1 Desember 2021

Mengenang Tragedi 5 September, 16 Tahun Lalu, Duka Bagi Sumatera Utara.

search.yahoo.com Raja Inal Siregar

Selasa, 07 September 2021, 21:00

(bagian 1 dari 2 tulisan)

Medan-Rentaknews.com. Pada 5 September 2021 yang lalu, mengingatkan kita kembali peristiwa 16 tahun lalu, ketika dentuman letupan suara dari ujung landasan Bandara Polonia Medan. Ternyata pesawat Mandala Airlines yang membawa penumpang dari Medan menuju Jakarta meledak sekitar pukul 09.40.

Peristiwa itu semakin besar karena ada 2 orang tokoh pemimpin Sumut yang ikut didalamnya dan dinyatakan wafat.

Mereka adalah Mayjen TNI Purn. Tengku Rizal Nurdin ( Gubernur Sumut 1998-2003/ 2003-2005) dan Letjen TNI Purn Dr. (HC) H. Raja Inal Siregar (Gubernur Sumut 1988- 1998/ Anggota DPD RI ).

Peristiwa besar ini membuat kesedihan bagi masyarakat Sumut.

Mengapa sedih? Karena mereka mengukir sejarah ketika memimpin Sumut ( legacy) bagi masyarakat. Bahkan tidak diduga Presiden SBY saat itu sedang memimpin Sidang Kabinet di Istana menghentikan rapat dan mengajak para menteri untuk mengheningkan cipta.

Bahkan lebih dari itu, keesokan harinya Presiden SBY hadir bersama Ibu Ani Yudhoyono dan menjadi IRUP pada pemakaman Gubsu T. Rizal Nurdin di  Perkuburan Sultan Deli Kompleks Masjid Raya Al-Maksum (Al Mashun) Medan.

1. letjen TNI (Purn) Dr.(HC)H.Raja Inal Siregar.

Alumni SMA Negeri 1 Medan dan Alumni Akademi Militer Nasional 61 ( seangkatan dengan Jenderal Feisal Tanjung). Dia sosok jenderal yang cemerlang karirnya meski tak pernah menikmati pendidikan militer di luar negeri .

“Saya made in Indonesia,” katanya suatu hari. Di usia 46 tahun sudah dipercaya menjadi Pangdam XIII /Merdeka di Menado. Satu tahun kemudian (47 tahun) dia dipercaya menjadi Pangdam III/ Siliwangi (Kodam paling bergengsi).

Jenderal Besar AH Nasution suatu hari bercerita bahwa katanya, “sulit bagi orang Batak/Sumut menjadi Pangdam Siliwangi- mungkin hanya saya dan Siregar yang bisa jadi Pangdam” (terbukti hingga saat ini belum ada putra Batak menjadi Pangdam Siliwangi).

Selama 3 tahun Raja Inal memimpin Kodam Siliwangi tapi dia hampir 2 bulan sekali diam – diam pulang ke Sipirok untuk melihat kampung halamannya dan memberikan berbagai sentuhan – sentuhan aktivitas kepada warga Sipirok khususnya Desa Bunga Bondar.

Bahkan saat menjadi Pangdam dia meminta kepada pakar sosiologi Hotman Siahaan dari Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya, untuk melakukan penelitian dan menerbitkan buku tentang Permasalahan Desa.

Raja Pature Huta

Tepat di usia 50 tahun yang masih panjang masa dinas militer dan berpeluang meraih Bintang tiga atau empat, Raja Inal ditugaskan membenahi Sumatera Utara. Tahun 1988 beliau terpilih menjadi Gubernur Sumut.

Awal menjabat dia tancap gas melakukan kunjungan ke daerah-daerah terutama melihat keadaaan desa dan mencoba menggerakkan peran putera daerah di ” parserahan” ( perantau).

Belajar dari orang Sunda yang setiap akhir pekan dari Jakarta berbondong pulang ke kampung ke Jawa Barat dan belajar dari orang Minang yang ” Pulang  Basamo,” setiap lebaran. Sementara orang Sumut tak pernah pulang kecuali saat membawa peti jenazah menguburkan jazadnya ke kampung halaman.

Dua puluh delapan hari setelah dilantik beliau memulai mengunjungi Desa Pantai.           Hampir semua nelayan hidup dalam keprihatinan bahkan memiliki rumah yang tak layak huni. Disepanjang Pantai Timur ada 281 Desa. Rakyat ( nelayan) hanya dijadikan pekerja semata.

Kunjungan kedua dia lakukan  ke Kepulauan Nias. Raja Inal melihat betapa besarnya potensi Nias tersebut sampai dia akronimkan NIAS (Nusa Indah Andalan Sumatera). Sejak lama pulau yang memiliki panjang 130 Km dan lebar 40 km dikenal sebagai zamrud khatulistiwa.

1 November 1989 Raja Inal Siregar mencanangkan Gerakan Pembangunan Desa Terpadu – Marsipature Hutana Be (GPDT-MHB) di Desa Tanjung Ibus Kab. Langkat. Dia tidak canangkan ditanah leluhurnya  Sipirok atau di tanah Batak, melainkan dia canangkan di tanah Melayu.

Sampai saat ini kita tidak tahu alasannya,  tetapi menjelang akhir masa jabatannya dia katakan saya tidak ingin membangun kampung dituduh sebagai bagian etnosentris atau tidak nasionalis.

Gerakan ini membawa magnet bagi para perantau yang sukses .

Semua putra daerah sudah tak malu menyebut kampung halamannya. Mereka setiap pekan atau bulan ada saja yang pulang ke kampung halaman membenahi kampung halaman.

Raja Inal Siregar (Raja Pature Huta) tidak ingin MHB ini hanya untuk kepentingan orang Batak. Dia ke Kabupaten-kabupaten mencari istilah membangun kampung halaman dalam sebutan bahasa etnis masing-masing.

Misalnya di  tanah Melayu ” Mambolo Kampung”, di Labuhan batu “Ika Bina in Pabolo” , di Taput “Martabe,” di Karo, di Nias ( Datahaogo Mbanuada),.masyarakat jawa ( Dandane desone dewe- dewe) semua ada istilah membangun kampung halaman.

Bahkan dalam bahasa Cina juga dicari padanan katanya karena Raja Inal ingin menggunakan tradisi ziarah masyarakat Tiongha ( CengBeng)  mengajak mereka saat berziarah tak lupa membangun kampung halamannya.

Sosialisasi dan dampak gerakan ini membumi di persada Nusantara bahkan ke luar negeri dimana ada orang Sumatera Utara.

Sampai kepada Presiden RI Soeharto menyampaikan apresiasi dan kekagumannya atas gerakan ini yang mengajak partisipasi masyarakat (botom up) dalam pembangunan. Ucapan apresiasi ini disampaikan Soeharto dalam pidato resminya pada acara Bulan bakti Desa Tingkat nasional di Deli Serdang tahun 1996.

Karya monumental itu masih ada hingga hari ini terutama lahirnya SMA – SMA Unggul di beberapa Kabupaten. Sayang tak ada lagi Gubernur setelah itu yang meneruskan karya besar bagi percepatan pembangunan dan peningkatan partisipasi masyarakat.

USU Anugerahkan DR HC kepada Raja Inal Siregar.

Pada Senin, 5 Maret 2001 ( 3 tahun) setelah selesai tugas sebagai Gubsu, Raja Inal Siregar dianugerahkan Gelar Kehormatan Doktor Honoris Causa dalam Bidang Ilmu Kemasyarakatan oleh Universitas Sumatera Utara.

Bagi USU memberi gelar DR (HC) tidak royal . Pada saat itu USU tercatat baru 2 orang memberikan gelar DR( HC) yakni Mr.Teuku Muhammad Hasan  ( Gubernur Sumatera

1) dan Raja Inal Siregar.  USU memberikannnya jauh setelah tokoh ini tidak lagi  menduduki jabatan politis supaya tidak dinilai “vested interes”.

Raja Inal Siregar dalam Pidato Pengukuhannya menyebutkan filosofi membangun kampung halaman : “apabila aku membangun kampungku, otomatis aku telah membangun kecamatanku, kabupatenku, terus provinsiku dan akhirnya Indonesiaku…” Bahkan di akhir pidatonya mantan intelijen yang dikenal dimasa aktif militernya , mengingatkan bahwa di tahun-tahun mendatang gerakan dan perhatian Internasional terhadap keberlangsungan lingkungan dan kebudayaan masyarakat adat (indegeius peoples) akan terus semakin menguat.

Reporter: Abdul Aziz

Dari berbagai sumber

Editor: Adm

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

YouTube
Instagram