrama, berdiskusi dan main scrable. Dan tentu saja pohon seri ini menjadi ikon yang bersejarah bagi mereka.

Terbitnya buku ini tentu saja merupakan kebahagiaan tersendiri bagi para aktifis terutama 60 orang penulisnya. Betapa tidak, seketika timbul suasana membahagiakan dalam diri mereka karena lama tak berjumpa.  Lalu muncul buku yang memuat kisah-kisah mereka dahulu.

Membaca buku ini, kita seakan diajak kembali menyusuri lorong waktu ketika para penulis itu menjadi aktifis HMI. Penulis sebanyak 60 orang itu memilih  tema yang disukainya. Mulai dari dinamika sosial budaya yang khas anak muda zaman itu, juga cerita tentang kepengurusan dari sejak pelantikan, rapat kerja, kegiatan demi kegiatan hingga selesai periode. Ada pula yang menulis tentang degup jantung HMI yakni hebohnya kegiatan pengkaderan di HMI dimulai dari Masa Perkenalan Calon Anggota (Maperca) atau Masa Orientasi Perkenalan (MOP), Latihan Kader I, II, III, LKK, Senior Course, Pusdiklat dan sejenisnya.

Di luar itu tentu tak pula dilupakan adanya pertautan kisah kasih di antara para kader HMI Wan dan HMI Wati yang karena kebersamaan aktifitas selama di Alimbas, kemudian bersepakat melanjutkan kebersamaan dalam bentuk rumahtangga. Lalu ada lagi perihal pesta demokrasi yang sangat khas HMI: panjang, detail dan melelahkan, yakni pengalaman mengikuti Rapat Anggota Komisariat (RAK), Konferensi, Musda dan Kongres.

Cara menulisnya juga macam-macam. Ada yang menulis runut sesuai tahun, namun ada juga yang melompat-lompat. Ada yang menulis singkat terkesan kaku, tapi ada yang tulisannya lengkap seperti menulis laporan pertanggungjawaban kepengurusan. Satu catatan yang pasti, semua penulis ingin terlihat apa adanya. Bukan mengarang cerita fiksi.

Coba perhatikan kisah Bang Hamzah Ar, alumni HMI senior yang lahir tahun 1952 dan menjadi anggota HMI tahun 1972 ini. Beliau memulai kalimat sebagai berikut, “… Di tahun 1972, lupa bulan dan tanggalnya ….”  (hal. 1). Hahaha, … jangankan  tahun 1972, tahun 2000-an pun banyak juga yang lupa!

Lain lagi kisah yang ditulis Bang OK Irwansyah yang tak kalah lucunya. Beliau bercerita, ketika Konferensi HMI Cabang Medan tahun 1973 di Tanjung Morawa, di mana beliau adalah salah satu presidium sidang. Saat terpilih Ketua Umum HMI Cabang Medan periode 1973-1974 beliau lupa siapa yang terpilih?

“… Akhirnya lepas tengah malam terpilihlah Ketua Umum Baru (Ketumbar). Saya sudah coba mengingat-ingat siapa orangnya, tapi tak berhasil. Lupa! Memori sudah soak.” (hal.19).

Cerita sedih juga ada. Efri Lubis, mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN yang sudah dinyatakan lulus Senior Course, namun sore hari ditabrak bus Pelangi sampai patah kaki, tangan dan pendarahan hebat. Padahal malam harinya pelatihan calon instruktur itu akan dibuka secara formal (hal. 367). Hasrat Efri pun kandas. Sebab ia harus opname dalam waktu cukup lama.

Ada lagi kisah menarik lainnya? Ooo … banyak! Semua kisah yang ada di buku ini menarik. Apalagi jika si pembaca menjadi bagian cerita itu. Pasti berkesan.

Kisah menarik lainnya diantaranya, tulisan Bang Chazali Situmorang – Ketua Umum HMI Cabang Medan –  menikah dengan Ketua Kohati pada kepengurusan yang sama (hal. 42), kisah tumbangnya pohon seri ikon HMI Cabang Medan (hal. 55), cerita tak ada izin Kongres HMI di Medan karena menolak Pancasila (hal. 72), cerita Kak Pujiati dan pengurus Kohati Cabang Medan menggadaikan emas untuk membiayai kegiatan (hal. 113). Ada lagi cerita Sugih Permono tidur di kamar artis Christine Hakim (hal. 157), panitia acara Kohati yang tewas tenggelam di Danau Toba (hal. 266), Cerita Pera Sagala, si arsitek yang mendesain ruang istirahat Badko HMI Sumut menjadi ruangan VIP (hal. 394) dan kisah Leriadi yang masuk penjara karena membakar bendera Belanda (hal. 449).

Penulis buku ini lintas generasi. Ada aktivis 1970-an, 1980-an, 1990-an, tetapi juga terdapat aktivis 2000-an. Mereka menulis tentang perjalanan hidup selama menjadi aktivis HMI, baik sebagai pengurus, instruktur maupun anggota. Tulisan yang disajikan tentu saja dari perspektif yang beragam. Sesuai dengan masanya. Namun di situlah kekuatan buku ini, pembaca bisa merasakan suasana “riuh” khas aktivis sesuai zamannya.

Buku setebal hampir lima ratus halaman ini sudah pasti belum menampilkan keseluruhan sejarah HMI di Medan. Upaya penerbitan tentang kisah-kisah kader HMI Cabang Medan ini harus terus berjalan sebagai sumber motivasi untuk membuat program yang baik dan menjadikan kader HMI sebagai manusia yang bermanfaat bagi yang lain.(*)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

YouTube
Instagram