1 Desember 2021

Kajian Faktor-faktor Beresiko Covid-19 Di Indonesia

Search Google. Prokes bagi penderita Covid-19

Medan-Rentaknews.com. Angka kematian Covid-19 Indonesia per tanggal 12 Oktober 2020 adalah sebesar 3,7%. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan angka Asia Tenggara yang sebesarr 1,6% bahkan juga lebih tinggi daripada angka kematian global yaitu sebesar 3%.  Angka kematian yang tinggi tentu saja memiliki banyak dampak buruk terhadap berbagai aspek, seperti aspek sosial, ekonomi, pendidikan, dan lainnya. Pengendalian penyakit ini sangat diperlukan mengingat jenis nya yang merupakan penyakit menular namun hingga saat itu belum ditemukan obat maupun vaksin untuk penyakit ini. Sehingga, data-data yang ada perlu dimanfaatkan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi mortalitas dan morbiditas kasus Covid-19 agar pengendalian dapat dilakukan lebih intens. Data yang digunakan bersumber dari Kementerian Kesehatan dan BPS. Analisis dilakukan dengan meode analisis regresi linier.

Searcg Google, Petugas Medis saat menangani penderita Covid-19

Hasil analisis menunjukkan bahwa mortalitas tinggi terjadi pada provinsi dengan prevalensi penyakit tidak menular (PTM), lansia, perilaku buruk, kepadatan penduduk, dan penduduk dengan movers komuter yang tinggi. Selain itu, cakupan imunisasi lengkap, layanan kesehatan tradisional, dan air layak yang rendah juga meningkatkan angka mortalitas di provinsi. Di sisi lain, morbiditas tinggi terjadi pada provinsi dengan prevalensi hipertensi, kanker, obesitas, dan penduduk dengan movers komuter yang tinggi serta cakupan imunisasi lengkap dan layanan kesehatan tradisional yaitu penggunaan jamu yang rendah. Variabel air layak tidak signifikan mempengaruhi angka morbiditas provinsi. Secara umum, rasio kematian di wilayah Jawa lebih rendah dibandingkan luar Jawa. Meskipun begitu, ternyata pulau Jawa merupakan slah satu pulau dengan provinsi terbanyak yang prevalensi PTM nya tinggi dan persentase perilaku buruk penduduknya yang cukup bervariasi, ada provinsi yang persentasenya rendah hingga buruk. Oleh karena itu, beberapa rekomendasi yang dapat diberikan yaitu provinsi dengan prevalensi PTM tinggi harus mempunyai strategi khusus dalam menekan fatalitas; kolaboratif program antara penyakit menular, tidak menular, kesehatan tradisional, Yankes, Promkes menjadi sangat penting; provinsi dengan proporsi perilaku buruk tinggi (CTPS rendah, aktivitas fisik kurang) lebih mendapatkan prioritas intervensi promotif, preventif; regulasi/kebijakan komuter yaitu kebijakan bersama lewat batas provinsi; kerjasama lintas kementerian, pemerintah pusat dan daerah dalam mendeteksi provinsi/kabupaten berisiko tinggi sebagaimana hasil model kajian ini; dan lainnya.

Pembatasan aktivitas, masalah ekonomi/kehilangan pekerjaan, isolasi bagi penderita, dan juga stigma terhadap penderita akibat munculnya kasus Covid-19 dan penetapan pandemik Covid-19 di Indonesia dapat memicu kekhawatiran, ketakutan, gangguan cemas, dan depresi masyarakat. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kesehatan jiwa masyarakat dan upaya yang dilakukan masyarakat dalam mengatasinya di masa pandemik ini. Analisis dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif dilakukan dengan analisis regresi dan analisis kualitatif dilakukan dengan wawancara mendalam. Survei dilakukan pada bulan Mei dan September 2020 secara daring di 34 Provinsi.

Hasil menunjukkan bahwa terdapat 2800 responden dari 34 provinsi mengisi survei pada bulan Mei 2020 dan 1183 responden dari 32 provinsi mengisi survei di bulan September 2020. Gangguan depresi baik pada bulan Mei maupun September selalu lebih tinggi dibandingkan angka gangguan cemas. (sejalan dengan temuan di Hongkong, Austria, Nepal, Irlandia, Australia). Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan bermakna antara kondisi cemas dan depresi pada bulan Mei dan September, yang berarti kesehatan jiwa merupakan respon jangka panjang dari pandemik (sejalan dengan penelitian di Austria, Inggris, China). Berdasarkan hasil analisis pula, mekanisme coping stress terbanyak yang dilakukan oleh responden adalah dengan melalui sprititual yaitu sebesar 97,4% di bulan Mei dan 97% di bulan September. Seperti menurut salah satu responden perempuan di Jawa Tengah yang mengatakan bahwa beliau biasanya langsung wudhu, dan jika tidak menenangkan maka sholat dan dibanyakin ”nderes”. Sedangkan, mekanisme coping stress yang sangat sedikit dilakukan oleh responden adalah minum minuman beralkohol yaitu hanya sebesar 1,4% di kedua bulan tersebut.  Selain itu, kebanyakan responden yang mengalami gangguan depresi dan cemas tidak melakukan konsultasi ke tenaga kesehatan/profesional, misalnya saja yaitu hanya 25,7 persen responden yang mengalami gangguan cemas memilih akses ke tenaga kesehatan/professional dan 74,3 persen lainnya memilih tidak mengakses tenaga kesehatan/professional di bulan September 2020, begitu pula yang lainnya. Beberapa alasannya yaitu seperti masih bisa dikendalikan, belum tahu ada keberadaan layanan kesehatan jiwa, tidak yakin masalahnya bisa diatasi meskipun menemui tenaga professional, dan alasan lainnya. Oleh karena itu, pengetahuan masyarakat tentang tanda atau gejala masalah kesehatan jiwa, keberadaan dan jenis layanan kesehatan jiwa yang telah tersedia masih perlu ditingkatkan.

Reporter : Yunia Rohana Soliha Pinem dkk.

Editor : Tauhid Ichyar

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

YouTube
Instagram