Sepi Diujung Senja

146
ilustrasi sepi diujung senja

Rentaknews.com. Setumpuk pakaian kotor terpojok disudut bak kamar mandi, sudah beberapa hari teremdam dalam ember, terasa aroma rendaman pakaian menyengat ujung hidung. Tina putri pak Broto belum sempat melaundry pakaian yang menumpuk itu. Kesibukannya sebagai perempuan karir dan seorang istri dengan tiga anak terkadang sering melalaikan tugas sebagai ibu rumah tangga.
Pembantu sudah hampir seminggu pulang kampung, mestinya dua hari lalu sudah dirumah. Pak Hadi Broto, hanya bisa memandang, mencuci, pekerjaan yang hampir tidak pernah dilakukannya, lebih dari separoh hidupnya dilayani. Walau tersedia mesin cuci namun tak tahu bagaimana menggunakannya.

IKLAN

Tiba-tiba sesosok tubuh muncul dari balik pintu teras. Lelaki tua dengan tubuh kurus, di sampingnya berdiri seorang laki-laki berumur duapululima tahunan. “Assalamualikum “, sapanya,” Waaalaikumsalam” jawab pak Broto singkat, “siapa ?“, jawab pak Broto.“ Maaf ya, Tina, suami dan anaknya ke-Bali”, kata pak Broto lagi, “ bukan…, kami tidak sedang ingin bertemu mereka, justru kami ingin bertemu dengan-mu”, jawab tamu itu lagi.

Pak Broto ragu-ragu menerima mereka, namun sang tamu sudah dekat dengan pintu, “masuklah”, jawab pak Broto, lalu dipersilakan keduanya untuk duduk sambil bertanya-tanya dalam hati, siapa mereka berdua ?.“Aku teman masa kecilmu dan ini putra bungsuku, Zufri”. “ Aku tetangga dekat rumahmu dikampung. Di bawah pohon membal kita selalu bermain guli. Tidak jauh dari tepi sungai Kahean”, katanya memperkenalkan diri. “oh”, kataku dalam hati. Itu peristiwa enam puluh tahun silam. Ketika aku tujuh atau delapan tahun barangkali “.Pak Broto tersenyum sambil mengangguk-angguk.

Dalam usia yang sudah melampaui enam puluh lima tahun ini, rasa-rasanya ingatan sudah mulai rapuh. Pelahan-lahan timbul ingatan di dalam benaknya. “apa rumahmu dekat rumah kepala desa?”, kata pak Broto. Ia mengangguk. “Kalau begitu, kau ini si Ucok?,”ya,” jawabnya dengan wajah yang mulai cerah. Dipeluk pak Broto dia dengan erat,“sudah lama sekali kita tidak bertemu, apa kabarmu”, kata pak Broto sambil melepas pelukan. “dua puluh tahun lalu suratmu masih kuterima, hampir setiap tahun kau kirimkan kartu lebaran, namun jarang kubalas, karena kesibukanku sebagai hakim”, kata Pak Broto, “Kita sudah sama-sama tua”, mungkin tidak lama lagi kita meninggalkan dunia ini”. ‘ini, Anakku Zupri, bertugas di-Polres kota ini”, katanya memperkenalkan putra bungsunya.

Pertemuan singkat itu berlalu dalam bilangan tahun. Pembicaraan dengan anak-anak menyangkut perjodohan Zupri anak sahabatku dengan putriku Riri tak pernah ada kesimpulan. Masing-masing sibuk dengan urusan sendiri. Dan ketika pak Broto berkunjung ke Siantar, Ucok terbaring di tempat tidur, diruangan VIP RS Vita Insani.

Beberapa selang oksigen di hidungnya. Tak satupun anaknya yang hadir menjaganya. Masing-masing jauh, Bharata putra sulungnya di-Canberra Australia, Rini putrinya di-Amsterdam, Heri di-Kopenhagen dan Zupri ditugaskan dikota Sorong, hanya keponakannya Andri yang ada. Ia bernapas dengan bantuan oksigen. Matanya berkaca-kaca sambil mulutnya berkata, “kudengar kau datang, beginilah keadaanku” ucapnya saat pak Broto menjenguknya.

Dalam kesibukan, waktu jua yang memberi kabar. Seorang kerabat dekat, waktu berjumpa di Medan, berbisik, “Pak Ucok sudah tiada, pada usia yang ke-72, tak seorang anaknya pun yang menemaninya saat sakratulmaut.” “Innalillahiwainnailaihirojiun,” kataku kepada diriku sendiri. Usia kami terpaut bulan. Kami lahir dan dibesarkan didesa Sei Kahean kampung Melayu kota Pematang Siantar. Usia telah ditelan waktu! Giliran? Pasti bergilir, bisik batin pak Broto, siapakah setelah itu. “akukah”, guman pak Broto.

Dalam kilas balik masa lalu, Pak Baroto teringat beberapa teman sekantor, Pak Agus’ Pak Tio, Pak Zul dan Pak Mitra Hasian yang selalu menelepon beberapa puluh tahun yang lalu. Pak Mitra secara diam-diam menghilang, tersangkut kasus hukum. Setahun masa pelariannya, ia kehilangan pendamping hidupnya, kanker rahim merenggut hidup istrinya, dunia begitu sepi saat istri tak lagi mendampingi hidup.

Beberapa waktu kemudian, Pak Broto mendapat pesan WA dari anaknya yang sedang wisata ke Bali. Khairunnisa saudara sepupunya, meninggal dunia. Tutup usia ke-63 tahun. Khairunisa seorang pengusaha kaya, kematiannya, meninggalkan harta berlimpah tanpa ada yang mewarisi, ia tidak punya keturunan. Tidak ada wasiat waris kemana gelimpangan harta akan diberikan, tumpukan harta berlaku sia-sia.

Sebenarnya kepergian pak Broto dari Medan ke-Jakarta ingin menghilangkan kejenuhan dalam kesendirian, hanya saja anaknya hidup di tengah kesibukan, mengejar karir, berangkat subuh dan pulang malam, hampir setiap hari. Ada kejenuhan dalam tugasnya yang rutin, membuat anaknya mengambil keputusan liburan ke-Bali bersama keluarga. Disaat akan berangkat penyakit encok mengharuskan pak Broto tinggal, yang hanya ditemani supir dan seorang pembantu yang masih pulang kampung.

Pak Broto duduk membaca, sambil menonton acara TV. Tiba-tiba dering di HP mengagetkan Pak Broto, sebuah pesan singkat WA, “Ayah,…,bu’le Sumiati meninggal dunia di Makasar”. Sumiati adik yang kecil dari keluarga paman, menyusul suaminya, dalam usianya yang ke-65.

Pak Broto teringat, disaat masih mengabdi sebagai pegawai negri di Departemen Kehakiman. Sebagai Hakim Agung, apa saja sudah didapat. Pangkat, kehormatan, harta, berupa kendaraan terbaru, rumah-rumah yang besar, ladang-ladang dan ternak yang berlimpah, anak buah yang siap diperintah, mudah…., mudah sekali mendapatkannya.

Kini diusia yang sudah menjelang 70 tahun, berbagai penyakit menggerogoti, darah tinggi, asam urat, rasa cemas berlebihan, malam sulit tidur. Bertanya-tanya dalam hati, “jejak apa yang sudah kutorehkan dalam hidup ini dan kebaikan apa pula yang kutinggalkan, sebelum tiba giliranku menghadap-Nya? Jangan-jangan kehadiranku kedunia tak lebih sebagai pecundang. Amal apa yang kubawa ?. Semakin pak Broto merenung, semakin dalam sakit menusuk-nusuk dadanya. Dalam kesendirian, pak Broto risau di-ujung senja. (TI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here