2 Desember 2021

Membiasakan diri untuk menulis

Menulis merupakan tradisi besar orang-orang terdahulu yang ditularkan secara turun temurun kepada anak-anaknya.

Medan-Rentaknews.com. Hobbi memang selalu menyenangkan, hobbi adalah kegiatan rekreasi yang dilakukan pada waktu luang untuk menenangkan pikiran. Karena hal itu dikaitkan dengan suatu kebiasaan yang disukai dan biasanya hal itu dilakukan secara kontinyu bahkan sering menyita waktu.

Bagi seorang penulis, menulis merupakan rekreasi menyenangkan yang memiliki banyak manfaat. Kebiasaan menulis, merupakan tradisi besar orang-orang terdahulu yang ditularkan secara turun temurun kepada anak-anaknya. Kilas balik kebelakang sejak masa kecil, orang tua mendidik dan melatih anak-anaknya untuk bisa berbicara dan menulis. Lebih jauh lagi, kita dapat menulis dan membaca lebih baik karena orangtua telah mengajarkannya sebelum memasuki dunia pendidikan formal.

Selanjutnya kita pun dimasukkan ke sekolah dan dididik untuk mendapatkan ilmu yang lebih terarah dan terukur. Kita bisa membuka jendela informasi atau jendela fajar lebih dini keberbagai sudut dunia karena tradisi orang-orang terdahulu yang gemar mengajarkan menulis kepada anak-anaknya.

Sesungguhnya dengan menulis dapat mencurahkan apa yang dirasakan, berbagi informasi, berbagi masalah, berbagi hal untuk keluarga, jiran, kerabat dan masyarakat. Maka tidaklah berlebihan pada saat menulis seorang penulis telah mengungkapkan rasa dan keinginannya akan sesuatu. Dengan menulis berucap dalam rangkai kata-kata, goresan kalimat yang terukir dan menjadi rekam jejak informasi kehidupan yang perlu untuk disampaikan kepada publik. Semuanya dapat diraih dengan senantiasa menulis dan menulis.

Menurut survei kelas dunia, orang-orang Indonesia tak suka baca buku. Minat baca anak-anak bangsa ini terpuruk di level bawah. Penelitian PISA menunjukkan rendahnya tingkat literasi Indonesia dibanding negara-negara di dunia. Ini adalah hasil penelitian terhadap 72 negara. Indonesia hanya berada pada ranking 62 dari 70 negara yang disurvei, untungnya kata orang bukan yang terakhir. Tradisi menulis di Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan dengan tradisi membaca, terlebih di kalangan generasi muda. Respondennya adalah anak-anak sekolah usia 15 tahun, jumlahnya sekitar 540 ribu anak 15, sampling error-nya kurang lebih 2 hingga 3 skor.

Bagi seorang penulis, menulis merupakan rekreasi menyenangkan yang memiliki banyak manfaat.

Kita belum tahu setahun terakhir bila diadakan survei terhadap para pelajar dan mahasiswa, setelah pendemi Covid-19. Minat membaca saja rendah, bayangkan saja, minat menulis justru berada di bawah minat membaca, sangat mengkhawatirkan.
Kegiatan membaca dan menulis saling memengaruhi, membaca itu referensi untuk menulis. Bagaimana mungkin bila seseorang ingin menulis sementara dirinya tidak suka membaca.

Menulis, apakah sesungguhnya yang didapat dari kegiatan tulis-menulis?, tentunya banyak sekali, di antaranya kepuasan batin, karena menulis merupakan panggilan hati. Kepuasan batin adalah satu hal yang sulit dicari. Dengan menulis membangun karakter jiwa yang mampu meninggalkan jejak sejarah yang bermanfaat bagi generasi yang akan datang.

Sesekali cobalah merekam tiap ayunan langkah dalam perjalanan sehari-hari, sesungguhnya dilingkungan sekitar kita memberikan gambaran yang layak untuk direkam.Secara langsung kita mendapat ilmu dari lingkungan sekitar kita yang tak terhitung banyaknya. Hampir setiap hari peristiwa kecil yang dialami perlu mengikatnya dengan berbagai tulisan agar pristiwa tersebut tak berlalu begitu saja.

Rekam peristiwa yang diliat dengan kamera android tambah keterangan, lalu, tata dalam untaian kata saat duduk, lalu bila salah, jangan dirobek, cukup dihapus, ulang kembali sampai menjadi untai kata yang indah. Orang bijak mengatakan “ikatlah ilmu dengan tulisan”. Jadi cobalah apa yang direkam dari yang dilihat dengan tulisan, mengapa enggan mengikat ilmu dengan menulis? ayolah, jangan malas menulis.

Ada kalanya seseorang itu mahir bermanuver di atas mimbar tapi belum tentu mahir dalam menulis. Demikian pula sebaliknya. Maka ketika seseorang tidak mampu menyampaikan orasi di atas mimbar, setidaknya ia bisa menulis apa yang ingin disampaikannya.

Dengan tulisan dapat menyampaikan apa yang tak mampu diutarakannya di atas mimbar. Apa yang tak mampu untuk diucapkan, dengan menulis terungkap rangkaian kata. Menulis juga bagian dari amal jariyah. Mari perbanyak tabungan akhirat dengan menulis sejak sekarang. (TI)

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

YouTube
Instagram