9 Desember 2021

Ketika Bencana Datang

Saat Banjir Menerjang Pemukiman.

Rentaknews.com. Diawal tahun 2021 rentetan musibah dan bencana alam melanda Indonesia. Bencana datang, silih berganti serta menimbulkan korban yang tidak sedikit jumlahnya.

Dimulai dengan tanah longsor di Sumedang Jawa Barat, disusul jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182, menyusul banjir di Kalimantan Selatan, gempa bumi di Majene dan Mamuju, di Sulawesi Barat, hingga gunung Semeru meletus di Jawa Timur.

Teranyar banjir sejumlah daerah di Indonesia seperti Aceh hingga Maluku diterjang banjir bandang di awal tahun 2021.

Allah SWT berfirman:

وَاِذَاۤ اَرَدْنَاۤ اَنْ نُّهْلِكَ قَرْيَةً اَمَرْنَا مُتْرَفِيْهَا فَفَسَقُوْا فِيْهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنٰهَا تَدْمِيْرًا

Artinya :
“Jika Kami menghendaki menghancurkan suatu negeri, Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah (berkedudukan untuk taat kepada Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan daiam negeri tersebut, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya,”
(QS Al-Isra’ 17: 16).

Sesungguhnya bila saat ini terjadi suatu bencana, apakah penyakit menular (covid-19), letusan gunung, gempa, tsunami, likuifaksi, banjir, kekeringan panjang, para ilmuwan selalu berusaha mengaitkan bencana tersebut dengan fenomena alam.

Padahal dari pristiwa bencana paling tidak ada tiga analisa yang sering diajukan untuk mencari penyebab terjadinya bencana tersebut.

Pertama, adanya azab dari Allah karena banyak dosa yang dilakukan manusia. Kedua, sebagai ujian dari Allah kepada manusia. Ketiga, Sunnatullah dalam arti gejala alam atau hukum alam yang biasa terjadi.

Tanah Longsor

Apabila bencana yang sering menghampiri suatu negri dikaitkan dengan dosa-dosa bangsa, bisa saja benar. Sebab kemaksiatan sudah dijadikan kebanggaan baik di tingkat pemimpin maupun sebagian rakyatnya, ajaran agama banyak yang tidak diindahkan, orang-orang miskin dan anak yatim diterlantarkan.

Sesungguhnya segala sesuatu yang ada didunia ini milik Allah, semuanya berada dalam genggaman kekuasaan Allâh. Segala sesuatu yang ada dalam kekuasaan Allâh berjalan sesuai dengan perintah-Nya.

Apapun yang menimpa kepada munusia merupakan akibat dari perbuatan manusia sendiri. Allâh SWT itu maha adil lagi maha bijaksana. Semua manusia hidup dibawah naungan Rahmat-Nya.

Baca juga :https://rentaknews.com/2021/02/20/bila-saatnya-terhenti/

Ketika seorang hamba itu istiqâmah di atas aturan Allâh, maka kehidupan dunianya akan lurus dan mendatangkan banyak manfaat, bukan madharat.

Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Artinya :
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
(QS Al-A’râf 7:96)

Adakah kita menyadari, sesungguhnya apabila bencana turun menimpa suatu negri, itu dikarenakan ulah kita sendiri. Yakni disebabkan banyaknya dosa yang kita lakukan?

Ataukah kita hanya mengikuti prasangka buruk bahwa Allah menzalimi hamba-Nya dengan bencana gempa, tsunami, kekeringan, banjir, longsor, kelaparan yang ditimpakan pada suatu kaum?, tidak Allah tidaklah menzalimi hamba-hamba-Nya.

Sesungguhnya tidak sedikit orang yang belum menyadari bahwa sebenarnya sangat jelas adanya korelasi antara perbuatan dosa dengan datangnya bencana.

Allah SWT berfirman:

وَمَاۤ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍ

Artinya :
“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).”
(QS. Asy-Syura 42:30)

Sesungguhnya sebagai hamba yang beriman mampu bersikap bijak dan berupaya mengenali hukum-hukum Allah yang telah ditetapkan atas alam ini. Cerdas dan bijak untuk terus melakukan introspeksi terhadap keseriusan kita dalam menaati perintah-perintah Allah SWT dan menghitung-hitung kedurhakaan kita kepada-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنبِهِ ۖ فَمِنْهُم مَّنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُم مَّنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُم مَّنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُم مَّنْ أَغْرَقْنَا ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِن كَانُوا أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

Artinya :
“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur (halilintar), dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri“.
(QS al-Ankabut 29:40).

Sesungguhnya apabibila orang-orang yang diberikan amanah sudah tidak menjalankan fungsi yang semestinya, maka kebangkrutan moral menjadi pemandangan yang biasa.

Maka menjadi kewajiban kaum Muslimin segera bertaubat kepada Allah SWT, konsisten di atas dien-Nya, jalankan semua perintah dan jauhi semua larangan-Nya.(TI)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

YouTube
Instagram