2 Desember 2021

Kesenangan Hidup Yang Menipu

Search Yahoo, Tamak

Jum’at, 10 September 2021, 09:50 WIB

Medan-Rentaknews.com. Sungguh Allâh SWT dan Rasul-Nya SAW mencela sikap tamak manusia kepada dunia. Bahkan, Allâh Azza wa Jalla sangat merendahkan kedudukan dunia dalam banyak ayat-ayat al-Qur-an.

Firman Allah SWT :

: اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Artinya :

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allâh serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS Al-Hadîd 57:20)

Sebagaimana dalam firmannya QS Al-Hadîd 57:20 bahwa kehidupan dunia ini adalah kehidupan yang menipu.

Hadits Rasulullah SAw :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ [وَعُدَّ نَفْسَكَ مِنْ أَهْلِ الْقُبُوْرِ] وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

Artinya :

Dari Ibnu Umar radhiallohu ‘anhuma beliau berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda: “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir.” Ibnu Umar berkata: “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati.” (HR. Bukhori)

Hadits ini merupakan landasan agar manusia tidak memiliki angan-angan yang panjang di dunia. Orang yang beriman tidak sepantasnya menganggap dunia ini sebagai tempat tinggalnya yang abadi.

Semestinya orang beriman menganggap bahwa hidup di dunia ini bagaikan musafir yang yang sedang menyiapkan bekal bepergian menempuh perjalanan yang teramat panjang. Orang asing atau musafir biasa selalu berhati-hati dan mawas diri, tidak sembarangan berbuat, selalu berprilaku santun, tidak sembarangan bertutur kata, berbuat yang terbaik agar lingkungannya bersikap baik.

Firman Allah SWT :

 يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ

Artinya :

Wahai kaumku! Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. (QS. Ghâfir40:39)

Sesungguhnya orang-orang beriman tidak akan merasa senang dengan kondisinya sekarang, kecuali setelah berada di tengah-tengah keluarganya. Berapa banyak tempat tinggal di bumi yang ditempati seseorang dalam perjalanan sebagai musyafir namun selamanya kerinduannya hanya pada kampung halaman ditengah-tengah keluarga saat kembali (Syurga).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَا لِيْ وَلِلدُّنْيَا؟ مَا أَنَا وَالدُّنْيَا؟! إِنَّمَا مَثَلِيْ وَمَثَلُ الدُّنْيَا كَمَثَلِ رَاكِبٍ ظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

Artinya :

Apalah artinya dunia ini bagiku?! Apa urusanku dengan dunia?! Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan dunia ini ialah seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon, ia istirahat (sesaat) kemudian meninggalkannya. (HR. Ahmad, I/391, 441; at-Tirmidzi, no. 2377)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

كُنْ فِـي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ

Artinya :

Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau seorang musafir.

Seorang musafir akan senantiasa mempercepat perjalanan agar urusannya segera selesai. (HR. Bukhari)

Sesungguhnya kematian akan menyinggahi setiap orang. Oleh karena itu setiap orang wajib untuk memberikan perhatian pada dirinya. Musibah terbesar yang menimpa seseorang adalah kelalaian tentang hakikat ini, kelalaian tentang hakikat dunia yang sebenarnya.

Jika Allah SWT memberi nikmat padamu sehingga engkau bisa memahami hakikat dunia ini, bahwa dunia adalah negeri yang asing, negeri yang penuh ujian, negeri tempat berusaha, negeri yang sementara dan tidak kekal, niscaya hatimu akan menjadi sehat.

Hal ini hendaknya menjadikan hati kita senantiasa bertaubat dan tawadhu kepada Allah SWT. Menjadi orang yang hatinya senantiasa bergantung pada Allah, baik dalam kecintaan, harapan, rasa cemas, dan ketaatan.

Hati harus senantiasa terkait dengan negeri yang penuh dengan kemuliaan yaitu surga. Kita meyakini dan mengetahui surga tersebut seakan-akan berada di depan mata tidak jauh.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ (يَعْنِيْ الْمَوْتَ)

Perbanyaklah oleh kalian mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian) (HR. Ahmad).

Kematian adalah akhir yang pasti akan dialami oleh seluruh makhluk. Kematian adalah pemisah antara kehidupan dunia dan alam barzakh pemutus kelezatan dunia.

Apabila seseorang di dalam hatinya sering mengingat kematian dan bersemangat dalam urusan akhirat karena ia tahu dunia adalah kesenangan yang menipu, sesungguhnya ia masuk ke dalam orang-orang yang berlomba dalam kebaikan dan amalan shalih.

*SEMOGA BERMANFAAT*

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

YouTube
Instagram