7 Desember 2021

Hanya Segelas Wine

Ilustrasi godaan syetan kepada manusia.

Rentaknews.com. Setiap orang mengenal Syech Al-Dha’af pasti menyebutnya laki-laki itu santun dan waroq. Lemah lembut bertutur kata,  ikhlas beribadah. Dibangunnya berbagai fasilitas pendidikan, kesehatan dan kompleks pemondokan gratis untuk masyarakat. Syeitan cemburu dengan ahklaqnya, maka dibangunlah strategis untuk menjerumuskannya.

Setiap ia ke masjid dipojokan selalu berdiri sesosok laki-laki kurus memandang tajam penuh kebencian kearahnya. Hingga suatu hari strategi besar dijalankan. Hari itu Syech Al- Dha’af menatap setiap jamaah masjid,  dipojokan mihrab. Syech Al-Dha’af  melihat sosok laki-laki warok yang selalu datang lebih awal darinya, “ah laki-laki ini luar biasa, waroqnya ia, setiap masuk waktu dia selalu hadir lebih awal”, guman Syech Al-Dha’af  dalam hati, ”sementara aku selalu larut dengan hiruk pikuk dunia”, gumannya lagi, sambil terus memperhatikan lelaki itu. Matanya terlihat cipit, simetris dengan wajahnya, sulit menebak kearah mana pandangannya. Kedua mata itu tak terlihat ketajamannya, karena hampir tertutup rapat. Bagai ada hawa panas menyelimuti, jika bertatapan dengannya. Ada perasaan menakutkan bila menatap sorot matanya. Dialah Al-Dhaabah, laki-laki yang baru sebulan hadir  ditengah jamaah, orangnya pendiam lafaz zikir selalu terluncur dari mulutnya.

Tegar dalam duduknya, janggutnya terlihat terawat, rambutnya sebahu tersisir rapi tertutup sorban putih, harum aroma farmun yang memancar dari pakaiannya bagaikan sihir mengajak untuk mendekat padanya. Biji tasbih secara berlahan mengitari jemari kanannya, mulutnya bergerak berlahan  mengucapkan lafaz zikir. Tepat disisi kanannya Syech Al-Dha’af mengambil posisi untuk melakukan sholat tahyatul masjid. Dengan khusuk Syech melakukan sholat. Selesai salam, Syech Al-Dha’af berusaha menyapa Al-Dhaabah, “ assalamualaikum ya ahli ibadah, sambil menjabat tangan Al-Dhaabah”, waalaikum salam ya syech” jawab laki-laki parobaya tersebut kepada Syech.” maaf ya saudaraku, boleh aku bertanya ?”, ucap Syech membuka pembicaraan “ silahkan saudaraku “, jawab Al-Dhaabah dengan santunnya “ aku melihat antum sejak awal, beri’tikaf dan selalu datang terlebih dulu tempat ini”, kataku lagi. “ya” jawab Al-Dhaabah singkat. ” maaf saudaraku, aku tak berani bercerita, aku takut jadi ria, terlalu banyak dosaku kepada-Nya” sambungnya lagi.

Jawaban ini membuat Syech semakin ingin bertanya lebih jauh,” tolonglah, ceritakan padaku bagaimana sampai antum bisa begitu khusuk beribadah”. Karena Syech mendesak terus akhirnya Al-Dhaabah bercerita. “ dulu…,aku ini penjahat besar, peminum,  pezinah, perampok, pembunuh, bahkan hampir semua kejahatan telah kulakukan”, “namun, hidayah telah menjadikanku seperti ini”, jawab Al-Dhabah menunduk dengan perasaan bersalah”, tutur nya lagi, “ setiap aku ingat akan masa lalu, aku bersimpuh mohon ampunan-Nya, itu terus menerus kulakukan, “ jawabnya sambil bercucur air mata.  “aku ingin tawaduk seperti antum, bagaimana caranya “, kata Syech kepada kepada Al-Dhaabah. Seakan berfikir keras Al-Dhaabah memberikan saran dengan setengah berbisik penuh kelembutan, “lakukanlah sebagaimana kulakukan, lalu bertobat”, jawabnya penuh meyakinkan, “ kalau berzina saja?”, kata Al-Dhaabah “tak mungkin”,jawabnya, “merampok ?”,“oh itu tidak“, jawabnya lagi, “ membunuh ? kata Al-Dhaabah lagi, ” jangan, itu menghilangkan nyawa “,jawab Syech,”yang paling ringan minum segelas wine ”, katanya memastikan yang paling ringan untuk dilakukan.            

Al-Dhaabi tahu Syech Al-Adha’af  memiliki pusat pendidikan, pelatihan dan pengobatan terbesar dikota ini. Didalam kompleks dengan luas  100 Ha ini dilengkapi berbagai sarana penunjang, pendidikan, kesehatan, pelatihan sekaligus pemondokan. Di kompleks ini sedang tinggal seorang pasien, putri seorang pengusaha terkenal,  Annasa Al Jamillah yang sedang menjalani pengobatan. Syech Al-Adha’af sedang menangani langsung pengobatan kejiwaan kronis yang sedang dihadapi Annasa Al Jamilah.

Selama ini Annasa hidup dalam kemewahan, dirumahnya yang bagai istana dan cenderung lupa kepada Allah, maka syetan mudah masuk ke dalam dirinya. Hati sang puteri tersebut digoncangkan hingga jiwanya sakit. Orang tuanya bingung kemana ia harus mengobati puteri kesayangannya. Syetan menemui orangtua Annasa dengan menyamar sebagai Al Dhaabah. Katanya Syech Al-Adha’af  itu dapat mengobati dan menyembuhkan orang sakit dengan do’a-doanya. Orangtua Annasa pun akhirnya mengirim putrinya kepada sang ahli ibadah yang terkenal juhud itu.

Syech Al-Adha’af menerima sang puteri tersebut dan mengobatinya,lalu sang puteri sembuh. Sang puteri di bawa pulang. Di perjalanan, syetan datang lagi menggoncangkan hati puteri itu, sakitnya kambuh lagi. Lalu syetan yang menyamar sebagai orangtua yang bijak, “Sebaiknya siputeri tidak dibawa pulang, biarkan saja ia tinggal dikompleks pengobatan itu.” Maka sang puteri tinggal di kompleks pengobatan. Setiap harinya Syech mengontrol pasiennya Annasa. Ia sangat menjaga syahwatnya, terlebih didekatnya ada perempuan cantik. Setiap hari diperintahkannya asistennya mengantar makanan. Syetan berbisik, mengapa harus asisten yang mengantarkan?. Bagaimana efek psikologis terhadap pasien?, Sesekali wajar pasien bertatapan dengan tabibnya. Setelah dipikir-pikir, Syech membenarkan bisikan syetan.

Kini sesekali ia mengantarkan makanan, ia mengetuk pintu, masuk, dan memberikan makanan. Lalu syetan berbisik lagi, “Mengobrolah di dalam kamarnya biar tidak terjadi fitnah bagi orang lain.”. “ah itu haram….tak boleh dilakukan, …tapi benar  juga, kenapa aku tidak melakukannya?” pikirnya lagi.  Didalam ada sebotol wine, “minumlah…, hanya segelas wine,  hanya segelas, pasti tidak memabukan “ ,ah itu barang haram,…tidak boleh…,tapi aku ingin tahu apa rasanya” gumannya dalam hati. Akhirnya segelas wine diteguknya. Selang beberapa saat kepalanya terasa berputar, sedikit pening, setan-pun masuk.  “ lihatlah betapa cantiknya wanita ini, kau boleh memilikinya, dia butuh perhatianmu,…lakukan…., lakukanlah”, bisik syetan penuh kelembutan. Karena kecantikan dan kemolekan wajah Annasa Al Jamilah menggoda hati, iman Syech Al-Dhaaf mulai goyah, hingga akhirnya Syech terjerumus dalam kemaksiatan. Ia zinahi sang puteri. Tadinya ia menyesal, namun pada saat yang sama syetan menyimpangkannya dan ia mengulangi lagi hingga berulang-ulang. Sang puteri itu hamil.

Karena takut ketahuan ia berzinah, Ia-pun kebingungan, kemudian si syetan datang menakut-nakuti dan berbisik, “Syech, celaka kamu, telah menghamili perempuan yang bukan haqmu. Sebaiknya sekalian kamu bunuh saja dia. Lalu kuburkanlah dia baik-baik. Katakan kepada orangtuanya, putrinya meninggal karena sakit, habis perkara”. Atas hasutan dan rayuan manis syetan, maka sang puteri itu ia bunuh. Pada saat bersamaan, syetan datang memberitahu orang tua sang putri bahwa puterinya telah dibunuh. Akhirnya, Ia ditangkap, digiring di alun-alun kota. Dalam keadaan galau akan dieksekusi mati, si syetan tiba-tiba muncul dalam sel, “Aku akan membantumu keluar dari tempat ini asal kamu bersujud kepadaku”. “Bagaimana aku bersujud kepadamu sementara aku dirantai begini?”,katanya. Syetan menjawab,”cukup niatkan saja,beri tanda dengan matamu. Sekarang syetan menyuruh anak Adam bersujud kepadanya. Sang ahli ibadah itu-pun menurut, “baiklah sekarang aku bersujud kepadamu”. Sesaat kemudian syetan berkata,” rasakan kesesatanmu, sekarang aku berlepas diri darimu, sebab aku takut kepada Allah, sementara kamu tidak takut sama sekali akan azabnya”. Kemudian, Syech Al- Dha’af mati ditembak dalam keadaan musyrik, melakukan perzinahan pembunuhan dan kemusyikan. (TI)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

YouTube
Instagram