9 Desember 2021

Akhlaq Kemuliaan Seorang Hamba Yang Paling Utama

JENDELA FAJAR.
MENGULANG KAJI

Rentaknews.com.
Sesungguhnya seorang Muslim hendaknya selalu menjaga adab dan menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia dalam berinteraksi dengan siapapun. Akhlak yang mulia menjadi tolok ukur kebaikan seseorang.

Allah SWT berfirman:

اِنَّمَا يُؤْمِنُ بِاٰيٰتِنَا الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِّرُوْا بِهَا خَرُّوْا سُجَّدًا وَّسَبَّحُوْا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُوْنَ

Artinya :
“Orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, hanyalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengannya (ayat-ayat Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya, dan mereka tidak menyombongkan diri.”(QS. As-Sajadah 32: 15)

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلاَقًا

Artinya :
“Sesungguhnya di antara yang terbaik dari kalian adalah yang paling mulia akhlaknya.” (HR. Bukhari).

Sebagaimana kita ketahui, memperbaiki akhlak manusia adalah satu misi utama diutusnya Nabi Muhammad SAW.

Allâh SWT berfirman :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ

الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Artinya :
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasûlullâh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allâh dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allâh. (QS al-Ahzâb 33:21)

Akhlak yang baik menjadi salah satu penyebab utama masuk surga. Saat ditanya tentang amalan yang paling banyak menyebabkan masuk surga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Ketaqwaan pada Allah dan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi)

Akhlaq mulia adalah pribadi yang memiliki berbagai keutamaan. Memiliki akhlaq mulia mempunyai kemampuan melaksanakan perintah Allah dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَكْمَلُ المُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Artinya :
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”(HR. Tirmidzi no. 1162.)

Dengan akhlak yang mulia, seorang akan terbebas dari pengaruh negatif prilaku orang lain. Dengan kemuliaan akhlak pula seorang muslim akan memperoleh ketinggian derajat.

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَا مِنْ شَىْءٍ يُوضَعُ فِى الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ وَإِنَّ صَاحِبَ حُسْنِ الْخُلُقِ لَيَبْلُغُ بِهِ دَرَجَةَ صَاحِبِ الصَّوْمِ وَالصَّلاَةِ

Artinya :
“Tidak ada sesuatu amalan yang jika diletakkan dalam timbangan lebih berat dari akhlaq yang mulia. Sesungguhnya orang yang berakhlaq mulia bisa menggapai derajat orang yang rajin puasa dan rajin shalat.” (HR. Tirmidzi no. 2134)

Dalam riwayat Tirmidzi, haditsnya dinyatakan hasan shahih, disebutkan pula hadits dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيْزَانِ المُؤْمِنِ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ حُسْنِ الخُلُقِ، وَإِنَّ اللهَ يُبْغِضُ الفَاحِشُ البَذِي

Artinya :
“Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat selain akhlaknya yang baik. Allah sangat membenci orang yang kata-katanya kasar dan kotor.”

Akhlaq mulia itu terwujud dengan senantiasa membersihkan jiwa dari sifat-sifat rendah dan tercela, menghiasi pribadinya dengan sifat-sifat terpuji.

Salah satu simpul kemuliaan adalah selalu menjalin hubungan dengan orang yang memutuskan hubungan silaturahiem, memberikan kebaikan kepada orang yang tidak mau berbuat baik, dan dengan mudahnya memberi maaf kepara orang lain yang menzalimi.

Ibn ‘Umar r.a menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda : “Sesungguhnya amalan paling berat yang diletakkan di dalam timbangan dihari kiamat adalah berakhlak baik. Karena, sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala sangat membenci orang yang suka berbuat keji.”(HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi ).

Diriwayatkan bahwa ketika ‘Umar ibn Al-Khaththab r.a datang ke Syam, ia dan pengawalnya bergantian naik unta.Jika ‘Umar naik, maka pengawalnya memegang tali kekang unta itu.

Ia berjalan sekitar 8 km.Lalu ‘Umar turun, dan giliran pengawalnya naik di atas unta. Maka, ‘Umar memegang tali kekang onta tersebut dan berjalan sepanjang 8 km.Tiba-tiba di tengah jalan, ‘Umar melihat air, maka ‘Umar pun mulai meneguk air itu sambil memegang tali kekang onta.

Tiba-tiba Sa’id ibn Syaddad muncul, ia adalah penguasa Syam saat itu.Ia berkata,”Wahai Amirul Mukminin, apa yang kau lakukan? tidak baik bagimu, jika rakyat melihatmu dalam keadaan ini “, Umar menjawab, ” Dengan Islam, aku tidak akan memedulikan ocehan orang lain.”
Ada pendapat yang mengatakan bahwa akhlak yang baik adalah kemuliaan seorang hamba yang paling utama. Dengan akhlak yang baik, dapat diketahui kejernihan hati seseorang.
Setiap manusia diciptakan dalam bentuk tubuh yang berbeda-beda dan ia terkenal dengan akhlaknya yang baik.

Bagaimana dengan pribadi yang buruk?, pribadi yang buruk, menunjukan akhlak yang buruk, yang akan membuat seseorang tidak bisa berlapang dada, karena ia tidak dapat menerima masukan dari orang lain.
Ibnu ‘Abbas r.a berkata, “Sesungguhnya, akhlak yang baik itu dapat meruntuhkan kesalahan-kesalahan, seperti halnya matahari melenturkan kulit. Dan, akhlak yang buruk dapat merusak amal, sebagaimana cuka dapat merusak madu “.

Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba yang berakhlaq mulia, yang akan mendapatkan kemuliaan didunia dan akhirat kelak.

SEMOGA BERMANFAAT

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

YouTube
Instagram