7 Desember 2021

DHD ’45 Adakah Dialog Kebangsaan, Pers Kunci Pembangunan Nasional

MEDAN—RENTAKNEWS.COM: Dewan Harian Daerah (DHD) ’45, Provinsi Sumatera Utara mengadakan Dialog Kebangsaan dalam rangka Hari Pers Nasional (HPN) Tahun 2021  bertema “Pers Perjuangan: Antara Idealisme dan Komersialisme di Era Milenial”.

Tampil sebagai narasumber pada dialog yang berlangsung, Selasa (16/02/2021) di Aula Joeang  Gedung Juang ’45 Jalan Pemuda No 17 Medan itu pakar jurnalistik Dr. Sakhyan Asmara, MSP, sejarahwan pers Dr. phill Ichwan Azhari, MSi dan praktisi pers Chokienk Soesilo Sakeh. Dialog ini dimoderatori sekretaris Umum DHD ’45 Sumut Dr. Eddy Syofian, MAP. Hadir membuka dialog tersebut Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara Dr. Ir. R Sabrina. Hadir juga tokoh-tokoh masyarakat seperti H. Syamsul Arifin, H. Nurdin Lubis, SH, MM dan OK Zulkarnain, SH, MM dan sejumlah tokoh pers lainnya.

Dalam kesempatan itu Sabrina mengajak jajaran pers di Sumatera Utara untuk berkolaborasi meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sumatera Utara. “Untuk menyejahterakan seluruh masyarakat Sumatera Utara dibutuhkan peran berbagai pihak, termasuk  pers. Untuk itu, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mengajak seluruh jajaran pers di daerah ini untuk berkolaborasi dalam berbagai program pembangunan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Sabrina.

 “Peran edukasi merupakan peran penting, yang bisa diisi oleh pers untuk mencapai tujuan tersebut. Oleh sebab itu pers adalah kunci pembangunan nasional, khususnya daerah,” ujar Sabrina.

 Saat ini, menurut Sabrina, peran pers tidak lagi berkutat pada perjuangan melawan kolonialisme, tetapi sudah berubah menjadi upaya mewujudkan kesejahteraan rakyat. “Penyampaikan informasi yang berisi edukasi kepada masyarakat adalah salah satu peran penting yang dapat dilakukan oleh pers saat ini,” kata Sabrina.

Selain edukasi, peran membangkitkan motivasi masyarakat juga bisa dilakukan oleh pers. Terutama dalam hal mendukung perekonomian Sumut. “Saya harap, pers berperan dalam menggelorakan semangat semua masyarakat dalam mendukung perekonomian yang berguna bagi dirinya dan bangsa,” sebut Sabrina.

Pakar Jurnalistik yang juga Dosen FISIP USU Dr. Sakhyan Asmara, MSP menyebutkan ada beberapa hal yang mempengaruhi independensi wartawan. Di antaranya tergerus oleh tuntutan mempertahankan hidup, terseret mengikuti selera pemilik modal, hingga terjebak kepada kepentingan berita yang dibingkai.

Selain itu ada beberapa hal yang menyebabkan independensi wartawan tidak berjalan. Di antaranya, penguasa begitu kuat, desentralisasi tidak berjalan atau kewenangan ditarik ke pusat. Jabatan strategis dalam suprasrtuktur politik dikuasai oleh partai atau koalisi partai penguasa.

“Serta para aktivis dibatasi gerakannya melalui pendekatan ekonomi atau pendekatan yang represif,” ungkapnya.

Sejarahwan pers dari Universitas Negeri Medan Dr.phill Ichwan Azhari pada dialog itu mengatakan  di masa lalu, pers memiliki ideologi melawan kolonialisme. Ia mencontohkan media Benih Merdeka yang terbit di Medan pada tahun 1916. Menurutnya Benih Merdeka sangat berani menamai korannya menggunakan kata Merdeka.

Ichwan juga menyebut Parada Harahap sebagai wartawan yang memiliki ideologi perjuangan. Parada Harahap pernah 12 kali masuk penjara sehingga disebut sebagai raja delik. “Dulu koran dibuat sebagai alat pejuangan untuk menentang kolonialisme,” ujar Ichwan.

Sementara itu Wartawan Senior Sumut Choking Susilo Sakeh mengatakan pers idealis tidak akan pernah mati. Namun meski begitu ada beberapa tantangan yang dihadapi pers saat ini, antara lain pandemi Covid-19, perkembangan teknologi, ancaman kekerasan dan rendahnya otokritik.

Choking menyebutkan salah satu upaya yang bisa dilakukan pers guna menghadapi tantangan tersebut, antara lain kolaborasi antarmedia untuk menghasilkan berita yang dibutuhkan masyarakat. Sehingga bisa bersaing dengan tulisan-tulisan di media sosial yang belum tentu kebenarannya.

Tokoh Masyarakat Sumut Syamsul Arifin mengatakan pers merupakan ujung tombak pembangunan bangsa dan negara. Sejak dulu pers telah berkontribusi pada pembangunan bangsa. “Pers ini sangat penting, pers ujung tombak untuk membangun negara dan daerah,” kata Syamsul.(*)

Reporter:

An Jambak

Editor:

Harun AR

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

YouTube
Instagram