Ditengah hantaman badai Covid - 19 gelombang kedua, seharusnya pemerintah fokus menggunakan sumber daya keuangan termasuk SAL dan cadangan PEN.

Minggu, 18 Juli 2021, jam 9.30

IKLAN

Medan-Rentaknews.com.Pemerintah akan menambah Penyertaan Modal Negara (PMN) kepada beberapa BUMN sebesar rp. 48,9 triliun.
Sumber pendanaan berasal dari cadangan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sebesar rp. 32.9 triliun dan Saldo Anggaran Lebih (SAL) 16,0 triliun.

Jumlah tersebut diluar dari PMN sebesar 42.4 triliun, dalam Undang – undang APBN 2021 yang sudah disetujui DPR bulan oktober tahun lalu.

Hal tersebut disampaikan pemerintah dalam rapat kerja yang diselenggarakan antara Badan Anggaran dan Menteri Keuangan tentang realisasi semester I dan prognosa semester II tahun anggaran 2021.

Mengenai hal ini, Fraksi PKS menyatakan tidak menyetujui. Ditengah hantaman badai Covid – 19 gelombang kedua, seharusnya pemerintah fokus menggunakan sumber daya keuangan termasuk SAL dan cadangan PEN, serta sumber dana lainnya untuk perjuangan melawan covid -19 dan dampak negatifnya bagi perekonomian nasional dan kesejahteraan rakyat.

Penambahan PMN sebesar 48,9 triliun tersebut jelas mencederai hati nurani rakyat yang sedang berjuang melawan pandemi dan berusaha bangkit dari keterpurukan ekonomi, ungkap Hidayatullah.

Penanganan pandemi covid – 19 oleh pemerintah termasuk program vaksinasi yang diharapkan akan menjadi game charger, dinilai masih belum efektif jauh panggang dari api.

Terbukti dengan adanya gelombang kedua covid yang saat pembahasan APBN 2021 tidak diperhitungkan, akibatnya ketidak pastian ekonomi indonesia bertambah, sehingga pemerintah harus mengoreksi kembali pertumbuhan tahun 2021, yang tadinya 5 persen berubah menjadi kisaran 3,7 – 4,5 persen.

Hidayatullah menyatakan bahwa penambahan PMN sebesar 48,9 triliun tersebut tidak memiliki katrol dalam pemulihan ekonomi nasional dari keterpurukan ekonomi jangka pendek, apalagi terkait dengan penanganan pandemi.

“Oleh karena itu, FPKS berpandangan bahwa semestinya pemerintah menggunakan dana cadangan PEN dan SAL untuk program covid 19 dan berbagai dampaknya,” ujar Hidayatullah kepada reporter Rentaknews.com Sabtu (17/7/2021).

SAL digunakan untuk percepataan penanganan pandemi, termasuk memperkuat social safety net, meningkatkan kapasitas rumah sakit, tenaga medis, ketersedian oksigen, fasilitas UGD, ICU, ketersedian obat dan suporting kepada masyarakat yang melakukan isoman, tentu tidak boleh abai terhadap keterlibatan TNI, Polri dan relawan masyarakat dalam program vaksinasi massal untuk suport dana operasionalnya.

“Sedangkan dana cadangan PEN harus digunakan pemerintah untuk memperluas cakupan dan memperbesar jumlah penerima manfaat program PEN pada sektor yang memiliki daya ungkit pada pertumbuhan dan penyerapan tenaga kerja, seperti properti, perdagangan, pertanian, sektor industri rumah tangga dan padat karya, sehingga ekonomi sektor rill, UMKM dan Ultra Mikro kembali bergairah, ini semua mendorong peningkatan daya beli masyarakat,” papar Hidayatullah.

Bahwa kenaikan utang dalam tahun (2015 -2019) terakhir sebelum masa pandemi dan pada masa pandemi (2020 – 2021) sudah sangat mengkhawatirkan.

Rasio utang pemerintah pusat terhadap PDB sudah diatas 40 persen sedangkan rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara semakin meningkat.

Namun di sisi lain, tax ratio justru semakin terpuruk.
Ironisnya, banyak BUMN yang seharusnya memberikan deviden sebagai PNBP, justru saat ini menjadi beban keuangan negara.
Dimana PMN dari APBN sebagian besar digunakan untuk menyelamatkan BUMN yang bermasalah karena perilaku korupsi, moral hazard, buruknya corporate governance serta internal manajemen.
Selain juga mensuport proyek – proyek ambisius yang secara kalkulasi bisnis tidak menguntungkan, bahkan membahayakan kesehatan keuangan BUMN itu sendiri.

Diingatkan, janganlah pajak yang ditarik dari rakyat, serta utang yang harus dibayar oleh rakyat digunakan untuk PMN pada BUMN yang tidak jelas kontribusinya bagi keuangan negara dan untuk kesejahteraan rakyat.

“Apalagi menggunakan cadangan PEN dan SAL seharusnya digunakan untuk mempercepat dan memperluas penanganan perjuangan melawan pandemi dan dampaknya bagi Perekonomian indonesia. BUMN seharusnya memberikan kontribusi PNBP berupa deviden ini malah menjadi beban negara, Hidayatullah prihatin dengan kondisi Indonesia saat ini, salah dalam mengurus negara,” ungkapnya.

Reporter : Abdul Aziz
Editor: Adm.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here