Loyalitas total atas perintah-Nya untuk siap berkurban sebagian atas harta yang kita sayangi.

Medan-Rentaknews.com. Kutarik tali kekang sapi satu persatu keluar pagar pembatas bambu, dipojokan lapangan rumput pada kisi-kisi pagar bambu tali pengekang sapi dan kambing kutambat. Dua puluh ekor sapi dan tiga puluh ekor kambing satu persatu kuperiksa dengan seksama, sambil mengusap-usap kepalanya agar jinak dan tak liar kesana kemari.

IKLAN

Sore kemarin Wak Dol tetangga belakang rumahku nitip 2 ekor kambing seberat lebih kurang 40 kg, yang seekor buat qurban keluarganya, seekor lagi untuk kami jualkan menjelang Idul Qurban tiba. Beliau setiap tahun berusaha keras bisa berqurban dari beberapa ekor kambing ternaknya, walau ia hanya seorang pedagang sayur keliling. Ayah berputra lima ini selalu menyisihkan seekor dari beberapa ternak kambing peliharaannya.

Biasanya kambing-kambing berumur 5 tahun, bagus posturnya, sehat jasmaninya dan cukup memadai beratnya. Selalu dilebihkannya tiga sampai empat ratus ribu rupiah untuk kami sebagai biaya titip jaga dan gembala, lain lagi kalau laku terjual, “ ini bonus ya wak, “ ujarnya sore itu pada wak Jalor sambil menyerahkan lembaran lima puluh ribuan saat kambing titipannya laku terjual. Besar sekali perasaan hatiku menerima pemberian yang terduga sore itu. 

Berqurban merupakan syariat yang meneladani Nabi Ibrahim AS dalam menjalankan kepatuhan atas perintah Alah SWT

Kutuangkan lagi kedalam ember campuran bregadium water, menambahkan sebagian  untuk sapi-sapi dan kambing yang masih kehausan. Dari arah pasar 2, mobil pajero sport hitam berjalan pelan dan berhenti tepat didepanku. ” assalamualaikum bang haji,” sapa sipengendara sambil membuka kaca mobil, “waalaikumsalam “, jawabku ramah, “tolong carikan kambing yang bagus bang haji,….yang harganya relatip terjangkau kantong,” ujarnya lagi. Dibukanya pintu belakang, lalu datang mendekatiku, kuperhatikan penampilannya, pria paruh baya, seorang birokrat, rapi, berdasi dengan sepatu ferradini mengkilap, “kalau yang ini berapa harganya bang haji,” ditunjuknya seekor kambing jantan dengan berat berkisar 40 kg,” itu.., lima juta pak,” jawabku, sambil membuka tali kekang dan mendekatkan kambing tadi kepadanya,” wow..mahal juga ya bang,…bisa kurang enggak ”,jawabnya lagi, “maaf pak, harga kita,… harga pas saja pak ”, jawabku meyakinkkan harga yang kutawarkan, “cukup mahal juga ya bang, …ada yang harga dua juta atau tiga jutaan bang ” tawarnya lagi padaku, “ masih terlalu jauh pak, disini sapi dan kambing kita pilihan, lihatlah posturnya, harganya sudah standar, kita siap mengantarnya sampai hari H, beberapa hari disini kita tetap menjaganya”, jawabku.

Apa yang kutawarkan sepertinya belum bisa diterimanya, dicobanya memilih-milih kambing-kambing lain yang kutambatkan. Selang beberapa saat seorang pria tua datang dengan sepeda ontel tuanya, pak Barjo, penjaga sekolah putriku Nisa, “ assalamualikum ”, sapanya menghentikan pembicaraanku dengan birokrat paru baya yang masih menawar-nawar kambing disebelahku, “ waalaikumsalam,…eh pak Barjo, apa kabar,” balasku menjawab salamnya, ”baik Dien, …,tolong kau carikan untukku kambing yang terbaik, beratnya 40 kiloan, yang cantik, macam yang tahun lalu, nih uangnya,” dibukanya pelastik keresek dari boncengan belakang sepedanya, “hitung Dien,…ada enam juta, sekalian ni ongkos beca dan rawat sampai hari H nya,….cukup seratus ya”, jawabnya lagi. “ udah pak, harga tersebut sudah dengan ongkir, sore nanti kuantar kerumah kwitansinya ”, jawabku pada pak Barjo yang akan meninggalkanku,“ sudahlah, ambil saja, enggak perlu kwitansi, aku perlu kambingnya Dien”, selorohnya padaku, lalu tanpa basa basi lagi ia pergi meninggalkan kami yang masih disibukan dengan tawar menawar harga. 

Sosok pak Barjo, laki-laki sederhana dan pria berdasi yang masih menawar harga kambingku, tentu mereka punya latar belakang pendidikan, pekerjaan dan status sosialnya yang berbeda ditengah masyarakat. Dan tentu saja sangat berbeda cara memahami qurban sebagai bentuk loyalitas total kepada Yang Maha Kuasa sebagai perintah kepada manusia.

Yang satu memandangnya penuh kesungguhan dengan keikhlasan dalam memberikan qurban yang terbaik, sementara yang satu masih banyak lebih didahulukan, apakah kredit rumah, kredit mobil, biaya pendidikan anak-anak, biaya plesiran, asuransi kesehatan, asuransi haritua atau seabrek biaya lainnya dari pada harus berqurban yang hanya membeli kambing atau sapi untuk disembelih dan dibagikan kepada para dhuafa. 

Qurban, merupakan tradisi tua yang telah dilaksanakan turun temurun sejak nabi Ibrahim mendapat perintah-Nya. Berqurban merupakan syariat yang meneladani Nabi Ibrahim AS dalam menjalankan kepatuhan atas perintah Alah SWT menyembelih anak semata wayangnya, Ismail. Loyalitas total yang dilakukan Ibrahim atas sebuah perintah berbuah saat mata pisau akan menyentuh putranya Ismail, kepatuhan Nabi Ibrahim digantikan dengan seekor kibas.

Penulis : TI Abdullah

Editor : Adm

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here