7 Desember 2021

Ketundukan Hati

Tunduk hati mengingat Allâh dan kepada kebenaran yang telah turun kepada mereka.

Sesungguhnya hati yang tunduk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah hati yang bersih, yakni menyandarkan ketauhidannya hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, hati yang bersih dari seluruh perkara yang merusak tauhidnya.

Firman Allah SWT :

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

Artinya :
Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allâh dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras.
Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.
(QS Al-Hadîd 57:16)

Imam Ibnu Katsîr rahimahullah berkata, “Belumkah tiba waktunya bagi kaum Mukminin untuk khusyu’ hati mereka ketika tengah mengingat Allâh Azza wa Jalla .

Maksudnya, hati mereka menjadi melunak kala mengingat Allâh Azza wa Jalla , mendengar nasehat dan mendengar bacaan al-Qur`ân, sehingga memahaminya, patuh kepadanya dan menyimak dan menaatinya”.

Kata الْخُشُوْعُ secara etimologi bermakna tidak bergerak, tuma’nînah dan merendahkan diri. Sedang dalam terminologi syariat, bermakna rasa khasy-yah (takut) kepada Allâh Azza wa Jalla yang meliputi kalbu yang pengaruhnya tampak pada anggota tubuh dengan menundukkan diri dan tidak bergerak-gerak seperti kondisi orang yang tengah dilanda ketakutan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿١٣١﴾

Artinya :
“Ketika Rabbnya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Rabb semesta alam”.”
(QS. Al-Baqarah 2: 131)

Hati yang bersih dari segala bentuk kesyirikan, hati yang sama sekali tidak ada ketergantungan meskipun sedikit pun kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hati yang suci, yang bersih, dimana kecintaannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, hanya takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, harapannya, ketergantungannya hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hadist Rasulullah SAW :

إِنَّ اللهَ نَظَرَ فِي قُلُوْبِ الْعِبَادِ فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَ قُلُوْبِ الْعِبَادِ، فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ فَابْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ، ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوْبِ الْعِبَادِ بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ، فَوَجَدَ قُلُوْبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوْبِ الْعِبَادِ فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ يُقَاتِلُوْنَ عَلَى دِيْنِهِ، فَمَا رَأَى الْمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ، وَمَا رَأَوْا سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّئٌ

Artinya :
Sesungguhnya Allah memperhatikan hati para hamba-Nya. Allah mendapati hati Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hati yang paling baik, sehingga Allah memilihnya untuk diri-Nya dan mengutusnya sebagai pembawa risalah-Nya. Kemudian Allah melihat hati para hamba-Nya setelah hati Muhammad. Allah mendapati hati para sahabat beliau adalah hati yang paling baik. Oleh karena itu, Allah menjadikan mereka sebagai para pendukung Nabi-Nya yang berperang demi membela agama-Nya. Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin (para sahabat), pasti baik di sisi Allah. Apa yang dipandang buruk oleh mereka, pasti buruk di sisi Allah.”
(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad)

Baca Juga :https://rentaknews.com/2021/02/11/buah-menjaga-amanah

Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hati mereka bersih, sangat lembut, tunduk dan patuh kepada Allah dan Rasul-Nya sehingga tatkala mendengar atau dibacakan kepada mereka ayat-ayat Al-Quran kepada mereka, bergetarlah hati dan bertambahlah iman mereka.

Sesungguhnya dalam melakukan ibadah pun mereka tidak setengah-setengah, baik itu tawakal, shalat, sedekah, jihad, dan yang lainnya, semuanya ditujukan hanya kepada Allah dan hanya ridha dan mengharapkan pahala dari Allah SWT. Dan tentu saja belum ada di antara kita yang bisa menandingi kualitas ibadah mereka.

Jagalah hati, agar senantiasa terjaga, jagalah hati agar senantiasa bersih, adapun hal-hal yang membuat hati menjadi mati di antaranya adalah karena tidak mau menerima kebenaran, walaupun tahu kebenaran.

Allâh Azza wa Jalla berfrman :

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Artinya :
Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allâh memalingkan hati mereka; dan Allâh tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.
(QS Ash-Shaff 61:5)

Orang yang telah mati hatinya, lebih hina dan rendah daripada binatang ternak; dan neraka Jahannam, itulah tempat kembalinya.

Orang yang demikian, hatinya telah tertutup, sehingga ia tidak bisa mengambil manfaat dari hatinya. Sebab ia telah berpaling dari kebenaran. Hidup dalam kebatilan dan kesesatan. Mereka menempuh jalan menuju neraka Jahim, tempat kembali paling buruk.

Firman Allah SWT :

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ

Artinya :
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.
(QS. Al An’am: 42

Sesungguhnya mengerjakan apa yang diperintahkan Allah SWT adalah membersihkan dan mensucikan hati agar senantiasa dalam ikatan tali Allah. Seluruh apa yang dilarang Allah SWT adalah untuk menjaga hati dari berbagai penyakit.

Semoga Allah SWT menjaga hati kita, tetap terjaga dari berbagai penyakit yang tercela dan mematikan hati, hati senantiasa tunduk dan patuh kepada-Nya.(TI)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

YouTube
Instagram