2 Desember 2021

Saudi Hormati Pilihan Rakyat Afghanistan

Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid saat mengumumkan kabinet Taliban di Kabul, Selasa (7/9/2021). - (AP/Muhammad Farooq)

Iran juga mendesak dunia internasional agar tidak mencampuri urusan internal Afghanistan.

Jum’at 10 September 2021, 11:05

KAIRO–Rentaknews.com. Arab Saudi berharap bahwa pemerintahan sementara Afghanistan bisa membantu terbangunnya stabilitas dan mengatasi kekerasan serta ekstremisme. Hal ini diungkap Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Faisal bin Farhan dalam sidang kabinet Saudi yang khusus membahas Afghanistan, Rabu (8/9).

Kantor berita Saudi, SPA, melaporkan bahwa Bin Farhan menyatakan dukungan Saudi terhadap “pilihan yang dibuat rakyat Afghanistan terkait masa depan negara mereka, jauh dari campur tangan luar.”  

Saudi berharap, pembentukan pemerintahan sementara di Afghanistan akan menjadi “langkah awal untuk mencapai keamanan dan stabilitas, menolak kekerasan dan ekstremisme, membangun masa depan cerag yang sejalan dengan aspirasi tersebut.”

Taliban mengumumkan susunan pemerintahan sementara pada Selasa (7/9) malam. Mohammad Hasan Akhund ditunjuk menjadi perdana menteri Afghanistan. Namun, susunan kabinet ini mengundang rasa skeptis terutama Barat yang menilai kabinet Afghanistan belum inklusif.

Baca Juga :

Sebelumnya Taliban telah berjanji akan membentuk pemerintahan inklusif dan representatif. Namun dari 33 pejabat pemerintahan baru mereka, tak ada satu pun perempuan. Selain itu, seluruhnya merupakan anggota atau tokoh yang menjalin hubungan dengan Taliban.

Pejuang Taliban berfoto di Panjshir Rabu (8/9/2021). – (AP/Mohammad Asif Khan)

Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian, juga mendesak kepada dunia internasional agar tidak mencampuri urusan internal Afghanistan. Amir-Abdollahian menyoroti pertemuan virtual sejumlah negara yang berbatasan dengan Afghanistan.

Dilansir Sputnik News, Kamis (9/9), prrtemuan virtual terkait Afghanistan itu dihadiri oleh para menteri luar negeri dari Cina, Uzbekistan, Turkmenistan, dan Tajikistan. Amir-Abdollahian mendesak para peserta pertemuan tersebut, untuk menahan diri dan tidak menggunakan kekuatan militer.

Belakangan diketahui bahwa Islamabad telah memberikan dukungan udara dan darat kepada Taliban untuk melawan pasukan Front Perlawanan Nasional Front (NRF) di Provinsi Panjshir.

Beberapa pejabat Afghanistan mengklaim bahwa NRF diserang oleh pesawat tak berawak Pakistan pada pekan ini. Pejuang Taliban telah melancarkan serangan besar-besaran untuk mengambil alih kubu oposisi. Namun NRF mengklaim bahwa mereka telah mampu mengusir kelompok militan Taliban dan masih mengendalikan posisi strategis di Lembah

Pemimpin NRF Ahmad Massoud juga mengecam penggunaan tentara bayaran asing oleh Taliban di Panjshir. Tuduhan bahwa Pakistan memberikan dukungan militer kepada Taliban muncul setelah Kepala Badan Intelijen Pakistan (ISI), Faiz Hameed, melakukan kunjungan publik pertamanya ke Afghanistan. Kunjungan tersebut dilakukan setelah Taliban mengambil alih Kabul pada  15 Agustus.

Juru bicara Kementerian Luat Negeri Iran Saeed Khatibzadeh mengatakan, Amir-Abdollahian menyatakan keprihatinan tentang prospek intervensi asing di Afghanistan. Iran menyerukan pembentukan pemerintahan Afghanistan yang inklusif, dan mencerminkan keragaman serta keinginan rakyat Afghanistan. Iran juga mendukung dialog intra-Afghanistan.

“Semua orang harus tahu bahwa sejarah Afghanistan telah membuktikan bahwa campur tangan asing tidak akan menghasilkan apa-apa selain kegagalan,” kata Khatibzadeh. Rizky Jaramaya

 NRF sebelumnya meminta dunia internasional tak mengakui pemerintahan Taliban. Menurut mereka, pemerintahan yang hanya terdiri dari anggota Taliban dan rekan-rekannya ilegal. “(Pemerintahan Taliban) tanda yang jelas dari permusuhan kelompok itu dengan rakyat Afghanistan,” kata NRF dalam sebuah pernyataan pada Selasa, dikutip laman BBC.

Sementara itu Perdana Menteri Italia Mario Draghi membahas krisis Afghanistan dengan Presiden Turki Tayyip Erdoğan. Pertemuan ini dilakukan menjelang pertemuan G-20 yang akan digelar di Roma pada 30 hingga 31 Oktober mendatang.

Pada Kamis (9/9) kantor kepresidenan Italia mengatakan,  dalam percakapan ‘komprehensif’ melalui sambungan telepon itu kedua pemimpin mengeksplorasi kemungkinan langkah yang dapat diambil masyarakat internasional termasuk G-20 mengenai Afghanistan. Dalam kesempatan ini Draghi juga kembali mengundang Erdogan ke pertemuan G-20.

Sebelumnya Menteri Luar Negeri Italia Luigi Di Maio mengatakan Taliban harus dinilai dari perbuatannya bukan kata-katanya. “Pendekatan Italia serupa dengan pendekatan di tingkat Eropa, dalam pertemuan informal menteri-menteri luar negeri di Slovenia pekan lalu kami membahas hal ini,” katanya di hadapan Senat Italia, Rabu. 

Sumber Berita : https://www.republika.id/posts/20162

Editor : Adm

Please follow and like us:
Pin Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

YouTube
Instagram