2 Desember 2021

Mengenang Tragedi 5 September, 16 Tahun Lalu, Duka Bagi Sumatera Utara.

google.com/search Tengku Rizal Nurdin

(bagian 2 dari 2 tulisan).

Medan-Rentaknews.com. Pada 5 September 2021 yang lalu, mengingatkan kita kembali peristiwa 16 tahun lalu, ketika dentuman letupan suara dari ujung landasan Bandara Polonia Medan. Ternyata pesawat Mandala Airlines yang membawa penumpang dari Medan menuju Jakarta meledak sekitar pukul 09.40.

Peristiwa itu semakin besar karena ada 2 orang tokoh pemimpin Sumut yang ikut didalamnya dan dinyatakan wafat.

Mereka adalah Mayjen TNI Purn. Tengku Rizal Nurdin ( Gubernur Sumut 1998-2003/ 2003-2005) dan Letjen TNI Purn Dr. (HC) H. Raja Inal Siregar (Gubernur Sumut 1988- 1998/ Anggota DPD RI ).

Mayjen TNI Purn. T.Rizal  Nurdin.

Sosok pria yang humanis ini sudah tidak asing bagi warga Sumut khususnya kota Medan. Masa kecilnya hingga pendidikan SMA dihabiskannya di Medan. T.Rizal Nurdin satu sekolah dengan Raja Inal Siregar ( SMA 1 Medan) meski memiliki jarak 10 tahun.

Begitu juga di Akademi Militer Nasional, Rizal Nurdin Alumni 71 sementara Raja Inal Siregar 61. Mereka tidak pernah bersama dalam kesatuan.

Rizal Nurdin sebelum menjadi Gubernur Sumatera Utara, beliau pernah menjadi Kasdam I/BB dan Pangdam I/BB yang akhirnya menjadi Gubsu. Sepertinya beliau dipersiapkan oleh Fraksi ABRI yang didukung penuh oleh Panglima ABRI Jenderal Feisal Tanjung.

Pemilihan T.Rizal Nurdin sebagai Gubsu memang agak unik karena disaat itu sudah masuk pada masa era reformasi yang lagi hangat- hangatnya dengan berbagai aksi demonstrasi. Ketika diusul oleh Fraksi-fraksi DPRD SU, Pemerintahan masih Orde Baru dipimpin Presiden Soeharto.      Saat terpilih dan dilantik Presiden berganti kepada  BJ Habibie. Setahun menjabat, Presidennya Gus Dur, saat menjelang periode ke 2 Presidennya Megawati Soekarnoputri, dan saat wafat Presidennya SBY.

Keunikan T Rizal Nurdin sebagai Gubsu,  mulai proses pencalonan sebagai Gubsu hingga wafatnya beliau,mendapatkan 5 Presiden ( Soeharto. BJ.Habibie, Gus Dur, Megawati, dan SBY ).

Mengelola Konflik.

Masa awal kepemimpinan T .Rizal Nurdin, stabilitas nasional memang terganggu dan merembet hampir ke seluruh daerah termasuk wilayah Sumatera Utara. ” Tiada hari tanpa demontrasi”.  Kantor Gubsu sebagai saksi demontrasi setiap hari mulai dari demo damai hingga demo anarkis.

Seiring dengan itu,  demokratisasi mulai digaungkan, penegakkan hukum dan Anti KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme) menjadi santapan para demonstran. Tuntutan penguatan Otonomi Daerah dan pemekaran terus bergulir. Suasana yang berpotensi kerusuhan massal seperti awal jelang reformasi, bukan tidak mungkin terjadi bila tidak dikelola dengan arif dan bijaksana.

Adalah T. Rizal Nurdin Jenderal alumni pendidikan West Point Amerika Serikat  dari Kesatuan Kostrad ini, sangat piawai dalam mengelola konflik. Beliau tidak lelah untuk berkomunikasi dengan semua elemen  baik pagi, siang bahkan malam hari beliau dengar segala aspirasi termasuk tuntutan merobah Kabinet di Kantor Gubsu yang dinilai masyarakat berbau KKN.

Sejarah mencatat segala aspirasi masyarakat yang ditemuinya , menjadi saksi sejarah betapa sabar dan cerdasnya beliau dalam mengelola berbagai gejolak yang ada.

Beliau tidak segan untuk meminta masukan kepada tokoh agama, etnik bahkan datang ke Perguruan Tinggi. Dihadapan para aktivis mahasiswa pun dia layani.

Rizal Nurdin  pemimpin yang tidak suka marah-marah,   tidak pemimpin yang egois dan sok serba tahu. Meski dia sangat cerdas ( bahkan menguasai bahasa Inggris dan Prancis) , Rizal Nurdin pemimpin yang suka dan sabar mendengar. Pemimpin yang mau ditegur/dikritisi masyarakat, Pemimpin yang mau menerima masukan masyarakat. Tapi dia juga pemimpin yang tegas dan konsisten apalagi bila berhubungan dengan hukum. Dia selalu menerapkan prinsip berpemerintahan itu dengan, ” taat azas, taat prosedur dan taat waktu “.

Suasana  Sumut yang penuh gejolak , dinamika yang tinggi secara perlahan dan pasti , beliau lakukan dengan melakukan langkah- langkah Prioritas antara lain :

1.Menciptakan iklim kondusif dan memihara harmonisasi dengan membentuk :

a. Forum Kerukunan Pemuka Agama (FKPA- akhirnya secara nasional terbentuk FKUB).

b. Forum Pelestarian Adat (FORKALA)

c. Forum Lintas Pemuda yang di koordinatori oleh KNPI.

2. Membina kekompakan dan sinergitas dengan Jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah ( Fokorpimda)

3. Mewujudkan Tata  Pemerintahan Yang Baik ( Good Governance) dan Pemerintahan Yang Bersih ( Clean Government)

4. Mengembangkan koordinasi dengan Bupati/ Walikota se Sumut.

5.Mendata dan membentukan Tim B Plus terhadap tanah ex HGU PTP II, III dan IV yang sudah habis masanya untuk diserahkan kepada masyarakat dan pihak lainnya sesuai alas dan peraturan yang berlaku.

Lima langkah ini dilakukan oleh Rizal Nurdin.

Dalam membangun harmonisasi dan iklim kondusif, Rizal Nurdin memerankan dirinya sebagai sosok Gubernur semua Etnik dan semua Umat Beragama, sehingga baginya tidak satu etnik dan umat beragama yang merasa dipinggirkan, ditinggalkan apalagi dilupakan.

Semua komponen Tokoh Agama dan Tokoh Adat dia satukan dalam Forum,  sehingga segala aspirasi yang muncul ditengah masyarakat dapat dikelola dan ditindaklanjuti oleh para tokoh – tokoh tersebut dan Rizal Nurdin menyiapkan waktunya untuk bertemu secara berkala dengan para tokoh- tokoh tersebut.

Dalam penegakkan KKN di jajaran Pemprovsu, Rizal Nurdin membenahi sistem mutasi dan promosi jabatan. BAPERJAKAT sebagai lembaga yang mempersiapkan rekruitmen pejabat, dia rombak dengan pola merit sistem. Dia lakukan uji psikologi dan uji kompetensi. Tidak tanggung tanggung diajaknya  Dinas Psikolgi TNI-AD untuk berkolaborasi dalam menyusun Peta Karir PNS.

Tidak ada di masanya karena dia Melayu maka suku Melayu yang mendominasi jabatan-jabatan eselon 2.

Bahkan lembaga Baperjakat juga diberdayakannya secara independen dan membuat pola assesment,  sosiometri kepada para pejabat.

Semua Golongan III/c hingga IV/c terekam dalam Bank Data Karir PNS. Strategi dan  langkah yang dilakukan Rizal Nurdin ini melahirkan trust (kepercayaan) yang tinggi dari masyarakat Sumut terhadap kepemimpinannya.

Beliau memimpin dengan adil proporsioal. Dia juga sering melakukan rapat-rapat koordinasi dengan Bupati/Walikota dan Fokorpimda Kab/Kota.

Meski kewenangan Gubsu pada masanya  tidak sekuat masa Raja Inal Siregar dan Gubernur-gubernur sebelumnya, tetapi dia mampu melakoni itu sehingga memberi dukungan yang kuat dari para Bupati/ Walikota se Sumut termasuk para tokoh masyarkat, tokoh agama, tokoh adat dan tokoh pemuda.

Good Media dan Good Governance.

Bahkan yang lebih menarik dia sangat dekat dan suka berdiskusi dengan para wartawan unit kantor Gubsu.       Pada hari-hari tertentu dia siapkan waktu untuk Coffee morning.     Bahkan disaat hari ulang tahunnnya dia lebih senang berbagi makan nasi bungkus atau nasi ” perang” di Kantin Kantor Gubsu. Dari dialog dengan wartawan dia banyak menerima masukan termasuk tentang kinerja dan prilaku para aparatnya.

Dihadapan para Pemimpin Redaksi dia selalu menantang kalau Pers meminta aparat untuk mewujudkan Good Governance, dia juga menantang Pers untuk mewujudkan Good Media.

Menjelang akhir hayatnya dia pernah bercerita bahwa suatu hari nanti Rizal Nurdin ingin mendirikan Lembaga Leadership untuk mempersiapkan Calon-calon Pemimpin Bangsa bersama.Soesilo Bambang Yudhoyono.

Ternyata almarhum Rizal Nurdin punya kenangan emosional dengan SBY, itu tidak diucapkan oleh Rizal Nurdin, tetapi oleh SBY sendiri saat menyampaikan kata- kata takziahnya di Rumah Dinas Gubsu seusai pemakaman almarhum 5 september 2005.

PENUTUP

16 tahun sudah berlalu tapi masih saja masyarakat Sumut mengingatnya. Mereka berdua telah mengukir sejarah jalannya pemerintahan Sumut yang memberi manfaat buat masyarakatnya.

Kita tentu ingin setiap pergantian kepemimpinan bukan dilihat apa yang ingin dirobahnya. Tetapi apa yang ingin ditorehkannya sebagai legacy bagi sejarah hidupnya dan masa pemerintahannya. Kalau buruk yang dilakukannya tentu juga menjadi noda hitam yg juga akan dikenang oleh generasinya.

“Gajah mati meninggalkan gading,  Harimau mati meninggalkan belang, Pemimpin mati,  meninggalkan keadilan dan amal solehnya kepada rakyatnya.”

Musibah pesawat Mandala di dalamnya terdapat 3 tokoh Sumut yang ikut syahid yakni Ust.  Abdul Halim Harahap Anggota DPD RI Perwakilan Sumatera Utara (red.)

Bersemayamlah wahai jiwa yang tenang Bapak Raja Inal Siregar dan Bapak T.Rizal.Nurdin di tempat keabadianmu di surga Allah ..amin ya robbal alamin.

Reporter: Abdul Aziz

Dari berbagai sumber

Editor: Adm

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

YouTube
Instagram