Ilustrasi godaan syetan

Allah SWT berfirman,

IKLAN

وَقُلْ جَاء الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقاً

Artinya :
Dan katakanlah, “Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sungguh, yang batil itu pasti lenyap.
(QS.al-Isra’17:81)

Sesungghnya sejak awal Allah SWT menciptakan manusia, perlawanan antara ahlul haq dan kebathilan telah dimulai. Pertarungan antara wali Allah sebagai pengusung kebenaran melawan wali syetan sebagai pengusung kebatilan terus berlangsung.

Keduanya berjuang untuk saling memenangkan pertarungan. Terkadang wali Allah yang tampil sebagai pemenang walaupun di waktu yang lain ditakdirkan kalah dan dimenangkan wali syetan.

Hal ini sudah menjadi ketetapan Allah di muka bumi, bahwa selain ditetapkannya Sunnah Mudawalah (saling berkuasa), Allah juga menetapkan sebuah kehendak lain yang tidak bisa dihindarkan oleh makhluknya.

Yakni sunnah tadafu’ (saling monolak dan melawan). Yaitu suatu ketetapan yang berlaku di antara makhluk untuk saling membela diri, berkonfrontasi dan saling melawan dan memperebutkan kemenangan.

Ketika orang-orang zalim berkuasa dan menghancurkan gerak hidup hamba yang berjalan diatas petunjuk dan hidayah-Nya maka Allah Subhana WaTa’ala mengutus pasukan dari hamba yang dipilih-Nya untuk menghentikan kezaliman tersebut.

Allah SWT mengutus Nabi Ibrahim kepada Namrud yang tirani, mengirim Nabi Musa kepada Fir’aun yang mengaku Tuhan, penuh kesombongan lagi menindas.

Memerintahkan Thalut untuk melawan Jalut yang kejam dan zalim, dan menghadirkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di tengah-tengah masyarakat Quraisy yang musyrik dan membunuh sesukanya.
Sesungguhnya Firman Allah SWT pada QS.Al-Isra’ 17:81 diatas begitu singkat, namun padat dan tegas. Sekaligus menjadi kabar gembira bagi para penyeru kebenaran dan para pengikutnya, dengan ayat ini sudah cukup menjadi pegangan.

Kekalnya kebenaran dan musnahnya kebatilan adalah menjadi sunnatullah, bukan sekedar perkiraan, sunnatullah itu pasti terjadi.

Firman Allah SWT :

فَلَن تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَبْدِيلاً وَلَن تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَحْوِيلاً

Artinya :
“Maka kamu tidak akan mendapatkan perubahan bagi Sunnah Allah, dan tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi ketentuan Allah itu.”
(QS.Fathir : 43)

Karena itu banyaknya pengikut kebathilan sementara sedikitnya pengikut kebenaran tidaklah semua menjadi masalah. Kebenaran itu sunatullah, sesuai fithrahnya manusia. Ia bagaikan air yang dibutuhkan seluruh manusia.

Sementara kebatilan bagaikan buih yang terlihat banyak namun bagaikan sebuah fatamorgana.

Firman Allah SWT :

كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاء وَأَمَّا مَا يَنفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الأَرْضِ

Artinya :
“Demikianlah Allah Membuat perumpamaan tentang yang benar dan yang batil. Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi.”
(QS.Ar-Ra’d:17)

Para nabi pun diutus untuk menyampaikan dengan gamblang bahwa kebenaran akan menang dan kebatilan akan sirna.

Sesungguhnya kebenaran harus ditegakan ditengah-tengah umat sebagai suatu jalan dakwah, ujian hidup yang pasti dipertanggungjawabkan dihadapan-Nya.

Allah Azza wa Jalla berfirman :

ذَٰلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ

Artinya :
Apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka, tetapi Allah hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain.
(QS Muhammad 47:4)

Sesungguhnya para penyihir Fir’aun, mereka semua seakan-akan tampak hebat dengan tipuan-tipuan sihir mereka, ganasnya ular-ular yang keluar dari sihir mereka, namun disaat datang tongkat Nabi Musa AS seketika semua kehebatan itu hancur.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

إِنِّيْ تاَرِكٌ فِيْكُمْ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدِيْ : كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِيْ

Artinya :
Sesungguhnya aku telah meninggalkan kepada kalian sesuatu, apabila kalian berpegang teguh dengannya kalian tidak akan tersesat setelahku, yaitu Kitabullah, dan sunnahku.
(HR. Baihaqi no. 20337)

Sesungguhnya jika kita telah berada diatas jalur kebenaran, maka jangan pernah berkecil hati dengan permainan kebatilan yang tampak hebat, sesungguhnya semua itu hanya kamuflase semata.

Maka, kewajiban kita adalah kembali kepada Rabb kita, dan mengintropeksi diri, berhati-hati terhadap makar dan tipu daya para wali syetan.

Semoga kita termasuk orang-orang yang tetap istiqomah dalam barisan yang haq. (TI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here