Search Google, Ilustrasi sebuah ambisi jabatan setelah didapat.

Rentaknews.com. Jabatan merupakan amanah, ia memiliki dayatarik kuat untuk dimiliki, sinarnya menyilaukan pandangan, memancarkan kehormatan, kekuasaan serta kedudukan serta berbagai fasilitas yang menjanjikan. Karena itu jabatan senantiasa menjadi perebutan.

IKLAN

Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَخُوْنُوا اللّٰهَ وَا لرَّسُوْلَ وَتَخُوْنُوْۤا اَمٰنٰتِكُمْ وَاَ نْـتُمْ تَعْلَمُوْنَ

Artinya :
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”
(QS. Al-Anfal 8: 27)

Firman Allah SWT :

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

Artinya :
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
(QS An-Nisa 4:58)

Menurut bahasa, jabatan artinya sesuatu yang dipegang, sesuatu tugas yang diemban. Semua orang yang punya tugas tertentu, kedukan tertentu atau terhormat dalam setiap lembaga atau institusi lazim disebut orang yang punya jabatan.

Dalam Al-Qur’an banyak ayat yang menggambarkan tentang jabatan, baik yang menunjukkan kebaikan seperti sirah Nabi Yusuf maupun yang menunjukkan keburukan seperti sirah tentang Fir’aun, Qarun dan sebagainya.

Jabatan merupakan amanah dan karunia Allah. Disebut sebagai amanah Allah karena jabatan tersebut didapat bukan semata-mata karena kehebatan seseorang, tetapi karena kehendak dan karunia dari Allah semata, yang hakekatnya bukan dimaksud untuk kesenangan pribadi pemiliknya, tetapi untuk kemaslahatan umat.

Karena jabatan adalah amanah, maka harus dijaga dan dijalankan atau dipelihara dan dilaksanakan dengan benar, sebab suatu saat akan dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah SWT.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehati Abdurrahman bin Samurah :

يَا عَبْدَ الرَّحْمنِ بن سَمُرَةَ لاَ تَسْألِ الإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيْتَها عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا وَ إِنْ أُعْطِيْتَهَا عَنْ مَسْأََلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْها

Artinya :
“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan. Karena jika engkau diberi tanpa memintanya, niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah dengan diberi taufik kepada kebenaran). Namun jika diserahkan kepadamu karena permintaanmu, niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong). ”
(diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 7146)

Sesungguhnya menjadi seorang tokoh dan memiliki jabatan saat ini merupakan impian banyak orang kecuali sedikit dari mereka yang dirahmati Allah SWT. Sangat jamak terjadi jabatan dijadikan sebagai wadah rebutan, lobbying sana sini, sogok menyogok serta upeti. Khususnya jabatan yang memberikan posisi strategis dan pundi-pundi yang menjanjikan.

Sabda Rasulullah :

إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُوْنَ علي الإِمَارَةِ وَ سَتَكُوْنُ نَدَامَةٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya :
“Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan. ”
(Shahih, HR. Al-Bukhari no. 7148)

Masih berkaitan dengan permasalahan diatas, juga didapatkan riwayat dari Abu Dzar Al-Ghifari. Ia berkata: “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau menjadikanku sebagai pemimpin?”

Mendengar permintaanku tersebut beliau menepuk pundakku seraya bersabda:

يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ ضَعِيْفٌ وَ إِنَّها أَمَانَةٌ وَ إِنَّها يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَ نَدامَةٌ إِلاَّ من أَخَذَها بِحَقِّها وَ أَدَّى الَّذِي عَلَيْه فِيْها

Artinya :
“Wahai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah sementara kepemimpinan itu adalah amanah. Dan nanti pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambil dengan haknya dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpinan tersebut. ”
(Shahih, HR. Muslim no. 1825)

Dalam riwayat lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا أَبَا ذّرٍّ إِنَّي أَرَاكَ ضّعِيْفًا وَ إِنَّي أُحِبُّ لك ما أُحِبُّ لِنَفْسِي لاَ تَأَمَّرَنَّ اثْنَيْنِ و لاَ تَوَلَّيَنَّ مَالَ يَتِيْمٍ

Artinya :
“Wahai Abu Dzar, aku memandangmu seorang yang lemah, dan aku menyukai untukmu apa yang kusukai untuk diriku. Janganlah sekali-kali engkau memimpin dua orang dan jangan sekali-kali engkau menguasai pengurusan harta anak yatim. ”
(Shahih, HR. Muslim no. 1826)

Al-Imam An-Nawawi membawakan kedua hadits Abu Dzar di atas dalam kitab beliau Riyadhush Shalihin, BAB “Larangan meminta jabatan kepemimpinan dan memilih untuk meninggalkan jabatan tersebut jika ia tidak pantas untuk memegangnya atau meninggalkan ambisi terhadap jabatan”.

Rasulullah menggambarkan ambisius terhadap jabatan digambarkan bagaikan lebih dari dua ekor serigala yang kelaparan lalu dilepas di tengah segerombolan kambing.

Beliau bersabda:

ما ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلا في غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لها من حِرْصِ المَرْءِ على المَالِ و الشَّرَفِ لِدِيْنِهِ

Artinya :
“Tidaklah dua ekor serigala yang lapar dilepas di tengah segerombolan kambing lebih merusak dari pada merusaknya seseorang terhadap agamanya karena ambisinya untuk mendapatkan harta dan kedudukan yang tinggi. ”
(HR. Tirmidzi no. 2482)

Jabatan adalah amanah, sehingga orang yang menduduki jabatan berarti ia tengah memikul amanah.

Karena itulah Rasulullah melarang orang yang tidak cakap untuk memangku jabatan karena ia tidak akan mampu mengemban tugas tersebut sebagaimana mestinya.

Rasulullah juga bersabda:

إِذَا ضُيِّعَتِ الأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ. قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُها ؟ قال: إِذَا وُسِّد الأَمْرُ إلى غَيْرِ أَهْلِها فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ “

Artinya :
Apabila amanah telah disia-siakan, maka nantikanlah tibanya hari kiamat. Ada yang bertanya: Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan menyia-nyiakan amanah? Beliau menjawab: ‘Apabila perkara itu diserahkan kepada selain ahlinya, maka nantikanlah tibanya hari kiamat”. ”
(Shahih, HR. Al-Bukhari no. 59)

Semoga Allah SWT menghilangkan ambisius pribadi dalam meraih ananah dan semoga Allah SWT menolong dalam mengemban setiap amanah yang ditakdirkan-Nya untuk diemban.(TI)

SEMOGA BERMANFAAT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here