2 Desember 2021

Satu Jam Bincang-bincang Bersama Prof.H.Usman Pelly, MA, Ph.D

Usman Pelly mendapatkan gelar Ph.D dalam bidang Antropologi Kependudukan pada University of Illinois, Urbana-Champaign Chicago dengan predikat Cumlaude.

Medan-http://Rentaknews.com. Kali ini awak media Rentaknews berbagi cerita saat bersilaturahim dan berbincang dengan sosok tokoh Minang senior, tokoh Akademisi senior, tokoh birokrat, tokoh organisasi kemasyarakatan dan politik, beliau Prof.H.Usman Pelly.

Usman Pelly lahir di Lhokseumawe, Aceh, 12 Juli 1938, beliau seorang antropolog Indonesia, guru besar, dan Ketua Umum Yayasan Universitas Islam Sumatera Utara. Dari perjalanan karir yang juga dikenal sebagai sosok antropolog ini, kita bisa memahami bahwa segala impian dimulai dengan niat, berdo’a kepada-Nya, diwujudkan dengan kesungguhan. Dan kesuksesan diraih dengan tanpa menunda-nunda pekerjaan.

Siang itu kami janji ketemu dengan beliau dirumahnya,jam 17.00 Wib (Selasa 30/3/2021), beliau bersedia menerima kami, ternyata pada jam tersebut sahabatku Tauhid Ichyar ada jadwal mengajar, kontak kembali HP beliau, apa mungkin pertemuan lebih awal, jam 15.00. Dan beliau menyanggupi, “Alhamdulillah,” ucapku dengan rasa syukur. Saat ditemui di rumahnya sekaligus Perpustakaan, sekretaris beliau, Andi mempersilahkan kami masuk, aku sempat menikmati indahnya halaman rumah dengan beraneka tanaman hijau yang menyejukan pandangan mataku.

Bertiga dengan beliau secangkir teh hangat menemani saat berbincang dimeja baca perpustakaan.

Disudut ruangan dengan senyum beliau menyambut baik kedatangan kami, tatanan rak yang melingkar dengan tinggi 3 meter terlihat koleksi ribuan buku tertata api, beberapa vandel serta medali penghargaan tersusun dipelataran meja rak. Ada sebanyak 35.000 buku dari berbagai jenis, Ensiklopedia, Sosiologi, Hukum, Politik, Agama, Antropologi dan Psikologi, di Graha Unimed jalan Pelajar Timur no. 18 Medan.

Bertiga dengan beliau secangkir teh hangat menemani saat berbincang dimeja baca perpustakaan, beliau memiliki pandangannya yang mewakili masyarakat banyak terhadap kota Medan. Berpendapat Kota Medan adalah kota terbesar di Sumatera dan di juluki Paris Van Sumatera, lapangan merdeka. Balaikota merupakan rangkaian fakta dan sejarah harus dilestarikan dan tidak boleh dipisahkan. Balai Walikota Medan yang ada sekarang, terlihat terjepit redup dan tidak berseri.

Lanjut beliau lagi, mengapa Balai kota dan alun-alun kota lapangan Merdeka harus diceraikan secara paksa, dan mengapa Balaikota didirikan didaerah pinggiran resapan dibawah jembatan sungai Deli. Balaikota sekarang itu tidak menampilkan energi, dia berada dibawah bayang-bayang gedung-gedung besar, gedung Grand Swalayan dan hotel Arya Duta dan diseberangnya hotel Aston. Tapak gedung Arya Duta ini, adalah bekas tapak gedung kantor walikota lama yang menggandeng Balai Kota yang ditinggalkan, sekarang dijadikan semacam kedai kopi menghadap ke jalan Balai Kota.

Walikota sebelumnya yang sedang menjalani hukuman penjara, telah menyatakan tidak merasa at home berkantor di Kantor walikota sekarang, beliau merasa resah dan tidak nyaman. Seakan dia berada bukan “dijabu nigodang” (rumah besar, tempat raja-raja Sipirok)

Alun-alun yang dibangun lebih dari seabad yang lalu, yang didendangkan oleh anak cucu kita sebagai identitas kota kesayangannya telah dirobah menjadi Merdeka Walk, dipagar dan di kerangkeng jadi pasar swalayan dan diseberangnya, dilantai dua ada jajaran buku bekas yang kumuh dan parkiran kereta api, disanalah dulu dibacakan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, wajarkah perlakuan mereka seperti itu, menelantarkan nasib alun-alun yang telah menjadi situs Proklamasi kemerdekaan, tempat yang paling terhormat dalam identitas kota kita???Bukankah dengan cara seperti ini mereka telah menginjak-injak kehormatan kita semua ujar, Usman Pelly.

Usman Pelly mendapatkan gelar Ph.D dalam bidang Antropologi Kependudukan pada University of Illinois, Urbana-Champaign Chicago dengan predikat Cumlaude, menuturkan sepanjang karirnya selain sebagai Guru besar jabatan yang pernah disandang beliau adalah Direktur Lembaga Penelitian, PR I, PR IV Koordinator Kopertis Wilayah I (Sumut dan Aceh). Direktur Pasca Sarjana Unimed. Saat ini beliau aktif sebagai external examinator di dalam dan di luar negeri.

Aku sempat menikmati indahnya halaman rumah dengan beraneka tanaman hijau yang menyejukan pandangan mataku.

Beliau banyak mengisahkan perjalanan hidupnya, sudah ditinggal ayah sewaktu kecil menceritakan parasaaan (penderitaan -red) masa kecil di Kuta Cane bersama Bachtiar Chamsyah, Menteri Sosial pada era SBY.

Diakhir bincang-bicang beliau berkenan memberikan dua buah buku masing masing kepada kami yaitu Buku Tak Hilang Melayu di Bumi diterbitkan Casa Mesra Publisher, Mei 2019.Dan buku Coming Home (Ke Tanah Batak) cetakan Januari 2021.Secara historis kedekatan kami dengan bang Usman Pelly,sama-sama berasal dari Nagari Bayua Maninjau dan sama-sama satu suku Piliang,” ujar Aziz.

Reporter: Abdul Aziz
Editor: Tauhid Ichyar

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

YouTube
Instagram