2 Desember 2021

Kecerdasan Spritual

Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah.

Medan-Rentaknews.com. Sesungguhnya kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosi belumlah cukup menjadikan diri seorang berakhlak mulia, masih dibutuhkan kecerdasan spiritual.

Yakni kemampuan seseorang untuk membedakan kebaikan dan keburukan dan kesanggupan untuk memilih atau berpihak pada kebaikan serta dapat merasakan nikmatnya berbuat baik dan menjadikan diri bermanfaat untuk orang lain.

Allah SWT berfirman:

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَ لَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ ۗ

Artinya :
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d 13: 28)

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

Artinya :
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”
(HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni).

Pribadi yang memiliki kecerdasan spiritual akan merasakan kenikmatan spiritual tatkala ia sanggup bebuat jujur, ikhlas, lurus, adil dan penuh tanggung jawab atas amanah yang diembannya.

Menurut para ahli, ada banyak kecerdasan yang diberikan Allah SWT kepada manusia.

Salah satunya yaitu kecerdasan spiritual (SQ), kecerdasan ini merupakan kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik sebuah kenyataan atau kejadian tertentu.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ الله فِي حَاجَتِهِ

Artinya :
“Barangsiapa membantu keperluan saudaranya, maka Allah akan membantu keperluannya.” (Muttafaq ‘alaih)

Kecerdasan spiritual merupakan bentuk kecerdasan tertinggi yang memadukan kedua bentuk kecerdasan sebelumnya, yakni kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional.

Kecerdasan spiritual dinilai sebagai kecerdasan yang tertinggi karena erat kaitannya dengan kesadaran orang untuk bisa memaknai segala sesuatu dan merupakan jalan untuk bisa merasakan kebahagiaan.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ الله عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ, ةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ الله عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

Artinya :
“Barang siapa yang memudah kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang dalam kesulitan niscaya akan Allah memudahkan baginya di dunia dan akhirat”
(HR. Muslim).

Sesungguhnya setiap manusia yang dianugrahkan Allah SWT ber-SQ tinggi merupakan kategori manusia yang berakhlak mulia.

Kecerdasan spiritual (SQ) berarti kemampuan dapat mengenal dan memahami diri kita sepenuhnya sebagai makhluk spiritual maupun sebagai bagian dari alam semesta. Dengan memiliki kecerdasan spiritual berarti kita memahami sepenuhnya makna dan hakekat kehidupan yang kita jalani dan ke manakah manusia akan pergi.

Orang yang memiliki kecerdasan emosional dapat mengendalikan diri, memiliki kontrol moral, memiliki kemauan yang baik, dapat berempati (mampu membaca perasaan orang lain), serta peka terhadap kebutuhan dan penderitaan orang lain sehingga memiliki karakter (watak) terpuji dan membangun hubungan antar pribadi yang lebih harmonis.

Kecerdasan spiritual bersifat menyatukan, yaitu bahwa berfikir bukanlah semata-mata proses otak semata (IQ), tetapi juga menggunakan emosi dan tubuh (EQ), serta dengan semangat, visi, harapan, kesadaran akan makna dan nilai (SQ).

Perbedaan pokok kecerdasan spiritual dengan dua jenis kecerdasan sebelumnya adalah kinerjanya. Allah SWT menjamin kebenaran SQ, karena ia merupakan pancaran sinar Ilahiyah.

Allah SWT berfirman:

وَاسْتَعِيْنُوْا بِا لصَّبْرِ وَا لصَّلٰوةِ ۗ وَاِ نَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَ ۙ

Artinya :
“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Dan (sholat) itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,”
(QS. Al-Baqarah 2: 45)

Allah SWT berfirman dalam ayat lain yang berkaitan dengan kata sabar yang berhubungan dengan kecerdasan moral dan etika. Adapun moral dan etika yang baik adalah ciri dari kecerdasan emosional.

Allah SWT berfirman:

وَا لَّذِيْنَ صَبَرُوا ابْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَاَ قَا مُوا الصَّلٰوةَ وَاَ نْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَا نِيَةً وَّيَدْرَءُوْنَ بِا لْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ اُولٰٓئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ ۙ

Artinya :
“Dan orang yang sabar karena mengharap keridaan Tuhannya, melaksanakan sholat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),”
(QS. Ar-Ra’d 13: 22)

Ayat di atas menunjukkan bahwa ajaran moral dan etika dalam Islam memiliki kekhasan bersumber dari Allah subhanahu wa ta’ala. Atau dengan kata lain memiliki sibgah rabbaniyyah (celupan warna ketuhanan), baik dari segi sumbernya maupun tujuannya. Sumbernya adalah perintah Allah subhanahu wa ta’ala, dan tujuannya adalah mencapai keridaan-Nya.

Semoga Allah SWT memberikan kecerdasan spritual yang baik kepada kita, agar pandai mensyukuri segala nikmat yang diangugrahkan-Nya kepada kita.(TH)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

YouTube
Instagram