dr. Abdul Halim, Perdana Menteri Indonesia (16 Januari 1950—5 September 1950)

Bunga Rampai Dari Ranah Minang.

IKLAN

Medan-Rentaknews.com. Abdul Halim lahir di Bukit tinggi tanggal 27 Desember 1911 dari pasangan Achmad St. Mangkoeto dan Darama berasal dari Banuhampu,
dr. Abdul Halim adalah Perdana Menteri Indonesia pada zaman Republik Indonesia berkedudukan di Yogyakarta Semasa (RIS) lebih kurang 9 bulan, 16 Januari 1950 – 5 September 1950.

Menteri Pertahanan ke 6 RI (6 September 1950 – 27 April 1951)

Menariknya, saat dipercaya menjadi Perdana Menteri Halim membentuk Negara Kesatuan, sebagai Program Kerja Pertama Kabinet Halim bersama dengan sahabatnya Mohammad Natsir di tahun 1950, mengikis Negara Serikat lewat Mosi Integral Natsir kemudian menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dalam buku Mohammad Natsir sebuah biografi (edisi revisi hal, 147)
Ketika Yogyakarta diserang oleh tentara Belanda , Natsir sedang dirawat di rumah sakit Bethesda, berhari – hari mendampingi Wakil Presiden Hatta dalam perundingan dengan Belanda dan KTN mengenai pelaksanaan Perjanjian Renville, Natsir terkena flu berat.
Dia sendiri merasa masih sanggup mendampingi Bung Hatta, tetapi dr. A. Halim ( kelak di masa RIS, menjadi Perdana Menteri RI di Yokyakarta) menyarankan Natsir supaya dirawat sambil beristirahat di rumah sakit, Dalam keadaan kurang sehat, Natsir masih sempat mendiktekan pesan Perjuangan kepada A.R. Baswedan.

Keterpilihannya menjadi Perdana Menteri boleh dikatakan sebuah keberuntungan, imbas dari perseteruan dua kekuatan partai politik besar saat itu, Masyumi dan PNI.
Halim menjadi mediator perseteruan dan sama – sama diterima.
Kemudian menjadi Perdana Menteri ke 4, sebelumnya Halim dikenal sebagai seorang dokter spesialis THT dipercaya sebagai wakil Pimpinan Umum RSUP ( kini RS. Dr. Cipto Mangunkusumo)
Kiprah politiknya dimulai selepas proklamasi kemerdekaan tahun 1945 dimulai menjadi anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat, Oktober 1945 -16 Januari 1950.

Peran penting lainnya yang dilakoni Halim dalam kesejarahan Indonesia adalah menjadi perutusan dalam penjemputan para penggerak Pemerintah Darurat Republik Indonesi (PDRI) di pedalaman Sumatera Barat tahun 1949 dikutip dari langgam.id

Buah dari perjanjian Bangka, Wakil Presiden RI, M. Hatta mengutus Halim bersama Leimena dan Natsir membujuk Syafruddin Prawira Negara dan kawan – kawan mengembalikan mandat ke Yokyakarta untuk diserahkan kembali kepada Soekarno – Hatta.

Halim memainkan peran yang sangat penting untuk itu, diplomasi cuci muka di pancuran Padang Japang, Kabupaten Lima Puluh Kota, meluluhkan hati Syafruddin dan kawan-kawan, yang sebelumnya bergeming pidato rayuan Leimena sepanjang malam.

Keponakan Asaat ini juga dikenal sebagai pendiri Voetbalbond Indonesia Jakarta (VIJ) yang kemudian dikenal sebagai klub sepakbola Persija.
Di bidang olahraga Halim memimpin Kontingen Indonesia dalam partisipasi pertama di arena Olimpiade Helsinki, Finlandia tahun 1952. Halim wafat 4 juli 1987 di usia 75 tahun.

Saat ini di usia Republik Indonesia yang ke 76 kita patut merenung dan berkaca kepada para pendahulu kita atas pengorbanan mereka – mereka NKRI masih ada sampai saat ini, disisi lain aroma disintegrasi bangsa mulai tercium adanya, untuk itu mari kita semua bersatu padu mempertahankan NKRI yang telah diperjuangkan oleh para pendahulu.
Terutama generasi muda pelanjut estafeta kepemimpinan perlu menjadi perhatian bahwa, segenggam Kekuasaan lebih berharga dari segudang pengetahuan.

Penulis: Abdul Aziz
Editor:Adm

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here