1 Desember 2021

Buah Menjaga Amanah

amanah.searc.google

Medan-Rentaknews.com. Didesa Makmur Kecamatan Kepuliran, sebuah masjid agung karya Arsitektur kuno, Masjid at-Taubah masih terlihat kokoh. Kayu-kayu Meranti, Jati dan Merbau menyanggah sudut-sudut bangunan. Deretan bangunan Madrasah dan beberapa rumah penduduk mengitari bangunan masjid.

Sejak setahun lalu, masjid dijaga anak muda alim yang selalu mengamalkan ilmunya. Beliau sebagai nazir, pembersih dan imam Masjid. Salim al-Azhar, demikian nama anak muda itu. Ia contoh ideal dalam kesederhanaan dan kesantunan. Selalu enggan meminta belas kasih orang, akhlaq yang terhormat.

Suatu hari, sejak pagi hingga lepas Isya, seharian ia belum memakan sesuatu pun, kecuali air putih yang telah berkali-kali diteguknya, karena tak ada apa-apa yang bisa dimakannya.

Menurutnya, ia telah sampai pada ambang batas darurat yang dibolehkan untuk makan sesuatu atau mencari sebatas kebutuhan. Antara meminta atau jalan lain, ia lebih memilih mencari sesuatu didapur rumah penduduk yang bisa mengisi lambungnya dengan makanan.

Konstruksi kayu masjid itu berdempetan dengan beberapa rumah, yang memungkinkan seseorang untuk beralih dari satu rumah ke rumah lainnya. Malam itu Salim naik ke plafon masjid, dan dari sana dia berpindah ke sebuah rumah. Sesaat kemudian secara sembunyi dia melihat seorang perempuan sedang tiduran, kilauan lampu kamar, dirundukkan badannya, menghindar dari penglihatan wanita itu.

Salim mencium aroma masakan dari rumah itu. Rasa lapar yang diciumnya itu bagai sebuah magnit. Dengan sekali lompatan Salim sudah sampai dalam rumah itu. Kini ia menuju ke ruang dapur, terselip golok diujung senta, didalam kulkas terlihat berbagai makanan segar. Saat ditutupkannya pintu kulkas, dari balik pintu kamar yang terbuka tersingkap rok wanita sedang tertidur, terlihat jelas keindahan perhiasan perempuan itu, shiiir…, gelora kelaki-lakian mengusik keras dada Salim, jantungnya berdegub bagai lokomotif uap.

“Lakukan, lakukan…,gunakan golok itu,…tak seorangpun yang tahu, dia milikmu” bisik syetan samar-samar ditelinganya”. Sesaat akal dan nurani bekerja, seraya berkata pada diri sendiri, “tidak…, tidak, jangan lakukan…,aku berlindung kepada-Mu ya Allah, aku seorang pencari ilmu dan mukim di masjid, ini bukan haqku?”.

Salim sangat menyesal, beristighfar terus kepada Allah. Mengembalikan golok dan makanan yang sudah diambilnya, membuka pintu, “kreeek..bruk”, Salim bersegera lari meninggalkan tempat itu, rasa lapar sudah tak dirasakannya lagi. Dia kembali ke masjid gemetaran dan duduk merenung akan prilaku ma’siat yang baru dilakukannya, hampir mengambil yang bukan menjadi haqnya dan nyaris menodai wanita yang bukan muhrimnya, ”dosaku, dosaku, dosaku” gumannya sambil menyesali dan menangis terseduh-seduh, hingga tertidur dengan perut kosong.

Selang beberapa hari, tiba-tiba datang kepelataran Masjid seorang wanita bergamis putih, lalu wanita itu berbicara kepada Syaikh Aqil dengan kata-kata yang tidak dapat didengar Salim.

Kemudian sang Syaikh melayangkan pandangan ke sekitarnya, dan ia tidak melihat orang lain kecuali Salim. Lalu Syaikh Aqil memanggilnya, seraya bertanya: “Apakah kamu sudah punya istri?” jawab Salim, “belum ya Syaikh”, sambung Syaikh lagi, “apa kamu ingin menikah?”. Lalu Salim diam, dan sang Syaikh mengulangi lagi pertanyaannya. Kemudian Salim menjawab, “ya Syaikh, tapi dengan siapa saya harus menikah?” jawab Salim ragu.

Kata Syaikh pula, “Wanita itu bercerita bahwa suaminya telah meninggal, Ia tinggal sendiri dirumahnya, kemarin malam rumahnya dijambangi maling yang nyaris memperkosanya, “maukah kau menikah dengannya?”, jelas Syaikh lagi. Lebih lanjut Syaikh menjelaskan: “Dia telah memperoleh warisan rumah dan mata pencaharian suaminya.

Dia ingin mendapatkan seorang lelaki yang mau diajak berkeluarga agar dia tidak terus menerus dalam kesendirian dan ketakutan. Apakah kamu ingin menikah dengannya?”, jawab Salim tanpa ragu, “Ya”, Syaikh juga bertanya kepada wanita itu, “apakah engkau mau menerima dia sebagai suamimu ?”, jawab wanita itu, “ya”, kemudian asy-Syaikh memanggil paman dan keluarga wanita itu serta dua orang saksi, lalu akad nikah pun dilangsungkan di Masjid.

Salim menceritakan kisahnya beberapa hari setelah pernikahannya kepada istrinya, dan sahut istrinya, “Itulah buah amanah. Engkau telah menjaga diri dari dosa dan meninggalkan pekerjaan ma’siat, lalu Allah memberimu rumah seisinya lengkap dengan berbagai makanan dan pemiliknya secara halal, “barangsiapa yang meninggalkan suatu keburukan karena Allah, maka Allah menukarnya dengan perkara yang lebih baik darinya.” (TI)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

YouTube
Instagram